Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dolar Melonjak, Harga Kemasan Melejit 30 Persen, UMKM Olahan Pangan di Bali Mulai Ngos-ngosan

Marsellus Pampur • Minggu, 31 Mei 2026 | 06:54 WIB
SEMAKIN WASWAS TERJEPIT DOLAR  : Aktivitas pedagang UMKM di Pasar Badung, Denpasar. (Marsello Pampur)
SEMAKIN WASWAS TERJEPIT DOLAR  : Aktivitas pedagang UMKM di Pasar Badung, Denpasar. (Marsellus Pampur)

DENPASAR, Radar Bali.id - Otot rupiah yang kian loyo terhadap dolar AS mulai memicu efek domino yang mencekik para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Pulau Dewata. 

Baca Juga: Kurs Rupiah Dekati Rp 17.800 per Dollar, IHSG Rawan Lanjutkan Koreksi ke Level 6.300

Jeritan melambungnya biaya produksi kini mulai disuarakan oleh para pengusaha lokal yang ruang geraknya kian terjepit akibat fluktuasi kurs mata uang asing tersebut.

Kondisi pelik ini diakui langsung oleh Vidya Prama Suganda, 38, salah satu pelaku UMKM sektor kuliner asal Kabupaten Buleleng.

 Baca Juga: Dollar Tembus Rp17.000, Begini Analisis Akademisi Terkait Dampaknya Bagi Ekonomi Kita ke Depan

Pria yang menakhodai usaha olahan pangan kering dengan bendera RY Kitchen Bali ini mengaku, dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah ini sudah mulai merembet dan menggerogoti stabilitas bisnisnya.

Dampak buruk tersebut tidak hanya memukul satu sektor saja, melainkan menyasar rantai produksi dari hulu ke hilir. ”Sangat berdampak sekali bagi kami di sektor UMKM. Saat ini harga bahan baku di pasaran sudah mulai merangkak naik,” keluh Suganda saat dikonfirmasi pada Jumat, 29/5/2026.

Ironisnya, tantangan tidak berhenti pada bahan baku makanan saja. Plastik kemasan (packaging) yang berfungsi penting untuk membungkus produk olahannya agar menarik di mata konsumen, kini harganya ikut melonjak ugal-ugalan. Suganda membeberkan bahwa kenaikan harga plastik kemasan tersebut sudah menyentuh angka yang cukup fantastis, yakni berkisar kurang lebih 30 persen.

”Bahan baku utama naik, dan sekarang diperparah dengan plastik kemasan yang ikut-ikutan mahal,” keluhnya.

Hantaman bertubi-tubi ini memaksa Suganda harus memutar otak lebih keras agar dapur produksinya tetap ngebul dan roda bisnisnya tidak gulung tikar. Strategi dilematis pun terpaksa diambil. Demi menyelamatkan usahanya tanpa harus kehilangan pelanggan setia maupun jaringan reseller, ia memilih opsi populer namun berisiko: menaikkan harga jual produk ke pasaran.

 

Langkah menaikkan harga ini dinilai paling rasional mengingat modal dan biaya operasional yang dikeluarkan sudah membengkak terlampau jauh. ”Karena biaya produksi meningkat tajam, mau tidak mau, agar bisa bertahan harga jual produk terpaksa saya naikkan lagi,” cetusnya dengan nada pasrah.

 

Akibat situasi yang tidak menentu ini, manajemen RY Kitchen Bali kini diselimuti kecemasan mendalam. Apalagi, kondisi ekonomi saat ini secara perlahan mulai menggerus daya beli masyarakat yang berimbas pada menurunnya volume omzet penjualan.

Meski dibayangi awan mendung, Suganda sedikit bernapas lega karena kebijakan menaikkan harga jual tersebut tidak mendapat resistensi dari mitra bisnisnya. ”Astungkara, sejauh ini tidak ada komplain atau protes dari para reseller maupun partner UMKM kami. Mereka sangat memaklumi dan mengerti betul dengan kondisi ekonomi yang menjepit saat ini,” tutupnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#efek domino #kurs rupiah dolar #umkm #mata uang #ekonomi