MANGUPURA, Radar Bali.id – Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Bali tancap gas mendorong anggotanya agar berani bermain di pasar internasional.
Langkah ini dimatangkan lewat Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Connecting Local Potential to Global Markets" yang digelar oleh Bidang IV Perindustrian dan Perdagangan BPD HIPMI Bali di kawasan Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, pada Jumat (5/6/2026).
Tak main-main, FGD ini menghadirkan langsung Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI, Dyah Roro Esti, 33, sebagai pembicara utama.
Di hadapan ratusan pengusaha muda di Bali, Roro Esti mendorong para pelaku usaha lokal untuk jeli melihat peluang ekspor. Ia menegaskan, Kementerian Perdagangan siap pasang badan sebagai mediator untuk memfasilitasi para pelaku usaha dengan pembeli potensial (potential buyers) di luar negeri.
Menariknya, Roro Esti menyebut fluktuasi nilai tukar rupiah yang tengah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini justru harus dimanfaatkan sebagai momentum emas bagi para eksportir.
”Ternyata ada berkahnya juga. Dengan kondisi (rupiah melemah) seperti ini, kami justru mendorong (we are encouraging) seluruh pelaku usaha untuk gencar melakukan ekspor. Karena pada prinsipnya, dari transaksi ekspor itu pelaku usaha bisa mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi. Ini yang kita harapkan,” ujar Wamendag berparas ayu ini kepada awak media selepas acara pada Jumat siang, pukul 14.00 Wita.
Ia menambahkan, Bali memiliki sederet komoditas non-konvensional yang kini sedang naik daun dan sangat potensial di pasar global. Di sektor agriculture (pertanian), misalnya, produk kopi dan cokelat (kokoa) asli Pulau Dewata tengah menjadi primadona. Bahkan, Roro Esti memuji kemasan (packaging) cokelat batangan produksi Bali yang dinilainya sudah sangat premium dan mampu bersaing dengan brand cokelat internasional.
Bak gayung bersambut, dorongan dari Kemendag ini diapresiasi tinggi oleh Ketua Umum BPD HIPMI Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih, 32. Pria yang akrab disapa Ajus Linggih ini menyampaikan terima kasih karena pemerintah selama ini aktif membuka akses koneksi bagi pengusaha muda Bali dengan jaringan bisnis luar negeri.
Ajus menyebut, komoditas asal Bali yang paling konsisten menembus pasar ekspor sejauh ini didominasi oleh sektor kriya (handicraft, furnitur kayu) dan industri fashion. Namun ke depan, HIPMI Bali bakal menggenjot sektor pertanian sebagai target baru.
”Kami punya banyak teman-teman pengusaha di HIPMI yang bergerak di bidang agriculture, terutama penghasil kokoa dan kopi berkualitas tinggi. Sektor inilah yang akan menjadi target bidikan ekspor kami berikutnya ke pasar internasional," pungkas Ajus didampingi jajaran pengurus harian BPD HIPMI Bali.[*]
Editor : Hari Puspita