Menjelang Hari Raya Galungan yang tinggal hitungan hari, atmosfer persiapan sarana dan prasarana persembahyangan umat Hindu di Bali mulai terasa. Sayangnya, geliat religius ini tidak berbanding lurus dengan kantong para pedagang musiman maupun perajin alat upacara. Penjualan perlengkapan ritual jelang Galungan kali ini justru dilaporkan terjun bebas.
FAKTA pahit itu seperti dialami Sang Ayu Nasib Arini, 45. Wanita pedagang sekaligus perajin peralatan persembahyangan di Desa Tegalasah, Kecamatan Tembuku, Bangli, mengeluhkan kondisi lesunya pasar saat ditemui di tokonya pada hari Senin, 8 Juni 2026.
Baca Juga: Daya Beli Masyarakat Anjlok, Dua Lantai Pasar Ijogading, Jembrana, Sepi
Ia menuturkan, permintaan barang seperti pelangkiran, keben, dulang, dan sejenisnya sempat melonjak drastis pada Januari 2026 lalu. Namun memasuki April 2026, grafis penjualan terus merosot hingga awal Juni 2026 ini.
Padahal, momen menjelang Galungan biasanya menjadi masa panen raya bagi para perajin lokal. ”Sepi sekali mulai akhir Maret 2026 lalu. Selain menjual sendiri di toko, saya juga memasok ke toko-toko lain di luar daerah. Kondisinya sama saja, semua mengeluh sepi,” ungkapnya dengan nada lesu sekitar pukul 11.00 Wita.
Baca Juga: Daya Beli Menurun, Pasar Umum Negara Sepi Pembeli dan Pedagang, Kepala UPTD Pasar Pusing
Perempuan paruh baya ini membeberkan, dalam kondisi normal dirinya rutin mengirim sarana upacara hingga satu mobil pikap penuh ke wilayah Klungkung dan Gianyar, minimal seminggu dua kali. Sekarang, ceritanya berbalik seratus delapan puluh derajat. Banyak barang dagangannya yang terpaksa dibawa pulang kembali lantaran toko-toko retail masih memiliki stok yang menumpuk.
”Biasanya satu pikap itu omzetnya bisa tembus sekitar Rp 8 juta sekali jalan. Sekarang karena pasar sepi, hanya laku Rp 4 juta saja. Setengah pikap barang terpaksa dibawa pulang lagi,” tuturnya merinci kerugian operasional yang harus ditanggung.
Menurut Sang Ayu, penurunan daya beli masyarakat ini dipicu oleh kondisi ekonomi makro yang sedang tidak baik-baik saja. Kondisi ini diperparah dengan menjamurnya sistem penjualan online (e-commerce) yang memicu perang harga.
Padahal, harga produk kerajinan yang ia tawarkan tergolong sangat kompetitif, yakni mulai dari Rp 30 ribu per buah. ”Biasanya warga dari Karangasem yang paling sering datang langsung memborong ke sini. Sekarang benar-benar sepi,” tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita