DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Menoleh ke belakang, bayang-bayang pandemi memberikan pelajaran berharga bagi Pulau Dewata: ketergantungan mutlak pada satu sektor adalah kerapuhan yang nyata. Memasuki pertengahan tahun 2026, potret ekonomi Bali menunjukkan dualisme yang menarik.
Di satu sisi, kinerja fiskal daerah mencatatkan rapor hijau yang impresif. Namun di sisi lain, alarm struktural kembali berbunyi, mendesak Bali untuk segera beralih dari sekadar tourism-led growth menuju hilirisasi industri dan ekonomi berkelanjutan.
Rangkuman mendalam mengenai dinamika ekonomi menyebutkan, performa APBN, serta urgensi transformasi struktural di Bali berdasarkan data terkini dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali dan studi akademis terbaru.
Selama lebih dari satu dekade, ekonomi Bali didominasi oleh sektor akomodasi, makan-minum, dan aktivitas pariwisata. Berdasarkan studi Extended Regional Input-Output oleh akademisi Ni Putu Wiwin Setyari, dominasi ini menciptakan kerentanan tinggi terhadap shock global.
- Stagnasi Manufaktur: Sektor industri pengolahan Bali hanya bergerak di kisaran rendah, yaitu 6–7 persen dari total struktur ekonomi daerah pada tahun 2025/2026.
- Tingginya Import Leakage: Manfaat ekonomi pariwisata belum optimal karena lemahnya keterkaitan domestik (backward and forward linkages). Banyak bahan baku pendukung pariwisata yang masih didatangkan dari luar Bali.
- Sektor Kunci yang Sebenarnya: Menariknya, analisis Input-Output menunjukkan bahwa meski pariwisata (Akomodasi & Makan Minum) menjadi pusat perputaran uang (multiplier = 2,769), sektor ini bukan sektor kunci. Sektor kunci strategis Bali yang memiliki keterkaitan tinggi justru ada pada sektor Listrik & Gas, Transportasi, serta Informasi & Komunikasi.
Oleh karena itu, integrasi antara pariwisata dengan manufaktur lokal dan agroindustri (hilirisasi) menjadi harga mati untuk menahan kebocoran ekonomi (import leakage) dan menciptakan lapangan kerja formal yang lebih stabil.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, merilis indikator makro ekonomi Bali per Juni 2026.
”Secara umum, ekonomi Bali masih memperlihatkan daya resiliensi yang baik, meski ada beberapa catatan merah pada sektor pariwisata,” papar Agus, dalam forum Bali Fiscal Insight 2026 di Aula A Gedung Keuangan Negara (GKN) Renon, Selasa 23 Juni 2026.
Dijelaskan, secara tahunan (year-on-year/y-on-y), ekonomi Bali pada Triwulan I-2026 tumbuh 5,58 persen. Angka ini sebutnya, sedikit melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, namun tetap berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,61 persen. Sementara secara triwulanan (q-to-q), Bali mengalami kontraksi musiman sebesar 4,57 persen, sebuah siklus normal pasca-liburan akhir tahun.
Ia memaparkan, data kunjungan wisatawan periode Januari–April 2026 menunjukkan dinamika baru:
- Kunjungan Wisman & Wisnus Turun Tipis: Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) turun 1,11 persen (menjadi 1,81 juta kunjungan) dan wisatawan nusantara (wisnus) turun 1,34 persen (menjadi 8,70 juta perjalanan).
- Oversupply Kamar & Polarisasi Hotel: Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel non-bintang merosot ke angka 34,81 persen pada April 2026. Hal ini dipicu oleh membanjirnya supply akomodasi baru di Bali. Pasar kini terpolarisasi; hotel bintang 5 dan 4 tetap stabil karena diburu pasar mewah, sementara hotel non-bintang mulai ditinggalkan karena wisatawan budget-friendly kini lebih selektif mencari kepastian fasilitas.
- Durasi vs Pengeluaran: Rata-rata lama tinggal wisman di Bali menurun dari 12,98 malam menjadi 11,90 malam. Sisi baiknya, rata-rata pengeluaran mereka per malam justru meningkat menjadi Rp2,11 juta, lebih tinggi dari rata-rata pengeluaran wisman nasional (Rp1,93 juta). Koreksi pengeluaran terbesar terjadi pada sektor makan-minum, sementara peningkatan terbesar ada pada sektor hiburan (entertainment).
Kinerja Fiskal Regional: APBN Bali Catat Surplus Rp679,98 Miliar
Di tengah fluktuasi sektor pariwisata, pengelolaan keuangan negara di wilayah regional Bali menunjukkan performa yang sangat sehat hingga Mei 2026.
Tabel Realisasi I-Account APBN Provinsi Bali (s.d. 31 Mei 2026)
|
Uraian Keuangan |
Realisasi (Rupiah) |
Pertumbuhan (YoY) |
% Capaian Pagu |
|
Pendapatan Negara |
Rp9,36 Triliun |
+7,89% |
30,79% |
|
Belanja Negara |
Rp8,68 Triliun |
+7,31% |
41,84% |
|
Surplus Anggaran |
Rp679,98 Miliar |
+15,84% |
- |
Penerimaan Pajak Sektoral: Perdagangan Memimpin
Hingga Mei 2026, kontribusi pajak bersih (neto) terbesar di Bali disumbang oleh sektor Perdagangan (17,70%), disusul rapat oleh sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (16,34%). Sementara itu, sektor Industri Pengolahan berada di posisi ketiga dengan kontribusi 6,88% (Rp483,91 Miliar), menegaskan kembali bahwa hilirisasi industri manufaktur di Bali masih memiliki ruang sangat besar untuk dipacu.
Pembangunan Infrastruktur Lewat Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)
Hingga Mei 2026, total pembiayaan pembangunan di Bali yang didanai melalui skema SBSN mencapai Rp333,6 Miliar. Beberapa proyek strategis yang didanai antara lain:
- Universitas Udayana (Rp100 Miliar): Gedung Lab dan Pengadaan Alat Laboratorium.
- Universitas Pendidikan Ganesha (Rp59,59 Miliar): Peralatan Pendidikan.
- Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Bali (Rp105 Miliar): Pembangunan jalan Singaraja - Mengwitani.
Potensi Ekonomi Karbon Mangrove Tahura
Salah satu terobosan besar dalam mendorong diversifikasi ekonomi non-pariwisata di Bali adalah penilaian aset Sumber Daya Alam (SDA) di Kawasan Konservasi Tahura Ngurah Rai. Melalui skema Carbon Pricing (Nilai Ekonomi Karbon), hutan mangrove Bali kini diproyeksikan sebagai sumber pendapatan hijau (green economy) yang masif.
Dengan total potensi serapan karbon mencapai 2.464.460,29 ton CO2 equivalent, estimasi nilai ekonomi ekosistem ini sangat fantastis jika diperdagangkan:
- Berdasarkan standar World Bank ($44/metrik ton): Bernilai Rp1,709 Terakhir.
- Berdasarkan Biaya Sosial (Social Cost): Bernilai Rp423,26 Miliar.
- Berdasarkan Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon): Bernilai Rp144,91 Miliar.
Langkah ini membuktikan bahwa dengan menjaga kelestarian lingkungan, Bali tidak hanya merawat alam tetapi juga mampu menciptakan sumber pendapatan daerah baru di luar pariwisata konvensional.
Pembicara lainnya yakni, Kakanwil DJPB Provinsi Bali Supendi dan Local Expert Ni Putu Wiwin Setyari, menyajikan data-data pertumbuhan dan peluang emas baru perekonomian Bali kedepan.***
Editor : M.Ridwan