NEGARA, Radar Bali.id – Penerapan sistem pembayaran nontunai atau e-money di Terminal Manuver Gilimanuk dan Terminal Penumpang Gilimanuk terus dievaluasi secara berkala.
Kendati masih menyisakan sejumlah kendala teknis di lapangan, Bidang Perhubungan Dinas Perhubungan Jembrana mengklaim sistem baru ini sukses mendongkrak pendapatan daerah secara signifikan.
Kepala Bidang Perhubungan Jembrana, I Gusti Putu Widana mengungkapkan, sejak sistem e-money resmi diberlakukan di dua terminal Kelurahan Gilimanuk tersebut, persentase pendapatan melonjak hingga kisaran 50 persen.
Sebelum sistem digital ini diterapkan, rata-rata pendapatan terminal hanya berada di angka Rp300 juta per bulan. Namun pasca-penerapan e-money, pundi-pundi daerah melesat hingga mencapai Rp500 juta lebih per bulan.
Baca Juga: Jadi Desa Wisata Berbasis Digital, Kenalkan Sistem Pembayaran QRIS
Meski mencatatkan tren positif, evaluasi berkala tetap berjalan karena sistem ini masih menemui kendala teknis. Salah satunya pada akurasi sensor pembaca jenis kendaraan. Dalam beberapa kali kejadian, kendaraan roda dua justru otomatis terbaca sebagai mobil oleh sistem.
”Ini masih kami pelajari bersama vendor agar ke depan pembacaan sensor bisa lebih akurat,” jelas Widana.
Bukan hanya kendala sistem, kendala sosial juga muncul dari para pengguna sepeda motor yang sebagian besar belum terbiasa bertransaksi menggunakan kartu e-money. Mengantisipasi hal tersebut, petugas Dishub disiagakan di lapangan untuk mendampingi proses transaksi.
”Kalau pengendara mobil sudah biasa karena sehari-hari mereka pakai e-tol. Pengendara motor memang yang masih perlu pendampingan,” tambah Widana.
Dishub Jembrana berharap, melalui perbaikan sistem berkelanjutan dan peningkatan kesiapan pengguna, penerapan e-money di dua terminal Gilimanuk ini ke depannya dapat berjalan lebih maksimal dan berkelanjutan. [*]
Editor : Hari Puspita