Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Harga Pertamax dan Bumbu Dapur Melejit, Inflasi Bali Cetak Rekor Tertinggi dalam 3 Tahun

Dhian Harnia Patrawati • Kamis, 2 Juli 2026 | 09:58 WIB
Inflasi Bali hingga tengah tahun sudah mendekati target maksimal tahunan. Alarm keras untuk TPID untuk menjaga stabilitas harga.
Inflasi Bali hingga tengah tahun sudah mendekati target maksimal tahunan. Alarm keras untuk TPID untuk menjaga stabilitas harga.

 

RADAR BALI - Tekanan ekonomi di Pulau Dewata kian memanas pada pertengahan tahun ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali resmi merilis data perkembangan harga periode Juni 2026 yang menunjukkan lonjakan inflasi cukup signifikan.

Akumulasi kenaikan harga sejak awal tahun tergolong agresif, sehingga memicu peringatan dini bagi stabilitas ekonomi daerah.

Berdasarkan data Berita Resmi Statistik (BRS), laju inflasi Bali sejak awal tahun hingga pertengahan tahun ini menunjukkan tekanan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) periode Januari–Juni 2026 kini telah menyentuh angka 2,06%.

Angka akumulasi ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan periode Januari–Juni 2025 yang hanya berada di angka 1,70%.

Realisasi ini menjadi alarm keras bagi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bali. Dengan sisa enam bulan ke depan, Bali telah menghabiskan sebagian besar "kuota" target inflasi tahunan yang dipatok oleh pemerintah pusat, yakni sebesar $2,5\% \pm 1\%$.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), Bali mencatat inflasi sebesar 0,71% pada Juni 2026. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) melesat hingga 3,27%, memposisikannya sebagai catatan inflasi Juni tertinggi bagi Bali dalam tiga tahun terakhir.

Efek Perkawinan Galungan dan Kenaikan Pertamax

Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menjelaskan bahwa tingginya angka inflasi pada bulan Juni ini dipicu oleh dua momentum besar yang terjadi secara bersamaan, yaitu Hari Raya Galungan dan kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

"Yang pertama Galungan. Galungan kan pasti inflasi. Komoditasnya makanan, minuman, dan tembakau itu komoditas utama dengan andil besar karena bobotnya paling besar. Yang kedua tadi ada kenaikan BBM nonsubsidi, jadi berlipat-lipat dorongannya untuk kenaikan harga," ujar Agus Gede Hendrayana Hermawan, Rabu (1/7/2026).

Komoditas bensin, khususnya Pertamax dan Pertamax Green yang mengalami penyesuaian harga per 1 Juni, menjadi motor utama inflasi bulanan dengan tingkat inflasi mencapai 6,04% dan memberikan andil sebesar 0,31%.

Di sektor pangan dan adat, kenaikan harga tertinggi dicatatkan oleh bawang putih yang mengalami inflasi 15% (andil 0,07%) dan bawang merah sebesar 14,38% (andil 0,10%), disusul kebutuhan sarana upacara seperti canang sari serta daging babi.

Di sisi lain, laju inflasi sedikit tertahan oleh andil deflasi dari penurunan harga komoditas seperti sawi hijau, cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, tauge, serta ikan tongkol dan cakalang.

Ketimpangan Spasial dan Ancaman Efek Jangka Panjang

Jika dibedah secara kewilayahan, tekanan harga terjadi merata di seluruh daerah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali, namun dengan dinamika yang bervariasi.

Anomali menarik terjadi di Kabupaten Tabanan yang justru mencatat inflasi bulanan tertinggi di Bali sebesar 0,92% mtm, disusul Kota Denpasar sebesar 0,75% mtm, dan Kabupaten Badung sebesar 0,69% mtm.

Sementara itu, Kabupaten Buleleng menjadi wilayah yang paling stabil dengan tingkat inflasi bulanan terendah, yakni sebesar 0,46% mtm.

Tantangan terbesar bagi TPID Bali di semester II adalah mengantisipasi dampak lanjutan dari kenaikan BBM nonsubsidi.

Berbeda dengan inflasi musiman Galungan yang harganya bisa segera melandai, kenaikan sektor energi memiliki efek rembesan yang lambat namun bertahan lama pada rantai distribusi barang.

"Dalam jangka panjang bisa jadi, karena hampir semua pergerakan perekonomian kan membutuhkan itu ya. Orang mau mengangkut bahan bakunya, orang mengangkut bahan jualannya, dan sebagainya. Tapi yang subsidi kan belum," imbuh Agus terkait potensi efek domino kenaikan BBM nonsubsidi terhadap komoditas lainnya.

Dengan ruang gerak yang semakin menyempit di paruh kedua tahun 2026, TPID Bali dituntut untuk memperketat pengawasan rantai pasok pangan antar-pulau dan menjaga stabilitas ongkos logistik.

Langkah mitigasi yang agresif sangat diperlukan agar target inflasi akhir tahun di Pulau Dewata tidak jebol, terutama menjelang siklus libur Natal dan Tahun Baru mendatang.***

Editor : Ibnu Yunianto
#Inflasi Bali 2026 #harga pangan bali #harga bbm naik #ekonomi bali #bps bali