RADAR BALI – Pemerintah berencana menggarap proyek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas mencapai 100 Gigawatt (GW).
Proyek tersebut akan disebar dengan pemasangan PLTS skala kecil hingga menengah berkapasitas 1 MW per desa/kelurahan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Bali akan menjadi prioritas dalam proyek listrik surya satu desa 1 MW tersebut.
Hal tersebut sesuai dengan komitmen energi hijau melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Mandiri Energi dengan Fokus Energi Bersih.
Selain itu, luas Bali yang terbatas membuat pembangkit surya skala gigaWatt di satu titik tidak memungkinkan. Karena itu, penyebaran PLTS 1 MW dan pemanfaatan listrik atap sangat sesuai untuk Bali.
Sektor industri pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian Bali didorong untuk bertransisi menggunakan energi bersih guna memenuhi standar keberlanjutan internasional.
Meski demikian, biaya proyek diyakini akan menjadi kendala karena pembangunan PLTS masih sangat mahal. Biaya pembangunan PLTS berkapasitas 1 MW di area yang telah memiliki jaringan listrik PLN mencapai Rp 10-15 miliar.
Sedangkan pembangunan PLTS 1 MW untuk daerah yang belum terjangkau listrik PLN mencapai Rp 30-35 miliar karena dibutuhkan baterai untuk menyimpan listrik yang hasilkan.
Saat ini, beban puncak kelistrikan Bali mencapai 1.000 MW hingga 1.200 MW sedangkan potensi PLTS atap di Bali mencapai 4.800 MW.
Pemprov Bali dan PLN Icon Plus telah menyepakati pembangunan PLTS atap hingga 500 MW secara bertahap.
Meski demikian, Bali juga menjadi lokasi proyek PLTS skala komersial, yakni proyek Medco Solar Bali di Karangasem dan Jembrana (2 x 25 MW), serta PLTS Karangasem & Bangli (2 MW).***
Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali