DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Polemik macet panjang di Gilimanuk dan Ketapang berpotensi membuat perekonomian di Bali terganggu.
Menanggapi insiden ini, akademisi Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Prof. Ida Bagus Raka Suardana menerangkan, selama ini Bali sangat tergantung pada Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk sebagai pintu kendaraan distribusi barang.
"Gangguan berulang tidak hanya memperlambat arus truk, tetapi meningkatkan biaya angkut, biaya persediaan, risiko kerusakan barang, dan ketidakpastian usaha," kata Prof. Raka, Rabu (30/9/2026).
Pada bulan September 2026, antrean bahkan sempat mencapai 12 km di Ketapang dan 6,6 km di Gilimanuk.
Jika berulang ingat dia, dampaknya dapat merembet ke harga, produksi, pariwisata, UMKM, dan daya saing Bali secara keseluruhan, terutama ketika aktivitas ekonomi sedang meningkat.
Sektor paling rentan adalah perdagangan pangan, restoran, hotel, UMKM kuliner, pasar tradisional, serta industri yang menggunakan bahan baku dari Jawa. Barang mudah rusak seperti sayuran, ikan, daging, and buah menghadapi risiko kehilangan kualitas ketika truk tertahan berjam-jam.
"Pada September 2026, dilaporkan ikan hidup mengalami kekurangan oksigen dan sayuran mulai membusuk akibat antrean," jelasnya.
Sektor akomodasi dan makan-minum menyumbang 22,27 persen PDRB Bali 2025, sehingga gangguan pasokan berpotensi menimbulkan efek berantai yang cukup besar sekaligus meningkatkan biaya operasional pelaku usaha.
"Ya, tetapi besarnya dampak inflasi bergantung pada durasi gangguan, stok pedagang, dan kemampuan mencari pasokan alternatif. Gangguan beberapa jam biasanya lebih dahulu meningkatkan biaya distribusi jika berlangsung beberapa hari, tekanan harga dapat diteruskan kepada konsumen," bebernya.
Sebagai konteks, inflasi Bali Juni 2026 tercatat 3,27 persen secara tahunan dan 0,71 persen secara bulanan. Karena konsumsi rumah tangga menyumbang 51,68 persen ekonomi Bali, kenaikan harga kebutuhan pokok relatif cepat memengaruhi daya beli masyarakat.
"Terutama pada komoditas segar yang memiliki persediaan terbatas," terangnya.
Menurut Prof. Raka, akar persoalannya bersifat struktural pertumbuhan volume kendaraan, kapasitas dan kondisi dermaga, pola operasi kapal, pekerjaan revitalisasi, cuaca, serta koordinasi antarpemangku kepentingan (stakeholder).
Pada September 2026, ASDP menyebut volume kendaraan logistik meningkat 16 persen dibanding periode sebelumnya, bersamaan dengan pekerjaan peningkatan kapasitas dermaga.
Ia menyarankan adanya solusi jangka panjang. Seperti perlu mencakup ekspansi kapasitas pelabuhan, sistem antrean digital, manajemen truk, buffer logistik, integrasi data, dan koordinasi lintas wilayah yang konsisten untuk memperkuat ketahanan distribusi Bali secara menyeluruh secara nasional.
Gangguan berulang berpotensi memengaruhi daya saing karena investor dan pelaku pariwisata membutuhkan kepastian waktu, biaya, serta ketersediaan barang. Bali memiliki ekonomi yang sangat bergantung pada sektor jasa akomodasi dan makan serta minum menyumbang 22,27 persen PDRB 2025."Oleh karena itu, pemerintah perlu membangun sistem logistik multimoda," tegasnya.
Ia menambahkan, perlunya memperkuat Gilimanuk dan pelabuhan alternatif, meningkatkan konektivitas laut. Harapannya memperbaiki pergudangan dan cold chain, serta mengembangkan pusat distribusi regional.
"Diversifikasi akan mengurangi risiko konsentrasi pada satu koridor, serta menjaga kualitas pelayanan pariwisata dan investasi," lanjutnya.
Prof. Raka menilai rangkaian antrean berulang menunjukkan bahwa ketahanan logistik Bali masih memiliki kerentanan, terutama ketika satu koridor utama terganggu.
Pemerintah perlu mempercepat diversifikasi jalur distribusi sekaligus memperkuat produksi lokal. Pertanian, peternakan, perikanan, and industri pengolahan Bali harus diarahkan untuk memenuhi lebih banyak kebutuhan hotel, restoran, pasar, and UMKM.
Dengan begitu, Bali tidak hanya mengurangi ketergantungan pasokan dari Jawa, tetapi juga menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, and rantai pasok lokal yang lebih tangguh.
"Secara berkelanjutan and terukur," tegasnya.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com