Eka Prasetya, Buleleng
SEJUMLAH karangan bunga berderet di Banjar Dinas Delod Margi, Desa Nagasepeha. Rumah itu terletak di dekat jalan tanjakan, menuju lokasi penglukatan Kayehan Dedari di Desa Nagasepaha.
Di rumah sederhana itu I Ketut Santosa, 51, tinggal sekaligus menjalankan profesinya sebagai pelukis wayang kaca gaya Nagasepaha. Santosa dikenal sebagai salah seorang maestro lukis kaca di Bali Utara.
Santosa merupakan keturunan dari Jro Dalang Diah, maestro lukis kaca gaya Nagasepaha. Nama Santosa moncer sejak tahun 1999 lalu. Dia berani mendobrak pakem wayang lukis kaca yang tradisional. Santosa membuat lukisan kaca dengan gaya kontemporer. Dari sana namanya naik daun. Hingga ia beberapa kali diundang menyelenggarakan pameran tunggal dan pameran bersama, untuk menampilkan karya-karyanya yang kontemporer.
Namun kini Santosa telah menghembuskan nafas terakhir. Dia terlibat kecelakaan lalu lintas pada Rabu (23/11) lalu di Jalan Raya Singaraja-Denpasar, tepatnya di Desa Baturitir, Kecamatan Baturiti. Tatkala itu Santosa hendak menuju Denpasar, mengikuti pameran IKM Bali Bangkit yang dilaksanakan di Taman Budaya Bali.
Saat itu mendiang membawa lima buah karya lukisan kaca. Sebanyak empat buah diantaranya berukuran 21x29 centimeter, sedangkan sebuah karya lainnya berukuran 40x60 centimeter. Karya yang berukuran besar itu merupakan lukisan Dewa Siwa. Lukisan itu digendong di punggung, sepanjang perjalanan menuju Denpasar.
Petaka itu muncul tatkala ia melintas di wilayah Desa Baturiti. Mendiang yang mengendarai sepeda motor, bersenggolan dengan pengendara lain. Santosa sempat dilarikan ke RSU Semara Ratih. Dari sana ia dirujuk ke RSUD Mangusada Badung. Setelah dirawat selama tiga hari, mendiang menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu (26/11) malam.
Tatkala Jawa Pos Radar Bali berkunjung ke rumah duka, suasana haru sangat terasa. Istri mendiang, Ni Nyoman Ari Suteni sibuk menyapa warga yang melayat. Wartawan ini disambut Made Wijana, 28, putra mendiang Santosa.
“Bapak waktu itu berangkat jam 07.00 pagi. Saya sendiri yang menyiapkan jas hujan bapak, menaruh barang di motor, memanaskan motor, saya juga membantu bapak mengikat tali biar nyaman gendong lukisan di punggung,” kata Wijana.
Wijana menuturkan, ayahnya tahun ini mendapat beberapa undangan pameran. Salah satunya pameran bersama pada ajang Bali Megarupa. Serta pameran IKM Bali Bangkit pada edisi kelima hingga edisi kesembilan.“Edisi kesebelas ini kebetulan ada meja kosong. Makanya bapak berencana ikut. Rencananya mau pulang malam hari itu, atau paling lambat besok paginya,” tutur Wijana yang juga guru di SMPN 1 Sukasada itu.
Lebih lanjut Made Wijana menuturkan, sang ayah berkecimpung di dunia lukis kaca sejak masih anak-anak. Ayahnya mewarisi keahlian Jro Dalang Diah, maestro lukis kaca gaya Nagasepaha. Jro Dalang Diah mengenalkan teknik melukis pada kaca. Tokoh yang muncul dalam lukisan tersebut adalah tokoh-tokoh pewayangan.
Gaya lukis itu kemudian menyebar ke seantero Desa Nagasepaha. Teknik itu kemudian diwarisi pada anak cucunya. Salah seorang yang mewarisi adalah I Ketut Santosa yang juga cucu dari Jro Dalang Diah.
Dalam perjalanannya, Santosa bukan hanya melukis wayan kaca dengan gaya tradisional. Sesuai dengan pakem-pakem pewayangan. Pada tahun 1999 ia mulai melukis dengan gaya kontemporer. Tokoh-tokoh pewayangan dihadirkan dalam bentuk karya lukis yang penuh kritik, maupun melukis dengan gaya-gaya karikatur.
Karya lukis dengan gaya kontemporer pertama bertema protes keberadaan PLTGU Pemaron. Karya lukis itu menghadirkan beberapa tokoh pewayangan, salah satunya Twalen, yang dilukiskan ikut demo menentang keberadaan PLTGU Pemaron.
Sejak saat itu namanya melejit di dunia seni rupa. “Bapak lebih dikenal dengan karya-karya kontemporer. Karya dengan gaya klasik itu juga tetap dijalani sama bapak. Cuma kalau lukisan dengan gaya klasik itu cenderung di lokal saja. Sedangkan yang kontemporer itu ada karya bapak yang sampai dibawa ke Perancis,” ujar Wijana yang alumnus Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) itu.
Belakangan Santosa terus mengembangkan tekniknya dalam melukis kaca. Ia bukan hanya melukis pada media kaca yang berbentuk datar. Tapi juga ke media-media kaca yang berbentuk unik. Sebut saja media toples kaca yang ia sulap jadi karya seni. Ada pula gelas kaca yang diolah menjadi sebuah karya.
“Bapak suka bereksplorasi. Kalau ada medium kaca yang unik, dibeli sama bapak. Ada juga kaca bekas, kadang dipungut dijadikan media lukis. Termasuk wadah merica bubuk juga dieksplorasi,” ujarnya.
Mendiang I Ketut Santosa kini disemayamkan di rumah duka yang terletak di Banjar Dinas Delod Margi, Desa Nagasepaha. Ia meninggalkan istri, dua orang anak, serta seorang cucu. Rencananya keluarga akan menyelenggarakan upacara ngaben di Setra Desa Nagasepaha pada Jumat (2/12) mendatang. (*)
Editor : Donny Tabelak