Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kebaikan Bidan Retno: Selamatkan Bayi Tak Berdosa, Tampung Pasien Tak Mampu

M.Ridwan • Rabu, 30 November 2022 | 13:15 WIB
PEDULI SESAMA: Bidan Retno saat diwawancarai di tempat praktiknya di Banjar Sema, Kediri, Tabanan.
PEDULI SESAMA: Bidan Retno saat diwawancarai di tempat praktiknya di Banjar Sema, Kediri, Tabanan.
DENPASAR - Bagi warga Banjar/Dusun Sema, Kediri, Tabanan, Bali, nama Raden Roro Retno Wulansari tidak asing lagi. Ia dikenal sebagai bidan yang suka membantu, khususnya masyarakat tidak mampu.

Sejak 23 tahun Retno berdomisili di Banjar Sema. Banjar Sema memiliki penduduk 1.334 orang terdiri 401 kepala keluarga (KK). Rinciannya jumlah penduduk pria 675 orang dan perempuan 659 orang. Hampir semua agama hidup berdampingan di Banjar Sema. Di tengah masyarakat heterogen itu, Retno menguluran tangan kepada warga yang membutuhkan.

Perempuan kelahiran 27 Januari 1971 itu juga kerap menolong warga lain di luar Banjar Sema. Tidak jarang warga datang menggedor pintu rumahnya ketika dirinya sudah terlelap. “Saat menolong orang, saya itu ibaratnya merem, saya tidak melihat sukunya, agamanya, ras, dan golongannya,” ujar Retno ditemui di tempat praktiknya, Sabtu (26/11) malam.

Perempuan yang juga anggota Bidan Delima itu menuturkan, ketika ada orang datang, maka yang harus diutamakan adalah keselamatan. “Saya akan bantu sebisa saya. Kemanusiaan di atas segalanya,” imbuh perempuan 51 tahun itu.

Sebagai bidan dirinya banyak menangani pasien hamil. Yang membuat Retno prihatin, tetiba ada pasien di luar Banjar Sema datang menyatakan tidak menginginkan bayi yang dikandungnya. Katanya janin itu hasil hubungan di luar pernikahan. Alasan lain karena pasien sudah pisah dengan suaminya. Faktor lainnya yang sering dijadikan dalih ialah ekonomi. Sebagai seorang perempuan sekaligus ibu, Retno merasa sedih.

Sebab bayi yang ada dalam kandungan itu berhak hidup. Bayi itu tidak berdosa. Yang membuatnya sedih, pasien itu juga tidak memiliki tempat tinggal tetap. Ada juga yang malu jika harus pulang bertemu keluarganya. Melihat itu pintu hati Retno terketuk. Ia ikhlas menampung pasien di rumahnya, meskipun tidak memiliki ikatan darah. “Kebetulan ada kamar di depan. Saya tampung sampai proses melahirkan selesai. Kadang sampai sebulan, bahkan dua sampai tiga bulan,” ucap bidan yang kesehariannya kerja di RSUD Tabanan itu.

Selama proses menampung pasien, Retno ikut membantu membiayai tes USG hingga tindakan medis usai laihran. Yang membuat Retno terenyuh, warga lain di sekitar rumahnya ikut bersimpati. Banyak tetangga yang datang tanpa diminta. Mereka datang membawakan baju dan kebutuhan lainnya.

“Ada juga yang datang khusus untuk mencucikan pakaian pasien. Katanya tidak punya uang untuk membantu, bisanya mencuci. Saya sangat bersyukur dikelilingi orang-orang baik,” tukas ibu tiga anak itu.

Selanjutnya Retno mengarahkan agar pasien dan keluarganya mencari orang tua yang mau mengadopsi bayi. Retno mewanti-wanti bayi diadopsi orang yang tepat. Retno juga mengingatkan adopsi mesti sesuai dengan peraturan yang berlaku. Yang menarik, Retno juga memberikan pelatihan terhadap pasien-pasien yang ditampung. Salah satunya mengajari cara membuat tahu bakso. Harapannya ke depan mereka bisa hidup mandiri.

“Melihat pasien sehat, melihat bayi-bayi selamat, itu kebahagiaan yang luar biasa. Kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan materi,” tukas nenek satu cucu itu.

Retno menuturkan, dalam keadaan darurat ia harus datang ke rumah pasien. Beberapa waktu lalu, ia ditelepon seorang perempuan yang positif kanker serviks stadium empat. Orang itu mengaku tiba-tiba pandangannya gelap. Retno yang tidak lagi muda itu langsung datang menaiki sepeda motor. Ia mengaku tak sempat lagi mengeluarkan mobil karena pasien butuh penanganan segera. Terlebih tempat tinggal pasien masuk ke dalam gang, sehingga susah memutar mobil.

“Ternyata pasien sudah banyak mengeluarkan darah. Akhirnya pasien saya bonceng belakang, terus saya ikat pakai kain. Setelah itu saya bawa ke RSUD Tabanan. Saya berpacu dengan waktu, tidak boleh telat,” kenangnya.

Retno hingga saat ini masih kerap mengantar pasien gawat darurat ke rumah sakit dengan kendaraan pribadinya. Retno juga masih melayani konsultasi dengan warga via WhatsApp (WA) dan telepon. Itu semua dilakukan dengan sukarela. Ditanya apakah tidak rugi, Retno geleng-geleng kepala. Katanya, saat menolong pasien tidak mampu, dirinya tidak sendirian. Ia mengaku banyak dibantu tenaga kesehatan lainnya, baik sesama bidan, perawat, dokter umum, hingga dokter spesialis. Kebaikan tidak bergerak sendiri, selalu ada tangan-tangan lain turut membantu. Ia berterimakasih pada rekan sejawatnya dan pihak lain yang membantu.

Jauh sebelum di Banjar Sema, tugas pertamanya sebagai bidan desa pada 1992 di Desa Bagik Payung, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Lombok Timur, NTB, “Waktu itu kondisi di sana masih serba terbatas. Kalau mau ke desa harus naik ojek 1,5 jam. Saya sering menolong pasien, pulangnya dikasih sayur,” ucapnya lantas tertawa.

Setelah tugas di Lombok, dirinya ditugaskan di Timor Timur (sekarang Timor Leste), tepatnya di Puskesmas Pantai Kelapa, Dili. Pada 1999 setelah referendum, Retno ditugaskan ke Tabanan. Nah, pengalaman selama bertugas di NTB dan Timor Leste itulah yang membuat Retno banyak bergaul dengan lingkungan beragam latarbelakang. Ia menganggap perbedaan adalah sesuatu yang harus dijaga. “Mari berlomba-lomba mencari kebaikan dengan menolong sesama yang membutuhkan,” tandasnya.

Retno mendapat piagam penghargaan atas prestasi kerjanya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tanda kehormatan “Satya Lancana Karya Satya” itu diterima pada 2008. Ia juga meraih penghargaan sebagai bidan desa teladan.

Apa yang dilakukan Retno ini mendapat dukungan dari pihak Desa Kediri. Perbekel/Kepala Desa Kediri, I Nyoman Poli kepada Retno mengucapkan terima kasih karena telah banyak membantu warga di Banjar Sema.

Hal senada diungkapkan dr I Nyoman Susila, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan. Susila yang sebelumnya menjabat Direktur RSUD Tabanan adalah atasan Retno langsung. Susila menyaksikan langsung kebaikan Retno.

“Beliau (Retno) itu bidan yang baik dan sopan santunnya tinggi. Selama bertugas di RSUD Tabanan dengan saya, beliau bekerja dengan baik, tidak pernah bikin masalah,” tutur Susila yang diwawancarai terpisah. Ia berharap Retno terus meningkatkan pengabdian kepada masyarakat yang membutuhkan. “Mengabdi pada kemanusiaan itu sebagai pengabdian kepada Tuhan,” pungkas Susila. (maulana sandijaya/rid) Editor : M.Ridwan
#kediri #tabanan #Raden Roro Retno Wulansari #Dusun Sema #selamatkan bayi #bidan retno