PRIA paruh baya sibuk membolak-balikkan tali plastik. Ia meraba-meraba setiap ulatan anyaman. Ia adalah Made Kandra penyandang tuna netra yang ikut membuka stan untuk memamerkan hasil karya tangannya di pembukaan Graha Nawasena Rumah Harapan Disabilitas Kota Denpasar Diresmikan kemarin (2/12).
Made Kandra membuat gantungan anggrek dan dijual dalam pameran itu. Gantungan itu terbuat dari tali plastik. De Alot--sapaan akrabnya mengatakan dalam satu hari bisa membuat tiga gantungan anggrek.
Meskipun memiliki keterbatasan tidak melihat, ia mengaku tidak memiliki kendala. Asalkan, sesuai dengan cara membuatnya. Untuk menghindari kesalahan, De Alot dalam mengetahui dari setiap rabanya. "Kalau tidak seimbang kita bisa menarik merasakan mana yang kurang dan pasnya. Kami periksa tahu ada yang salah dan tidak," ujarnya.
Harga satu gantungan tali harganya Rp 30 ribu. Dalam pameran kemarin baru laku satu gantungan pot. Sejatinya, Kandra bekerja sebagai penabuh gamelan yang tampil di hotel di Legian, Badung.
Namun, karena pandemi Covid-19, dia berhenti bekerja. Kemudian ia membuka klinik pijat refleksi untuk menyambung hidup, tetapi tidak begitu ramai.Dia pun mencoba belajar menganyam untuk mengisi waktu.
Ini dilakukan supaya juga memiliki ketrampilan yang lain. " Kebetulan saya ada kesempatan membuat anyaman saya coba saja. Supaya memiliki keahlian yang lain, ternyata saya bisa menganyam selain bisa menabuh dan pijat refleksi," terang pria berusia 53 tahun ini.
Jumlah penyandang disabilitas yang terlibat dalam pameran ini berjumlah 15 orang. Rumah harapan sebagai rumah kreatif bagi penyandang disabilitas yang di dalamnya terdapat Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Gantari Jaya yang digawangi penyandang disabilitas kreatif Kota Denpasar. “Rumah inspirasi dan rumah kreatif untuk mengangkat harkat dan martabat para penyandang disabilitas Kota Denpasar,” tulis Jaya Negara di sebuah papan berlatar putih.
Dijumpai usai kegiatan, Wali Kota Jaya Negara menuturkan bahwa Pemerintah Kota Denpasar terus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Diresmikanya Graha Nawasena Rumah Harapan ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam mewujudkan Denpasar sebagai kota inklusif yang ramah disabilitas. Sehingga nantinya keberadaan disabilitas memiliki kesetaraan dalam memperoleh hak dan bersaing di berbagai bidang.
Lebih lanjut dikatakan, keterbatasan bukanlah suatu penghambat dalam menciptakan pengabdian bagi bangsa dan negara.
Nah, dari Graha Nawasena ini diharapkan mampu menggugah inspirasi dan inovasi serta menjadi wahana edukasi untuk menggugah semangat kewirausahaan kaum disabilitas. Sehingga secara berkelanjutan dapat meningkatkan harkat dan martabat penyandang disabilitas.
“Saya yakin, jika para penyandang disabilitas kami berikan kesempatan, tentu secara berkelanjutan mampu berdaya saing dan menciptakan peluangnya sendiri di berbagai bidang,” jelasnya. (ni kadek novi febriani/radar bali)
Editor : Hari Puspita