Melihat sekilas hewan dengan nama latin Chiroptera menyeramkan dan menggelikan. Akan tetapi tidak bagi I Wayan Nurata. Pria asal Banjar Dinas Delod Dalang, Kukuh Marga, Tabanan ini sengaja melakukan pemeliharaan terhadap hewan Kelelawar.
Sekitar 7 ekor kelelawar tampak mengelantungan di DTW Alas Kedaton. Hewan Kelelawar itu sudah dalam kondisi jinak tidak menggigit. “Ini sudah jinak jangan takut dipegang saja,” ujar I Wayan Nurata saat ditemui di Jawa Pos Radar Bali, Kamis (15/12).
Nurata menyebut kelelawar yang dia pajang di DTW Alas Kedaton sebagai wisata tambahan bagi pengunjung kera di Hutan Alas Kedaton. Kelelawar ini dia sudah pelihara sejak masih kecil sehingga sudah jinak. “Usia dari kelelawar ini ada yang sudah 10 tahun, 15 tahun bahkan 20 tahun,” ungkap pria berusia 47 tahun ini.
Dia mengaku memelihara kelelawar sejatinya berawal dari banyak kelelawar yang berada di Hutan Alas Kedaton. Khususnya anakan dari kelelawar yang jatuh. Itu selanjutnya Nurata pungut dan pelihara hingga terus berkembangbiak menjadi 7 ekor saat ini.
Menariknya justru hasilnya berbuah manis, sejumlah kelelawar yang sudah dewasa dan jinak yang telah Nurata pelihara menghasilkan cuan. Karena banyak dari pengunjung di DTW yang tertarik untuk berfoto bersama kelelawar. “Tanpa sengaja saya rawat justru jadi tambahan wisata di DTW Alas Kedaton,” tutur Nurata.
Diakuinya, menjadi pekerjaan buat dirinya, pasalnya satu momen foto bersama pengunjung dengan kelelawar mendapat bayaran Rp 50-70 ribu untuk satu kali pengunjung ingin mencetak foto.
Menurut Nurata, merawat kelelawar sangatlah mudah. Malam harinya dimasukkan ke dalam penangkaran terbuat. Pagi justru dirinya biarkan kelelawar berada luar. Baru ia memandikan hingga memberikan pakan berupa buah seperti pepaya, buah pisang serta minuman fruit tea.
“Minuman fruit tea dengan rasa buah ini rutin. Kemudian memotong kuku dari kelelawar agar tidak tajam setiap seminggu sekali,” ungkapnya.
Untuk penyakit sendiri selama merawat kelelawar sangat jarang ia temukan. Kalau mati dari hewan ini memang ada, namun itu tidak disebabkan oleh penyakit, melainkan faktor umur dari kelelawar yang sudah berusia 25 tahun lebih.
Untuk proses perkawinan dari kelelawar sendiri. Itu terjadi setiap 6 bulan sekali. Proses perkawinan dari kelelawar muncul ciri jantan menggigit betina. “Anak hasil dari perkawinan kelelawar tidak banyak hanya satu ekor setiap melahirkan,” jelasnya.
Dia menambahkan keistimewaan dari kelelawar sendiri sama seperti burung dara. Meski telah terbang bebas keluar dari penangkaran, namun mereka akan kembali lagi ke rumah asal atau kandang penangkaran.
“Ini kami gantung diluar kelelawar, bentar terbang bebas ke alam, namun kembali lagi,” ungkapnya. Kendati sudah 20 tahun merawat kelelawar Nurata mengaku dirinya tidak pernah merasa takut untuk digigit. “Sudah biasa sih, tapi kalau orang pasti takut. Karena ini masuk hewan liar hutan agresif,” pungkasnya. (juliadi/rid)
Editor : M.Ridwan