Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dari Perayaan 1.000 Tahun Desa Batuan,Sukawati :Kini 1.000 Ibu-ibu Gelar Pentas Rejang Sutri

Hari Puspita • Senin, 19 Desember 2022 | 17:07 WIB
GEMULAI: Seribu penari Rejang Sutri pentas di luar pura srangkaian peringatan Sahasra Warsa (seribu tahun) desa Batuan di Jaba sisi Kelod Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan, Kecamatan Sukawati Gianyar, Minggu (18/12) sore. (foto: humas batuan gianyar)
GEMULAI: Seribu penari Rejang Sutri pentas di luar pura srangkaian peringatan Sahasra Warsa (seribu tahun) desa Batuan di Jaba sisi Kelod Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan, Kecamatan Sukawati Gianyar, Minggu (18/12) sore. (foto: humas batuan gianyar)
Berdasarkan peninggalan Prasasti Baturan, disimpulkan bahwa 26 Desember 1022-26 Desember 2022, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar, berusia 1.000 tahun. Untuk merayakannya, digelar acara Sahasra Warsa Batuan. Nah, sebagai pembuka, seribu ibu-ibu dan pemudi desa menarikan Rejang Sutri secara masal di luar Pura Desa lan Puseh Batuan, Minggu (18/12) pukul 16.00. 

SEPERTI  dituturkan  Bendesa Adat Batuan, I Nyoman Megawan, didampingi Pangliman I Wayan Sudha, menjelaskan Rejang Sutri merupakan tarian sakral yang berfungsi sebagai penolak bala.

Tarian ini dipentaskan setiap malam mulai Rahina Kajeng Kliwon Enyitan Sasih Kalima sampai Ngembak Gni, sehari setelah hari suci Nyepi.

Pementasan ini, dalam skala kecil rutin berlangsung setiap malam di wantilan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan. Tradisi yang diwarisi secara turun temurun ini pantang ditiadakan.

Termasuk dalam situasi pandemi Covid-19, pementasan tetap digelar dengan menaati protokol kesehatan.

Tarian ini diyakini penetralisasi sasih gering yang ditandai dengan berjangkitnya berbagai macam penyakit.

 

Cikal bakal dipentaskannya tarian Rejang Sutri, diperkirakan bermula pada abad ke- 17, tahun 1658. “Yang dipuja saat menari yakni Sang Hyang Dedari, sehingga setiap perempuan yang menari Sutri ketika dilihat oleh rencang-rencangnya Gede Mecaling bagaikan bidadari. Ini juga yang membuat dendam Gede Mecaling luluh,” jelasnya.

Untuk mempertahankan tradisi ini, krama ngayah dengan sistem giliran. “Per hari, biasanya sekitar 50 krama istri,” jelasnya.

Pada rerainan tertentu, seperti Kajeng Kliwon, Purnama, Tilem dan lainnya Rejang Sutri digelar lebih meriah. Yakni para krama istri mepayas atau berhias. Biasanya, Anak-anak perempuan tertarik ikut ngayah Rejang Payas.

 

Sehingga sebagai hadiah sekaligus motivasi, Desa Adat Batuan memberikan alat tulis berupa buku, pensil dan pulpen. Tradisi ini mesineb atau berakhir, ditandai dengan pementasan terakhir setiap Ngembak Gni atau sehari setelah Hari Suci Nyepi.

Sementara itu, Perbekel Desa Batuan Ari Anggara menambahkan Sahasra Warsa Batuan akan dimeriahkan dengan kegiatan kebudayaan selama sembilan hari penuh dalam balutan festival. “Dimulai pada 18 Desember hingga 26 Desember 2022 sebagai Puncak Rangkaian yang merupakan tanggal dimana prasasti dianugerahkan Raja sekitar 1.000 tahun yang lalu,” jelasnya.

Setelah pembukaan dengan tari massal, digelar pameran produk ukir, lukis, topeng, keris, kerajinan terbarukan dan lomba baleganjur. [ib indra prasetia/radar bali]

  Editor : Hari Puspita
#tarian masal #1.000 tahun Desa Batuan Sukawati #Tarian Rejang Sutri #Desa Batuan Sukawati Gianyar