Bila Desa Tista di Buleleng Berubah Nama: Banyak Kembarannya, Diubah Jadi Desa Dapdap Putih

Hari Puspita • Dipublikasikan Rabu, 4 Januari 2023 | 00:03 WIB
BIAR BEDA DAN MUDAH DIINGAT : Nama Desa Tista di Kecamatan Busungbiu, Buleleng, ini resmi berubah nama menjadi Desa Dapdap Putih. (foto: Pemdes Dapdap Putih)
BIAR BEDA DAN MUDAH DIINGAT : Nama Desa Tista di Kecamatan Busungbiu, Buleleng, ini resmi berubah nama menjadi Desa Dapdap Putih. (foto: Pemdes Dapdap Putih)
Desa Tista di Kecamatan Busungbiu kini berubah nama jadi Desa Dapdap Putih. Nama itu resmi digunakan dalam seluruh dokumen administrasi pemerintahan mulai 1 Januari 2023. Begini, liku-liku perubahan nama itu.

NAMA Dapdap Putih relatif familiar. Jika anda pernah melintas dari arah Pupuan menuju Bunut Bolong, Jembrana, maka Anda akan menemukan puluhan papan nama usaha yang menuliskan kata “Dapdap Putih”.

Masyarakat di wilayah Busungbiu hingga Pupuan sudah mahfum bila nama Dapdap Putih lekat dengan Desa Tista. Sebuah wilayah desa administratif yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jembrana. Desa ini berada jauh dari pusat pemerintahan di Kota Singaraja. Setidaknya butuh waktu tempuh hingga 2,5 jam berkendara untuk mencapai desa tersebut.

Warga di Desa Tista sendiri lebih memilih menyebut nama wilayahnya dengan sebutan Dapdap Putih. Hal itu lebih mudah dipahami. Sebab menyebut nama Tista, akan terjadi salah pemahaman.

“Nama Tista itu ada di banyak tempat. Di Karangasem ada nama Desa Tista, di Tabanan juga ada. Nah, di Buleleng sendiri ada Desa Adat Tista di wilayah kota. Kalau menyebut Dapdap Putih, orang itu pemahamannya langsung ke lokasi ini,” kata tokoh masyarakat setempat, Jro Bendesa Nyoman Astawa.

Jro Astawa tak tahu pasti mengapa nama desa tempat tinggalnya menjadi Desa Tista. Padahal secara historis, masyarakat di sana menyebut kawasan itu sebagai Dapdap Putih.

Hal itu diperkuat dengan Lontar Batur Kelawasan Petak dan Lontar Bhuwana Tatwa Maha Rsi Markandheya, yang menceritakan jejak bersejarah perjalanan Ida Rsi Markandya. Jejak-jejak sosok luhur itu dijadikan patokan awal penyebutan nama wilayah Dapdap Putih.

Alkisah ada beberapa orang pemburu dari Desa Bujak (kini dikenal dengan nama Desa Sepang) hendak berburu kijang. Salah seorang pemburu mengalami musibah. Mereka kemudian meminta petunjuk niskala, bahwa mereka harus menghaturkan upacara guru piduka di sebuah tempat terdapat batu taulan. Lokasi itu ada di hulu Tukad Pangyangan.

Mereka menyusuri sungai tersebut ke arah selatan. Mereka mencari batu taulan di hulu sungai, namun tak membuahkan hasil. Dalam rasa putus asa, mereka bertemu dengan seorang pertapa bernama Ida Mpu Dadap Putih. Pertapa itu hendak napak tilas lokasi pemoksan Ida Maha Rsi Markandeya.

Pertapa itu memberi petunjuk bahwa upacara dapat dilakukan pada tempat yang dirasa cukup baik, dengan membuat sebuah turus lumbung dari pohon dapdap sebagai lokasi penyawangan batu taulan dimaksud. Ternyata lama kelamaan pohon dapdap itu tumbuh sumbur dengan berbunga dengan warna putih. Belakangan di lokasi itu masyarakat membangun sebuah tempat suci yang kini diberi nama Pura Kahyangan Dapdap Putih.

Perubahan nama itu mendapat selebrasi yang meriah dari warga. Mereka melakukan  doa bersama sebagai wujud syukur atas perubahan nama desa.

Perubahan nama itu tertuang secara resmi dalam SK Menteri Dalam Negeri Nomor 100.116117 Tahun 2022 tanggal 9 November 2022. Meski SK telah terbit dua bulan lalu, tapi pergantian nama baru dilakukan pada 1 Januari 2023 agar memudahkan proses administrasi pemerintahan.

Perbekel Dapdap Putih, I Gede Marjaya mengungkapkan, penggantian nama itu diusulkan oleh pihak desa atas persetujuan bersama lembaga adat dan masyarakat setempat. Marjaya mengungkapkan, perubahan nama itu dilakukan karena desa dengan penduduk sebanyak 4.640 orang itu memiliki sejarah penting dengan nama Dapdap Putih.

“Desa ini memiliki sejarah penting. Nama Dapdap Putih itu merupakan warisan jejak leluhur yang harus dilestarikan,” kata Marjaya.

Menurutnya, nama Desa Tista sebenarnya baru muncul pada tahun 1996 silam. Bersamaan dengan terbitnya Perda Pembentukan Desa Pakraman di wilayah tersebut. Desa seluas 912 kilometer persegi itu dibagi ke dalam tiga desa adat yang berbeda.  Masing-masing Desa Adat Tista, Desa adat Munguk Mengenu, dan Desa Adat Munduk Tengah.

“Saat itu juga terjadi perubahan nama Desa Dapdap Putih menjadi Desa Dista. Entah apa sebabnya, karena masyarakat tidak pernah tahu pertimbangannya,” ujarnya.

Hal itu memicu kerancuan administrasi pemerintahan selama bertahun-tahun. Sebab ada dua otoritas yang menggunakan nama Tista dalam hal administrasi. Masing-masing desa adat,  dan desa dinas.

“Adminsitrasi jadi rancu. Kadang komunikasi juga sulit. Sudah ada embel-embel perbedaan kata dinas dan pakraman juga masih sering salah sasaran. Makanya ini jadi momentum yang sangat penting bagi kami,” demikian Marjaya. [eka prasetya/radar bali]

 

  Editor : Hari Puspita
ganti nama desa Desa Dapdap Putih Buleleng desa bernama sama Desa Tista