KISAH ayam nan nikmat itu sudah dimulai puluhan tahun silam. Ayam betutu tersebut awalnya dibuat mendiang Ni Wayan Rarud sekitar 1978. Seiring perkembangan zaman, saat ini sudah mulai banyak rumah makan yang menyajikan menu serupa. Namun, ayam betutu Men Tempeh Gilimanuk tetap memiliki tempat tersendiri di hati penikmatnya.
“Wisatawan setiap datang ke Bali selalu ke ayam betutu Gilimanuk, karena rasanya beda dengan ayam betutu di daerah lain,” kata Ni Putu Okta Damayanti, 31, pengelola Rumah Makan Ayam Betutu Men Tempeh Gilimanuk.
Rumah Makan Ayam Betutu Men Tempeh, memiliki resep rahasia dari Ni Nyoman Rarud yang menjadi pencipta olahan ayam betutu. Tidak hanya resep, cara memasak olahan ayam betutu ini juga berbeda dengan ayam betutu yang dijual di tempat lain.
Untuk menjaga kualitas rasa yang khas itu, selain bumbu-bumbu yang hanya boleh dimasak oleh dua orang khusus, cara memasaknya juga masih tradisional memakai tungku dengan kayu bakar. “Kalau menggunakan kompor gas, maka rasa yang dihasilkan akan berubah,” imbuhnya.
Setiap hari, pada hari biasa, rumah makan ini hanya memasak ayam betutu paling banyak 50 ekor ayam kampung. Namun, ketika libur panjang seperti pada saat libur Nataru, dalam sehari bisa mencapai 200 ekor ayam yang terjual. Sementara harga tergantung pemesanan. Harga satu ekor utuh dengan nasi, sambal, dan sayur sekitar Rp 150 ribu.
Karena ayam betutu sudah terkenal sebagai makanan khas Gilimanuk, tidak hanya wisatawan yang datang. Pejabat juga banyak yang sudah datang untuk makan betutu. Yang terbaru mencicipi adalah Menparekraf RI Sandiaga Salahuddin Uno, yang datang pada akhir Desember lalu.
Bahkan Sandiaga menyebut, ketika makan ayam betutu seperti bernostalgia masa kecil. Karena pada saat masih SD dan SMP, sering berlibur ke Bali bersama orang tuanya. Saat tiba di Gilimanuk selalu menikmati ayam betutu Gilimanuk.
Meskipun pengunjung yang datang pejabat, pelayanan teta sama. Tidak ada perbedaan antara melayani tamu wisatawan, warga lokal dan pejabat. Hanya saja, umumnya jika pejabat yang datang protokolnya meminta ruangan VIP yang sudah disediakan. “Pelayanan tidak ada perbedaan (pejabat dan rakyat), sama saja seperti melayani pelanggan umumnya,” ungkapnya.
Meski sudah melegenda, saat pandemi Covid-19, ketika PPKM diberlakukan ketat, ayam betutu Men Tempeh juga terdampak. Bahkan pernah dalam satu minggu tidak ada pengunjung yang datang.
“Jangankan sehari, seminggu pernah nggak ada pengunjung. Waktu itu masih takut-takutnya orang bepergian (karena PPKM),” ungkapnya.
Meskipun saat itu pengunjung minim, tidak ada karyawan yang diberhentikan. Caranya, dari 24 orang karyawan, sistem kerjanya dibagi. Libur karyawan yang biasanya sehari dalam sebulan lebih banyak waktu libur. “Daripada di-PHK kasihan, jadi di-rolling untuk shift liburnya. Yang biasa libur sebulan hanya dapat sekali, pas korona jadi banyak libur,” jelasnya.
Selain tidak menyerah, pandemi juga dijadikan ajang berinovasi membuat olahan betutu kemasan atau frozen. Ayam betutu kemasan bisa bertahan hingga tiga bulan jika di simpan di lemari pendingin. Ke depan, dia akan melakukan inovasi lagi. (m basir/editor :sandijaya maulana/radar bali)
Editor : Hari Puspita