IDE inovatif itu kini terwujud. Yayasan Bali Kumara di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Karangasem, ini baru-baru ini berhasil mengembangkan produk sabun mandi.
Sabun tersebut berbahan dasar sampah organik. Sabun tersebut pun telah dirasakan manfaatnya bagi para anggota dan donatur yayasan yang bergerak di bidang sosial itu.
I Gede Putra selaku pengelola bank sampah Yayasan Bali Kumara mengatakan. Pengembangan produk sabun mandi berbahan sampah organik itu pertama kali dibuat sejak sebulan lalu.
Melalui inovasi tersebut, kini sampah organik tak hanya sebatas menjadi kompos namun bisa dikembangkan dengan melahirkan produk berbentuk sabun mandi. “Sampah organiknya sudah difermentasi menjadi eco enzyme,” tuturnya Senin (9/1/2023).
Sampah tersebut mereka dapatkan cukup mudah. Dari rumah tangga warga. Namun, sampah organik berupa sisa-sisa sayur dan buah itu juga disortir lagi. “Dipilih yang masih segar-segar. Karena memang cukup banyak kiriman sampah organik. Jadi coba-coba inovasi bikin sabun,” ucap Putra.
Setelah sampah organik tersebut menjadi eco enzyme. Selanjutnya, dicampurkan dengan beberapa bahan tertentu. Seperti minyak kelapa, minyak zaitun, soda api dan pewangi sabun. “Setelah itu tercampur. Barulah memasuki tahap pemadatan dan selanjutnya dicetak seperti sabun batangan,” paparnya.
Ada berbagai manfaat yang dirasakan dengan menggunakan sabun berbahan sampah organik itu. Selain membersihkan badan, juga bisa menghilangkan kulit gatal dan jamuran serta melembutkan kulit. “Wanginya juga enak. Sudah dirasakan juga manfaatnya,” ucap pria 67 tahun itu.
Sayangnya, sabun ciptaan Yayasan Bali Kumara ini memang tidak dibuat masal atau diperjual belikan. Namun hanya dibagikan untuk anggota dan juga donatur. “Karena kalau mau dijual butuh izin dan proses lainnya. Jadi memang tidak kami jual (bebas),” terang Putra.
Untuk produksi, Putra memproduksi sesuai dengan kebutuhan. “Kalau sudah mau habis baru bikin,” tandasnya. [zulfika rahman/radar bali]
Editor : Hari Puspita