SECARA turun temurun, tradisi ini sudah ratusan tahun lestari. Tradisi mekotek yang diyakini sebagai upaya untuk penolak bala di Hari Raya Kuningan di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung, ini memang wajib. Karena risikonya bila tidak digelar bakal ada bala atau malapetaka.
Di saat pandemi Covid-19 merajalela, ritual tetap berlangsung. Namun dengan jumlah pengayah mekotek yang sudah sangat terbatas.
Ini tentu ada asal muasalnya. Dari cerita yang diyakini warga Munggu, Mengwi, Badung, tradisi mekotek ini pernah tidak digelar saat era pemerintah kolonial Belanda. Ini karena saat itu peranti ritual macam kayu, bambu, dikira akan dipakai untuk melakukan pemberontakan kepada Belanda.
Nah, gara-gara terpaksa tidak menggelar tradisi mekotek saat itu warga Desa Adat Munggu mendadak terserang wabah penyakit hingga banyak yang meninggal.
Karena pernah terjadi kejadian seperti itu akhirnya warga tidak berani untuk tidak menggelar acara tersebut. Sampai sekarang selalu digelar.
Proses mekotek ini biasanya dimulai dengan prosesi sembahyang di Pura Dalem Munggu. Setelah itu peserta mekotek memegang tongkat masing-masing.
Para peserta alias pengayah ini wajib memakai pakaian adat madya dan berkumpul di Jalan utama setelah, jalur tersebut ditutup untuk kepentingan pawai. Kemudian mereka melakukan pawai dengan diiringi gamelan beleganjur keliling Desa Munggu.
Kepada Jawa Pos Radar Bali, I Putu Suada Ketua Pengelola Desa Wisata Menggu menceritakan bahwa tradisi warisan Bali kuno ini dikenal juga dengan sebutan gerebek mekotek. Ini digelar setiap enam bulan sekali dalam kalender Hindu atau setiap 210 hari sekali, tepatnya saat perayaan hari raya Kuningan atau 10 hari setelah Hari Raya Galungan. "Setahun dua kali," ujarnya di tengah keramaian menyaksikan tradisi mekotek.
Tradisi ini hanya digelar di Desa Munggu saja, tidak bisa anda temukan pada daerah lainnya. "Ini untuk melindungi dari serangan penyakit dan memohon keselamatan," tutur Putu Suanada.
Tradisi mekotek di Desa Munggu ini memang memiliki nilai yang sangat sakral, walaupun sejarah awalnya hanya berupa sambutan kegembiraan menyambut kemenangan pasukan kerajaan.
Mekotek memang muncul di era Kerajaan Mengwi pada abad 17. Saat itu kerajaan Mengwi di tangan Anak Agung Ngurah Agung. "Untuk menyambut kepulangan dari para pejuang kerajaan Mengwi pasca memenangkan perang melawan kerajaan Blambangan, Ujung timur Pulau Jawa. Dan berhasil merebut tameang (perisai).
Belanda di tahun 1915 pernah melarang khawatir ada pemberontakan dengan senjata seadanya. Sehingga Belanda kemudian menghentikan tradisi. Di luar dugaan, begitu ritual tersebut tidak digelar lagi, maka terjadilah wabah penyakit, akhirnya tradisi ini kembali digelar.
Sambil menujuk ke arah pemuda pemuda memegang tongkat, ia mengatakan jama dahulu prajurut menggunakan tongkat besi, untuk menghindari agar tidak ada yang terluka, maka pada tahun 1948 diganti menggunakan tongkat dari kayu yang kulitnya telah dikupas dan menjadi halus dengan panjang 2 hingga 3,5 meter. "Tombak aslinya disimpan di pura desa setempat," kisahnya.
"Tameang (perisai) terbuat dari perunggu yang disimpan di Pura Dalam Kayangan Wesesa. Karena menjadi kebanggaan Kerajaan Mengwi sehingga di arak-arakan keliling Desa," lagi tambahnya.
Di saat Covid sudah mereda, tahun 2023 ini ribuan warga ikut ritual. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri sekitar puluhan orang.
Tongkat kayu yang mereka bawa diadu membentuk seperti sebuah piramid. Peserta prosesi mekotek yang punya keberanian, uji nyali menaiki ke puncak kumpulan kayu tersebut, siap lali komando atau penyemangat bagi kelompoknya.
Hal sama dilakukan juga kelompok lainnya. Para komando memberikan perintah untuk menabrak dari kelompok lainnya, sambil terus berjalan, Begitulah kemeriahan mekotek tahun ini. [andre sulla/radar bali]
Editor : Hari Puspita