Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tradisi Mekotek di Munggu, Mengwi,Saat Ini: Sempat Serba Terbatas saat Pandemi,Kini Meriah Lagi

Hari Puspita • Minggu, 15 Januari 2023 | 21:03 WIB
MERIAH : Perayaan mekotek di Munggu, Mengwi, Badung, yang biasa dirayakan saat Hari Raya Kuningan, seusai Galungan, setahun dua kali. (foto : adrian suwanto/radar bali)
MERIAH : Perayaan mekotek di Munggu, Mengwi, Badung, yang biasa dirayakan saat Hari Raya Kuningan, seusai Galungan, setahun dua kali. (foto : adrian suwanto/radar bali)
Tradisi mekotek di Munggu, Mengwi, Badung, yang wajib digelar sebagai sarana penolak bala sempat dihelat dengan peserta sangat terbatas saat pandemi. Kini kembali berlangsung dengan meriah lagi. Lebih semarak lagi.

 SECARA turun temurun, tradisi ini sudah ratusan tahun lestari. Tradisi mekotek yang diyakini sebagai upaya untuk penolak bala di Hari Raya Kuningan di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung, ini memang wajib. Karena risikonya bila tidak digelar bakal ada bala atau malapetaka.

Di saat pandemi Covid-19  merajalela, ritual tetap berlangsung. Namun dengan jumlah pengayah mekotek yang sudah sangat terbatas.

Ini tentu ada asal muasalnya. Dari cerita  yang diyakini warga Munggu, Mengwi, Badung, tradisi mekotek ini pernah tidak digelar  saat era pemerintah kolonial Belanda. Ini  karena saat itu peranti ritual macam kayu, bambu, dikira akan dipakai untuk  melakukan pemberontakan kepada  Belanda.

Nah,  gara-gara terpaksa tidak menggelar tradisi mekotek saat itu warga  Desa Adat Munggu mendadak  terserang wabah penyakit hingga banyak yang meninggal.

Karena pernah terjadi kejadian  seperti  itu akhirnya warga tidak berani untuk  tidak menggelar acara tersebut. Sampai sekarang selalu digelar.


Proses  mekotek ini biasanya  dimulai dengan prosesi sembahyang di Pura Dalem Munggu. Setelah itu peserta mekotek memegang tongkat masing-masing.

Para peserta alias pengayah  ini wajib memakai pakaian adat madya dan berkumpul di Jalan utama setelah, jalur tersebut ditutup untuk kepentingan pawai. Kemudian mereka melakukan pawai dengan diiringi gamelan beleganjur keliling Desa Munggu.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, I Putu Suada Ketua Pengelola Desa Wisata Menggu menceritakan bahwa tradisi warisan Bali kuno ini dikenal juga dengan sebutan gerebek  mekotek. Ini digelar setiap enam  bulan sekali dalam kalender Hindu atau setiap 210 hari sekali, tepatnya saat perayaan hari raya Kuningan atau 10 hari setelah Hari Raya Galungan. "Setahun dua kali," ujarnya di tengah keramaian menyaksikan tradisi mekotek.

Tradisi ini hanya digelar di Desa Munggu saja, tidak bisa anda temukan pada daerah lainnya. "Ini untuk  melindungi dari serangan penyakit dan memohon keselamatan," tutur Putu Suanada.

Tradisi mekotek di Desa Munggu ini memang memiliki nilai yang sangat sakral, walaupun sejarah awalnya hanya berupa  sambutan kegembiraan menyambut kemenangan pasukan kerajaan.

Mekotek memang muncul di era  Kerajaan Mengwi pada abad 17. Saat itu kerajaan Mengwi di tangan Anak Agung Ngurah Agung. "Untuk menyambut kepulangan dari para pejuang kerajaan Mengwi pasca memenangkan perang melawan kerajaan Blambangan, Ujung timur Pulau Jawa. Dan berhasil merebut tameang (perisai).

Belanda di tahun 1915 pernah melarang khawatir  ada pemberontakan dengan senjata seadanya. Sehingga Belanda kemudian menghentikan tradisi. Di luar dugaan, begitu ritual  tersebut tidak digelar lagi, maka terjadilah wabah penyakit, akhirnya tradisi ini kembali digelar.

Sambil menujuk ke arah pemuda pemuda memegang tongkat, ia mengatakan jama dahulu prajurut menggunakan tongkat besi, untuk menghindari agar tidak ada yang terluka, maka pada tahun 1948 diganti menggunakan tongkat dari kayu yang kulitnya telah dikupas dan menjadi halus dengan panjang 2 hingga 3,5 meter. "Tombak aslinya disimpan di pura desa setempat," kisahnya.

"Tameang (perisai) terbuat dari perunggu yang disimpan di Pura Dalam Kayangan Wesesa. Karena menjadi kebanggaan Kerajaan Mengwi sehingga di arak-arakan keliling Desa," lagi tambahnya.

Di saat Covid sudah mereda, tahun 2023 ini ribuan warga  ikut ritual. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri sekitar puluhan orang.

Tongkat kayu yang mereka bawa diadu membentuk seperti sebuah piramid. Peserta prosesi mekotek yang punya keberanian, uji nyali menaiki ke puncak kumpulan kayu tersebut, siap lali komando atau penyemangat bagi kelompoknya.

Hal sama dilakukan juga kelompok lainnya. Para komando memberikan perintah untuk menabrak dari kelompok lainnya, sambil terus berjalan, Begitulah kemeriahan mekotek tahun ini. [andre sulla/radar bali]

 

  Editor : Hari Puspita
#mekotek saat Kuningan #mekotek di Munggu Mengwi Badung #tradisi mekotekan #mekotek