BUKAN hanya di Denpasar, Kuta, Ubud, Tabanan. Setiap ada pengemis di wilayah ujung barat Bali, Jembrana, hampir pasti mengaku berasal dari desa tersebut. Mirisnya, mereka menyuruh anaknya untuk mengemis.
Salah satu pengemis yang masih berusia 11 tahun. Nama inisialnya Putu SG. Saat ditemui dia tengah “bekerja” mengemis di Anjungan Betutu Gilimanuk (ABG).
Setiap ada orang yang baru datang hendak makan betutu atau orang yang baru keluar dari rumah makan, langsung dihampiri untuk meminta - minta. Meminta uang menjadi tujuan utama, tetapi jika ada yang memberi makan juga diterima.
Setiap mengemis, anak yang putus sekolah di kelas VI sekolah dasar (SD) ini mengaku mendapatkan uang dari setiap orang yang memberi rata-rata pecahan Rp 2 ribu. Tidak jarang mendapat pecahan Rp 5 ribu dan Rp 10 ribu, tetapi lebih sering pecahan Rp 2 ribu. "Tidak semua orang ngasih (uang). Kadang dapat Rp 20 ribu sehari," ujarnya.
Anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku tidak sendiri mengemis, bersama ibunya dari desa yang dikenal sebagai juga tempat asal muasal pengemis di Karangasem. Namun saat mengemis, Putu GS berpisah dengan ibunya, mengemis di sekitar Pelabuhan Gilimauk.
Sedangkan Putu GS disuruh keliling ke pusat keramaian, bersama teman sesama anak pengemis dari desa yang sama. "Ibu di Pelabuhan, ngemis juga. Disuruh ibu (ngemis) ke sini (ABG) karena ramai," ujarnya.
Karena ibunya yang menyuruh untuk, maka hasil yang diperoleh juga diserahkan kepada ibunya. Berapapun hasil mengemis yang diperoleh diberikan kepada ibunya yang mengatur keuangan untuk makan. "Dikasih ke ibu semua uangnya. Kalau makan seiring dikasih orang," ujarnya.
Puri SG mengaku putus sekolah karena tidak ada yang untuk membeli sepatu. Karena ibunya sebagai pengemis di daerah lain, Jembrana menjadi salah satu ladang tempat mengemis dari dulu.
Sedangkan bapaknya tidak bekerja. "Bapak di Karangasem," ujarnya seraya geleng kepala saat ditanya pekerjaan bapaknya.[m.basir/radar bali]
Editor : Hari Puspita