JALAN aspal di Desa Duda baru saja mengering setelah diguyur hujan beberapa saat pada Minggu (19/2/2023) sore. Sejak pukul 17.00, krama Desa Adat Duda memadati jalanan di antara Tukad Sangsang. Sejumlah karama yang mengenakan pakaian adat bertelanjang dada pun siap-siap menggelar siat api dalam rangkaian upacara Usaba Dalem yang digelar setiap tahun.
Bendesa Adat Duda I Komang Sujana mengatakan, tradisi siat api merupakan warisan tradisi yang sudah cukup tua yang digelar setiap tahun, tepatnya satu bulan sebelum dilaksanakan Usaha Dalem Desa Adat Duda. Oleh krama Desa Adat Duda, tradisi ini dipercaya sebagai bentuk menyeimbangkan alam dan juga menangkal ha-hal negatif. “Bisa juga sebagai ajang untuk saling mempererat hubungan antar krama,” ujarnya.
Sebelum digelar siat api. Ada upacara pecaruan di Pura Puseh. Selanjutnya, krama adat yang terdiri dari 27 banjar adat itupun menggelar upacara tek-tek prus yakni dengan menaburkan sesajen di pekarangan rumah masing-masing. “Ini bertujuan untuk mengusir roh jahat. Agar masing-masing keluarga terhindar dari hal-hal negatif skala maupun niskala,” kata Sujana.
Tepat sekitar pukul 18.00, seluruh krama adat akan berkumpul di atas jembatan tukad Sangsang untuk melaksanakan tradisi siat api. Nantinya krama yang telibat dalam siat api itu akan dibagi menjadi dua kelompok. “Antara dauh tukad dan dangin tukad. Karena krama Desa Adat Duda ada di dua wilayah itu,” terangnya.
Nantinya kelompok dari dangin tukad (timur) akan melawan kelompok dari dauh (Barat). Mereka akan terlibat perang api menggunakan sarana janur kelapa yang sudah kering. “Janur itu dibakar. Baru diayunkan di masing-masing lawan agar mengenai bagian tubuh sampai api padam,” bebernya.
Sujana menanbahkan, mereka yang terlibat dalam siat api itu, merupaka krama yang sudah sebelumnya mendaftarkan diri ke pihak desa adat. “Jumlahnya tidak tentu. Bisa sampai di atas 50 orang. Sebelumnya, mereka juga melakukan persembahyangan,” imbuhnya.
Dalam tradisi tersebut, warga yang terlibat dalam siat api tidak memiliki dendam atau kebencian. Untuk itu, usai melaksanakan sia api, pesertanya diminta berkumpul dan saling bersalaman. “Itu sebagai upaya menghindari dendam. Setelah itu, peserta diberikan air suci,” tambahnya.
Mereka yang terkena sabetan dari janur yang dibakar itu tidak sampai mengalami luka serius. “Hanya luka bakar biasa. Nanti beberapa harinya sembuh,” tukasnya. (zulfika Rahman/rid) Editor : M.Ridwan