Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Upacara Melasti, Belasan Ribu Krama dari 14 Banjar Adat Pakraman Turun ke Jalan

Donny Tabelak • Kamis, 6 April 2023 | 13:05 WIB
Arak-arakan krama Desa Adat Buleleng yang membawa sarad dan kotak ampilan saat melasti, Rabu (5/4) kemarin.  (EKA PRASETYA/RADAR BALI)
Arak-arakan krama Desa Adat Buleleng yang membawa sarad dan kotak ampilan saat melasti, Rabu (5/4) kemarin. (EKA PRASETYA/RADAR BALI)
Biasanya upacara melasti dilaksanakan jelang hari raya Nyepi. Namun di Desa Adat Buleleng, upacara melasti baru dilaksanakan setelah Nyepi. Tepatnya saat Purnama Kedasa. Seperti apa?

Eka Prasetya, Buleleng

SUARA kul-kul di Pura Desa Adat Buleleng bertalu-talu. Krama yang tinggal di sekitar pura desa pun menyemut. Mereka bersiap mengikuti upacara melasti di Pura Segara Buleleng yang berlangsung pada Rabu (5/4). Prosesi itu bertepatan dengan rahina buda umanis perangbakat sekaligus purnama kedasa.

Krama tampak berkumpul di pura desa sembari membawa pratima di masing-masing sanggah dadia. Arca-arca itu kemudian dibawa dengan cara berjalan kaki menuju Pura Segara Desa Adat Buleleng. Pura itu berjarak sekitar empat kilometer dari pura desa.

Melasti di Desa Adat Buleleng menjadi salah satu upacara yang dinanti. Belasan ribu krama turun ke jalan mengikuti upacara tersebut. Krama itu tersebar di 14 banjar adat pakraman.

Saking banyaknya krama yang berpartisipasi, perjalanan mengular hingga sekitar dua kilometer. Desa adat mencatat ada 79 buah sarada dan 27 buah kotak ampilan yang dibawa krama untuk mengikuti upacara melasti.

Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna mengungkapkan, upacara melasti dimulai tepat pada pukul 14.00 siang.

Upacara diawali dari prosesi nepak kulkul pajenengan di Pura Desa Adat Buleleng. Selanjutnya krama bersiap membawa sarad dan kotak ampilan dari masing-masing pura dadia untuk menjalani proses pamelastian.

“Setiap melasti, pasti diawali dengan sarad dari Pura Siwa Sapujagat. Maknanya, pratima dari Pura Sapujagat ini membersihkan dan mengawal sarad dari pura-pura lainnya dalam perjalanan dari pura desa menuju pura segara,” ungkap Sutrisna.

Tatkala sampai di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng, selanjutnya krama akan menjalani proses mekobok. Mereka yang membawa kober, kotak ampilan, maupun sarad, harus berjalan menerobos air laut. Prosesi itu memiliki makna proses pembersihan. Setelah itu baru para krama masuk ke Pura Segara Buleleng.

“Ada proses ngewangsuh paica di Pura Kahyangan Tiga juga. Selanjutnya masing-masing dadia melakukan persembahyangan. Baru setelah itu tirta wangsuh dipercikkan pada parahyangan dan palemahan masing-masing, sedangkan tirta pura segara di-tunas,” ungkapnya.

Lebih lanjut Sutrisna mengungkapkan, Desa Adat Buleleng secara turun temurun melaksanakan melasti usai hari raya Nyepi. Tepatnya pada purnama kedasa. Hal itu merujuk pada lontar Sundarigama dan lontar Sang Hyang Aji Swamandala. (*) Editor : Donny Tabelak
#kulkul #melasti #desa adat buleleng #Purnama Kedasa #krama #pratima