INI sama sekali bukan tradisi baru. Sudah sejak ratusan tahun silam. Perbekel Kampung Gelgel, Sahidin menuturkan, tradisi megibung dengan umat non Muslim saat berbuka di hari ke-20 puasa telah berlangsung sejak lama.
Bahkan menurutnya itu berlangsung sejak zaman kerajaan. Mengingat umat Islam di Desa Kampung Gelgel telah ada sejak 600 tahun yang lalu. “Mulanya megibung saat berbuka di hari ke-20 puasa mengundang Raja Klungkung dan keluarga puri. Kemudian kami kembangkan dengan mengundang umat lainnya, di antaranya yang tergabung dalam FKUB (Forum Komunikasi Umar Beragama) dan pihak lainnya,” terangnya.
Kegiatan itu menurutnya bertujuan untuk menciptakan keharmonisan dengan menumbuhkan rasa toleransi antar umat beragama. Sebagai bentuk toleransi, hidangan dalam tradisi megibung pun bebas dari daging sapi yang merupakan hewan disucikan dalam keyakinan umat Hindu.
“Makanan yang dihidangkan dalam megibung ini dibuat oleh warga kami di masing-masing rumah tangga. Itu sebabnya makanan yang dihidangkan dalam sebuah wadah sagi tersebut berbeda-beda,” ungkapnya.
Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta yang turut hadir dalam tradisi megibung tersebut mengimbau kepada masyarakat Desa Kampung Gelgel agar terus menjaga kebersamaan, keharmonisan dan silaturahmi yang sudah terjalin sejak dahulu.
“Jaga kebersamaan dan keharmonisan yang sudah terjalin sejak dulu. Kerukunan, kebersamaan selalu menjadi contoh antar umat beragama untuk menjadi kekuatan kita membangun rasa cinta kasih antar sesama,” ujarnya. [dewa ayu pitri arisanti/radar bali] Editor : Hari Puspita