Tokoh adat di Bali, I Gede Marayana meninggal dunia pada usia 75 tahun. Sosoknya tak hanya dikenal sebagai tokoh adat, tapi juga sebagai penyusun kalender Bali. Seperti apa kisah hidupnya?
SUASANA di rumah duka kawasan Banjar Dinas Galiran, Desa Baktiseraga, terlihat ramai pelayat. Mereka menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya I Gede Marayana, tokoh adat yang juga pakar wariga di Bali.
Marayana merupakan salah seorang dari sedikit pakar wariga di Bali. Bahkan bisa dibilang saat ini ia satu-satunya pakar wariga di Buleleng. Dia juga ahli membuat kalender. Bahkan hari baik maupun waktu piodalan di pura-pura, sudah bisa ia prediksi hingga seratus tahun mendatang.
Selama ini Marayana tak pernah mengeluh sakit. Dia masih aktif berkegiatan. Bahkan dua pekan lalu dia masih sempat mengajar di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Agama Hindu Singaraja.
Tapi kondisi kesehatannya mulai memburuk pada Senin (10/4) pekan lalu. Tatkala itu Marayana mengeluhkan nafsu makan yang menurun. Dia sempat dibawa ke salah seorang dokter praktik swasta. Sayang kondisinya tak berubah. Alih-alih lebih baik, Marayana justru mencret dan mengalami dehidrasi.
Keesokan harinya, keluarga melarikan Marayana ke RS Kerta Usadha karena kondisi kesehatan yang terus menurun. Dokter menduga Marayana sakit demam berdarah. Dia pun dirawat selama lima hari di sana. Pada Minggu (16/4) sore, Marayana diizinkan pulang.
“Kami ajak pulang ke rumah di Tegal Mawar (Kelurahan Banjar Bali). Baru dua jam di rumah, tiba-tiba nge-drop lagi. Waktu itu kami baru selesai ngulapin, bapak sudah drop. Akhirnya kami bawa ke RS Bali Med,” ungkap Ni Luh Putu Sri Mahartini, 53, putri sulung dari mendiang Marayana saat ditemui kemarin (18/4).
Namun selama perawatan, kondisi kesehatannya terus menurun. Marayana dinyatakan menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 16.50, Senin (17/4) sore. “Diagnose terakhir itu pneumonia. Karena bapak sempat sesak nafas,” jelas Sri.
Menurut Sri, kondisi kesehatan ayahnya menurun drastis sejak sepekan terakhir. Tadinya Marayana masih aktif berkegiatan. Sejak masuk usia pensiun, Marayana memang aktif berkegiatan di adat. Dia tercatat sebagai prajuru di Desa Adat Galiran. Selain itu dia juga menjadi pengurus pengempon pura di Pura Jagatnatha Singaraja.
“Kalau dibilang kecapekan tidak juga. Karena almarhum benar-benar aktif. Senang bermasyarakat dan banyak kegiatan sosial. Justru kalau dilarang itu malah tidak enak badan. Makanya tidak menyangka sekali,” imbuhnya.
Lebih lanjut diungkapkan, Marayana menjadi tokoh yang menciptakan diagram pengalantaka. Diagram itu dapat menentukan penanggalan dalam kalender Bali. Sehingga menjadi acuan dalam penyusunan penanggalan. Diagram itu mengacu pada perhitungan surya (matahari), candra (bulan), dan rasi bintang.
Penyusunan diagram itu disempurnakan selama bertahun-tahun. Marayana sendiri mulai menggunakannya sebagai acuan penyusunan tanggal dan dewasa ayu (hari baik) sejak 1993. Alhasil pada tahun 2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberi sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) terhadap diagram pengalantaka temuan Gede Marayana. (eka prasetya/bersambung)
Editor : M.Ridwan