Nestapa hidup itu belum jelas kapan akan berakhir. Sejak tiga bulan lamanya, Ni Nyoman Suki, hanya bisa berbaring di tempat tidurnya. Sejak divonis kanker rahim, hingga harta habis untuk berobat.
BUKAN hal yang mudah untuk sabar dan tabah menghadapi cobaan hidup. I Ketut Merta, 62, baru saja selesai menyuapi sang istri Ni Nyoman Suki untuk makan. Di ranjang tempat tidur rumahnya yang ada di Lingkungan Tengah, Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem itu ia habiskan hari-harinya lantaran tak bisa bangun akibat sakit kanker rahim yang menyerangnya sejak 4,5 tahun lalu.
Sang suami I Ketut Merta inilah yang sehari-hari mengurus istrinya dengan sabar. Sejak tiga bulan belakangan, sang istri hanya bisa berbaring di ranjang akibat sakit kanker yang terus menggerogoti tubuh sang istri. “Ya kalau makan saya yang suapin. Sejak tiga bulan lalu hanya bisa tidur,” katanya ditemui hari Rabu (21/6/2023).
Sakit yang diderita perempuan berusia 55 tahun itu pun memantik reaksi beberapa orang dan tokoh untuk sekadar menengok kondisi Suki. Dalam satu pekarangan rumahnya itu, dihuni tiga kepala keluarga. Dan tergolong kurang mampu. “Saya hanya berdua sama istri di rumah. Anak saya dua sudah menikah dan sudah tinggal di rumah masing-masing,” kata Merta.
Merta yang kala itu mengenakan baju berwarna hitam itu pun menceritakan awal mula sang istri terjangkit kanker rahim. “Awalnya keluar darah seperti orang menstruasi. Tapi terus keluar banyak,” tuturnya.
Karena khawatir pendarahan, akhirnya ia membawa ke rumah sakit untuk periksa. Hasil pemeriksaan awal, dokter mengatakan, kondisi itu merupakan fase seorang perempuan untuk mengakhiri masa datang bulan. “Tapi karena terus seperti itu, akhirnya diperiksa lagi dan divonis kanker rehim,” ucapnya.
Sejak divonis menderita kanker rahim, Merta pun mencoba menenangkan sang istri dan memberikan semangat untuk sembuh. Bahkan sejak saat itu juga sang istri dibawa berobat. “Terus berobat. Sampai berobat non medis juga saya lakukan,” terang Merta.
Ia pun mengaku, dengan kondisi ekonomi pas-pasan, ia terus berusaha mengobati sang istri untuk bisa sembuh. Sayangnya, hingga saat ini tak ada hasil. “Sampai Seluruh tbungan saya habis untuk berobat,” imbuhnya.
Kondisi Suki semakin parah karena hanya bisa terbaring di ranjang dengan kondisi perut yang sedikit membengkak. Sang suami pun harus sigap dalam merawat. “Seperti tidak boleh telat makan minum. Makannya hanya bisa pisang. Kalau yang lain muntah,” paparnya.
Sebagai buruh serabutan dengan penghasilan tak menentu, cobaan yang dialami keluarga Merta cukup berat. “Saya kerja serabutan. Kadang jadi buruh bangunan atau apapun yang penting dapat upah. Dalam sehari saya dapat kadang Rp 30 sampai 50 ribu,” katanya sembari menyeka air matanya.
Di tengah terpaan sulit itu, ia berharap ada uluran tangan dari masyarakat luas. Sehingga bisa meringankan beban perekonomian keluarga. “Paling utama istri sembuh. Saya juga berharap dapat bantuan,” kata Merta.
Sementara itu, Lurah Subagan, I Ketut Oka Putra ,mengaku baru mengetahui ada warganya yang mengalami kesulutan dengan kondisi sakit kanker rahim. Pihaknya berjanji akan segera melakukan komunikasi dengan Dinas terkait agar keluarga dari Nyoman Suki segera dapat bantuan dari pemerintah. “Informasinya saya baru dapat. Makanya setelah tahu langsung ssya komunikasikan ke pemerintah agar secepatnya dapat bantuan,” tukasnya. (*)
Editor : Hari Puspita