Beragam lukisan hasil karya seniman di Tabanan yang tergabung dalam komunitas Perupa Maha Rupa Batukaru ujuk karya di Pameran Temporer Museum Subak Tabanan. Mereka menampilkan hasil karya yang bercerita tentang subak di Tabanan dan Bali Umum yang terdegradasi. Seperti Apa?
SEJAK pukul 09.00 pagi pameran temporer di Museum Subak Tabanan yang bekerjasama dengan komunitas Perupa Maha Rupa Batukaru dibuka untuk umum, Selasa (25/7).
Pameran temporer yang bertajuk Melestarikan Subak dari Perspektif Perupa Tabanan ditampilkan di ruangan lantai atas Museum Subak Tabanan. Sejumlah siswa SMP dari salah satu sekolah dan masyarakat di Tabanan mulai berdatangan untuk melihat lukisan hasil karya perupa Tabanan.
Tidak hanya lukisan yang dipamerkan, melainkan pula sejumlah ukiran patung dari seniman yang juga mengambil tema tentang subak Tabanan.
Dari sejumlah karya lukisan yang ditampilkan hampir sebagian menceritakan posisi Subak Pertanian di Tabanan dan Bali umumnya yang tergerus derasnya laju pembangunan perumahan hingga akomodasi pariwisata.
Salah satunya hasil dari karya I Wayan Sunadi yang melukis cerita The Subak Dukuh Dilema.
Dalam lukisan itu dia menjelaskan kondisi real subak di Bali terkini. Dimana dalam kondisi dilematis seperti makan buah simakama kata pepatah.
Subsidi, proteksi baik saprodi, harga jual hasil padi dan perhatian pemerintah yang masih setengah hati kepada petani serta derasnya arus pariwisata menyebabkan semakin meningkatnya alih fungsi lahan. Sawah-sawah sudah masuk deposito bank. Irony in paradise.
Selain itu ada pula hasil karya lukisan dari Made Wahyu Senayadi “Sawahnya Sudah Dijual". Dan berbagai hasil karya lukisan lainnya identik dengan cerita subak.
“Inilah cara dari perupa merespon langsung kondisi subak di Tabanan yang kian waktu kian terhimpit. Sehingga bagaimana cara kami di Perupa menuangkan fakta itu dan ide melestarikan subak dalam sebuah lukisan,” kata Pande Putu Ogy Mega Sanjaya salah satu dari anggota Komunitas Perupa Maha Rupa Batukaru yang ditemui di Museum Subak Tabanan, Selasa kemarin.
Dia menyebut pameran temporer yang bertajuk Melestarikan Subak dari Perspektif Perupa Tabanan ada sekitar 40 lebih perupa di Tabanan dilibatkan yang tergabung dalam komunitas Perupa Maha Rupa Batukaru.
Setiap seniman mengirimkan satu atau dua buah karyanya untuk ditampilkan di pameran temporer. Mulai dari lukisan subak yang terasering, landscape, irigasi pertanian, pura, alat pertanian, petani hingga hasil pertanian.
“Hasil karya seniman ini sedikit tidak kami ingin memperlihatkan kondisi subak. Juga memperkenal subak lewat karya seni,” ungkapnya.
Menurut Pande, mengambil tema subak secara garis besar, karena Tabanan identik dengan subak. Bahkan Tabanan dikenal sebagai daerah lumbung pangannya Bali.
Apa yang akan dibanggakan kalau tidak bertahan dengan subak dan melestarikan subak.
“Bertahan dengan subak dari perspektif seniman bukan hanya menjadi petani. Sebagai perupa merespon subak dengan cara melukis,” pungkasnya.
Sementara itu Kepala UPTD Museum Subak Tabanan, Si Putu Putra Eka Santi mengaku pameran temporer di Museum Subak Tabanan adalah untuk merangkul para seniman yang gundah tentang subak di Tabanan yang terus terdegradasi oleh berbagai komponen. Mulai pariwisata hingga kawasan permukiman warga. Karena pertanian bukan hanya identik dengan pangan, tetapi pariwisata dan budaya.
“Sudah dari turun temurun budaya subak pertanian saat ini, namun mulai diabaikan,” terangnya.
Kondisi subak yang demikian, para perupa di Tabanan menuangkan goresan lukisan. Ada lukisan yang bersyukur dengan adanya subak dan keindahan. Adapula subak yang dilematis dengan arus pariwisata di Bali.
“Sehingga kami di Museum Subak Tabanan mengenalkan dan mengedukasi masyarakat lewat karya seni tentang subak dan pengenalan budaya di Subak agar tetap dipertahankan,” pungkasnya.***
Editor : M.Ridwan