Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Geliat Sentra Industri Tedung di Desa Mengwi, Badung (2) : Regenerasi Usaha Orang Tua

Ni Made Ari Rismaya Dewi • Minggu, 13 Agustus 2023 | 23:05 WIB
BERLANJUT KE ANAK : Usaha payung tradisional ini dilanjutkan dari orang tua kepada anaknya (adrian suwanto).
BERLANJUT KE ANAK : Usaha payung tradisional ini dilanjutkan dari orang tua kepada anaknya (adrian suwanto).

Seiring bertambahnya usia, Ngurah memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan usahanya ke anak keempatnya yang akrab disapa Gus Arik sejak lima tahun lalu. Di tangan sang anak, IKM Dewi Ratih berkembang pesat dengan menjajaki penjualan dari sosial media dan website.

DARI penuturan cerita, hingga saat ini, pelanggannya pun kian bertambah. Tentunya pemasaran ini berbeda dengan masanya yang harus melakukan promosi melalui pameran-pameran.

Terkait proses pembuatannya, Dewi Ratih memiliki workshop yang terletak di Jalan Kamboja Mangupura Nomor 99 X, Pakuaji, Gulingan, Kecamatan Mengwi.

Saat awal berdiri, ia mengerjakan tedung mulai dari mencari bahan baku, merakit, hingga pemasarannya dengan 36 karyawan untuk membuat payung adat dan 41 karyawan untuk melukis tedung sesuai permintaan pelanggan.

Kala itu ia juga tak memiliki banyak pemondokan yang bisa dimanfaatkan untuk pengerjaan tedung. Hingga akhirnya ia meminta para karyawannya untuk membuat mengontrak tanah dan membuat komponen-komponen yang diperlukan dari sana.

“Tapi standar kualitasnya sudah sesuai, karena dia bekas karyawan saya. Sehingga saya tinggal merakit saja. Rot-rotan, betaka, iga-iga, menur, katik, ukirnya sudah ada karyawan saya,” kata mantan PNS ini.

Dengan demikian, karyawannya di workshop tinggal mengeringkan, mengawetkan, dan merakit tedung dengan mengisi anyaman ikatan di dalamnya. Setelah jadi, barulah tedung ditukup dengan kainnya dan dilukis ataupun mengisi ornamen sesuai dengan pesanan. Seperti tambahan ornament kerang, mutiara, hingga batok kelapa. Setelahnya, tedung di-packing dan siap dikirim lewat kargo atau pos.

Kualitas dari serangkaian pengerjaannya menjadi ciri khas tedung Dewi Ratih. Sehingga usahanya ini dikenal menghasilkan tedung dengan kualitas yang ‘top’ dan tidak sampai bubukan atau dimakan rayap. Selain itu, produknya telah memiliki sertifikat yang memastikan tedung tak mengandung racun hingga sertifikat illegal logging. Sehingga memang sudah sesuai dengan standar ekspor.

Harganya pun disesuaikan dengan tingkat kerumitan yang diminta. Paling mahal, ia pernah melepas harga 92 dollar untuk satu tedung ekspor.

Pemesanan untuk ekspor berkisar dari 50 biji hingga maksmial satu kontainer. Sementara untuk payung lokal, ia hanya membuat tedung agung dengan kualitas juara 1. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp700 ribu hingga Rp1 juta per tedung.[*]

Editor : Hari Puspita
#tradisi #payung #mengwi