Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Uniknya Kampung Gelgel Muslim, Klungkung (1) : Mereka Keturunan Prajurit Majapahit dan Syekh Abdul Jalil

Hari Puspita • Minggu, 10 September 2023 | 22:23 WIB
DIREHAB BERKALI-KALI : Masjid Nurul Huda yang ditengarai sebagai masjid pertama di Bali ini dibangun di era Kerajaan Gelgel, Klungkung oleh prajurit muslim dari Majapahit.(hari puspita/radar bali)
DIREHAB BERKALI-KALI : Masjid Nurul Huda yang ditengarai sebagai masjid pertama di Bali ini dibangun di era Kerajaan Gelgel, Klungkung oleh prajurit muslim dari Majapahit.(hari puspita/radar bali)

Tak banyak yang paham bahwa Kampung Gelgel Muslim ini punya sejarah panjang tentang kedatangan Nak Selam di Bali. Dari prajurit muslim zaman Majapahit hingga Kyai Abdul Jalil alias Syekh Siti Jenar pun pernah bermukim di sini, sebelum ke Banjar Saren Jawa, Karangasem.

NAMANYA Pak Sahidin. Umurnya 60 tahun lebih, di tahun 2023 ini. Pria yang ramah, banyak senyum, ini adalah perbekel di Kampung Gelgel Muslim, Klungkung. Kepala desa, di era pemerintahan Indonesia modern.

“Mari, mari. Silakan diminum,” ujarnya, mempersilakan menikmati teh hangat dan roti kaleng, saat Jawa Pos Radar Bali bertandang, beberapa waktu lalu.

Setelah sejenak berbasa-basi sejenak, cerita pun mengalir. Tentang Kampung Gelgel sebagai perkampungan muslim di Klungkung yang berdekatan dengan istana kerajaan Klungkung.

Posisinya di tengah perkotaan. Di area puri atau istana atau kedaton Kerajaan Gelgel,Klungkung. Atau perkotaan Semarapura.

Ini adalah sebuah perkampungan lama. Dari era Majapahit. Era Dalem Ketut Ngelesir. Dari penelusuran koran ini, Kerajaan Gelgel ini berkuasa di Bali,  era tahun 1380 – 1460 Masehi, diperintah Raja Dalem Ketut Ngelesir.

“Kalau menurut cerita, leluhur kami bermukim di sini sudah ratusan tahun silam. Sudah turun temurun. Mungkin leluhur kami ini muslim tertua yang hadir di Bali,” tutur Pak Sahidin.

Apakah di Jawa sudah ada kampung muslim di zaman Majapahit? Sudah ada. Kampung Islam lama di Jawa, tempat makam Fatimah binti Maimun, di Leran, Gresik, bahkan sudah ada sejak era Kerajaan Kediri, Jawa Timur.

Makam itu dari penelusuran berangka tahun 495 Hijriah atau 1101 Masehi. Ini tahun sebelum Kerajaan Tumapel atau Singasari, tahun 1200-an. Sebelum Majapahit berdiri. Sudah ada perkampungan muslim di Gresik.

Sedangkan di era akhir Majapahit di wilayah Surabaya sekarang juga sudah ada perkampungan muslim. Yakni Ampeldenta alias Ngampel. Atau daerah Ampel. Tempat bermukim Sunan Ampel.

Singkat cerita, dari sejumlah cerita yang dirangkum dari berbagai sumber warga Klungkung Hindu dan Islam, ada kesamaan versi.

Bahwa di era ini, syahdan, suatu ketika, Raja Gelgel Dalem Ketut Ngelesir datang ke Jawa, ke istana Majapahit pada waktu Raja Hayam Wuruk  (era Prabu Hayam Wuruk adalah tahun 1350-1389 Masehi). Ini karena ada pertemuan rutin mandala Majapahit bagi kerajaan-kerajaan seluruh Nusantara.

Usai pertemuan dengan Prabu Hayam Wuruk, Dalem Ketut Ngelesir pun kembali ke Bali. Di luar dugaan,  oleh pihak pemerintah Majapahit mendapat penghormatan dengan pengawalan 40 orang prajurit pilihan sebagai pengiring.

Dan, prajurit-prajurit terbaik dari Majapahit ini ternyata adalah prajurit muslim. Ini menunjukkan kehidupan yang harmonis, berbhinneka tunggal ika pada masa Prabu Hayam Wuruk memang sudah terjalin.

Harmoni umat Hindu, Buddha, Islam, Kapitayan, semua terjalin dengan nyata dari kisah ini.

Dan, setelah sampai di wilayah Gelgel, Klungkung,  40 orang prajurit ini diberi tempat atau hadiah tanah, di kotaraja. Yakni di lingkungan Puri Gelgel. Sekarang masuk wilayah perkotaan Semarapura, Klungkung.

Oleh Raja Dalem Ketut Ngelesir mereka dipersilakan memilih menetap, tinggal di perkampungan muslim itu, atau pulang. Ada yang balik kembali ke Jawa, ke Majapahit dan  ada berpindah ke tempat lain ke timur Bali.

Namun, sebagian besar mereka bertahan. Di abad ke-14, prajurit muslim asal Majapahit itu tersebut untuk keperluan beribadah mereka mendirikan masjid yang jadi peninggalan sampai sekarang.Masjid itu adalah Masjid Nurul Huda.

”Itu masjid tua (Nurul Huda). Bentuk yang sekarang ini merupakan bentuk setelah berkali-kali direhab. Kalau bentuknya yang dulu tentu sangat sederhana,” tutur Pak Sahidin.

Setelah beberapa kali perbaikan, akhirnya masjid itu dibangun lebih kokoh dengan kerangka beton. Sebagaimana masjid kekinian. Ada kubahnya. Dibangun dua lantai pada tahun 1989.

Beberapa sisa perabot lama, macam mimbar untuk khotbah Jumat, di masjid itu terbuat dari kayu jati. Berukir khas Bali. Yang disebut-sebut ada sejak 1836 silam.

Dari penuturan Pak Sahidin ini menyebutkan bahwa orang- orang Islam di Gelgel sampai sekarang mengakui asal mereka dari Jawa. Mereka (prajurit muslim era Majapahit) berjumlah 40 orang datang ke Gelgel sebagai prajurit pengiring Dalem Ketut Ngelesir. [*]

Editor : Hari Puspita
#Islam di Bali #klungkung