Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Uniknya Kampung Gelgel Muslim, Klungkung (2): Hidup Dalam Keragaman Harmoni Menyebar ke Penjuru Bali

Hari Puspita • Minggu, 10 September 2023 | 23:25 WIB
Sahidin, Perbekel Kampung Gelgel,Klungkung. (hari puspita/radar bali)
Sahidin, Perbekel Kampung Gelgel,Klungkung. (hari puspita/radar bali)

Di era pemerintahan Putra Mahkota Dalem Ketut Ngelesir, yakni Dalem Waturenggong yang memerintah dari tahun 1480 – 1550 Masehi, datang Syekh Datuk Abdul Jalil. Nah, Abdul Jalil ini adalah nama asli Syekh Siti Jenar.

MENURUT  cerita yang dirangkum  koran ini, Syekh Datuk Abdul Jalil alias Kyai Jalil ini mendapat tugas syiar Islam di Bali, oleh Kerajaan Demak, di Jawa Tengah. Diperkirakan saat era Raden Patah yang berkuasa di Gelagah Wangi atau Demak Bintara.

Wilayah Raja Dalem Waturenggong, yang berpusat di Klungkung (sekarang) tidak hanya berkuasa di Bali saja. Tetapi juga menguasai sejumlah kadipaten atau kerajaan kecil di Lombok, Sumbawa hingga Blambangan (Blambangan dulu bukan hanya meliputi Banyuwangi saja. Tetapi meliputi wilayah Banyuwangi, Bondowoso, Probolinggo, sebagian Jember, sebagian Pasuruan, Jawa Timur).

Kyai Jalil ini menurut Pak Sahidin datang bersama sejumlah pengikutnya dan membawa istri dan keluarga dari Jawa, datang ke Gelgel. Juga sempat bermukim di sana, di Gelgel, Klungkung.

Dalam buku Atlas Wali Songo-nya almarhum Agus Sunyoto,  (halaman 314-333, terbitan IIman, Lesbumi PBNU, cetakan ke-10, Januari 2019) disebutkan bahwa Syekh Siti Jenar atau Syekh Datuk Abdul Jalil adalah Wali Songo pada periode awal atau periode pertama, semasa Sunan Ampel masih hidup).

Singkat cerita, Raja Dalem Waturenggong menyambut baik kedatangan Syekh Abdul Jalil yang mengemban syiar Islam. Meskipun tidak memeluk agama Islam yang disyiarkan Syekh Abdul Jalil.

Berikutnya,  setelah di Kota Raja, di Kampung Gelgel, Klungkung,  Syekh Abdul Jalil berangkat ke wilayah Bali. Ke wilayah Budakeling, Bebandem, ke Banjar Saren (namanya sekarang Banjar Saren Jawa).

Perjalanan ini atas amanah dari Dalem Waturenggong untuk menaklukkan sapi warak yang mengamuk di wilayah Budakeling, Karangasem.

Jarak antara Desa Gelgel ke Banjar Saren Jawa, kira-kira, menurut Google Map,  15, 1 kilometer lewat jalan menuju ke arah Besakih, Karangasem.

Waktu itu berdasarkan cerita rakyat (folklore) setempat, sapi warak yang mengamuk di Budakeling akhirnya ditaklukkan Syekh Abdul Jalil.

Nah, karena sapi warak itu dikalahkan malam hari saat tertidur atau sare, akhirnya kampung atau banjar (sebutan di Bali) itu disebut Banjar Saren Jawa. Lantaran yang menaklukkan sapi warak adalah orang-orang dari Jawa. Yakni Kyai Abdul Jalil dan para pengikutnya.

Syekh Abdul Jalil yang di Jawa dikenal juga sebagai Syekh Siti Brit atau Syekh Lemah Abang ini setelah peristiwa penaklukan sapi warak, tinggal di Banjar Saren Jawa dan menikah dengan wanita asal Klungkung. Juga berketurunan,  beranak pinak lintas generasi, selama ratusan tahun hingga era milenial ini.

Dari Gelgel di Klungkung ke Banjar Saren Jawa, di Karangasem komunitas muslim menyebar ke berbagai tempat komunitas Islam lain di Bali. Seperti di wilayah Pegayaman, Buleleng, Negara, Jembrana, Bedugul, Tabanan, Kepaon, hingga Pulau Serangan, Denpasar.

Mereka kawin mawin.”Dari Gelgel ini komunitas muslim menyebar ke seluruh Bali, selama ratusan tahun. Kami juga berinteraksi, bersaudara dengan warga muslim di Banjar Saren, Bebandem, Karangasem,” jelasnya.

Sampai hari ini mereka telah beranak pinak, tentu saja. Sudah menjadi ribuan kaum Muslim yang sudah menetap ratusan tahun di Bali. Hingga sampai saat ini hubungan kekeluargaan antara kerajaan Klungkung yang sekarang berada di Puri (lingkungan istana) Kerajaan Klungkung dengan warga masyarakat Desa Kampung Gelgel. Mereka hidup berdampingan dalam keharmonisan selama ratusan tahun sampai sekarang.

Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa mereka adalah zuriyat Syekh Datuk Abdul Jalil alias Kyai Jalil dan keturunan dari 40 prajurit muslim dari Kerajaan Majapahit.

“Cerita dari kakek, nenek leluhur kami seperti itu (ada pernikahan, kawin mawin antara keturunan prajurit Majapahit Muslim dengan zuriat Kyai Jalil alias Syekh Abdul Jalil, juga dengan krama Bali),” ujar Pak Sahidin.

Dan, sampai hari ini mereka hidup damai menyama braya sebagai krama Bali yang muslim alias nak Selam. Dengan tradisi toleransinya yang terjaga lintas generasi. [selesai]

Editor : Hari Puspita
#Islam di Bali #sejarah #klungkung