Angkutan umum terus tergerus dan sepi minat di Denpasar, karena banyak yang lebih memilih kendaraan pribadi. Tapi, tidak berlaku bagi angkot di Sanur trayek Kreneng –Sanur yang masih bertahan sampai sekarang. Simak kisah fakta berikut:
PASAR Sindu menjadi tempat mangkal angkutan warna hijau ini. Mobil angkutan umum itu masih beroperasi tapi hanya untuk sekitar Sanur. Sistem jalannya bukan nunggu penuh baru jalan, tapi sistem charter.
Keberadaan angkutan umum ini sebenarnya memudahkan mendapat pelayanan transportasi umum. Baru-baru ini, 17 September lalu perayaan Hari Perhubungan Nasional ke-53 dengan tema "Melaju untuk transportasi Maju". Namun, angkutan umum semakin terpojok dan diperkirakan akan punah di Denpasar.
Banyaknya kendaraan pribadi membuat transportasi publik terabaikan. Bahkan, angkutan umum atau lebih sering disebut angkot semakin terpinggirkan. Namun, ada juga yang masih mempertahankan angkot di Kota Denpasar dan beroperasinya di kampung wisata.
Penumpang angkutan dj Sanur itu lebih banyak turis yang berkegiatan di sana. Maklum Pasar Sindu ini banyak dikunjungi WNA karena berada di kawasan wisata. Selain bisa membeli kebutuhan sehari-hari di pasar, sekitar sana ada pub untuk ngebir atau juga banyak home stay.
Sopir angkot yang tersisa dan aktif di Sanu4 sekitar 7 mobil. Itupun kondisi mobilnya sudah tua. Rata-rata, mereka sudah narik dari tahun 1980an. Para sopir juga sudah berumur sekitar 60 tahunan. “Dulu saya tahun 1986an 75 orang. Sekarang ya yang aktif tujuh orang,” ungkap sopir angkot I Made Ada sembari menggerakkan jari untuk menghitung teman-temannya yang masih aktif narik, saat ditemui kemarin (18/9).
Made Ada yang ditemui, baru datang mengantarkan turis. Sudah menjadi rezekinya, pagi kemarin ia telah mengantarkan tiga wisatawan asing dari negara Jepang, Belanda dan Australia. Biasanya katanya sepi. Kalau tidak ada bule hanya mengandalkan penjual atau pembeli yang memang sudah menjadi pelanggan. “Ada pedagang yang minta ke Desa Intaran ya bayarnya kalau dari Pantai Sindu ke Intaran Rp 10 ribu karena antar dia saja,” tuturnya.
Sejatinya, angkot ini masih dibutuhkan. Baik turis atau warga lokal. Karena menurutnya, tidak mungkin mereka memakai taksi. Misalkan pedagang atau pembeli bawa barang bawaanya. Menurut, Pria asal Singaraja angkot kurang diremajakan. Ia kaget melihat angkot dari Tabanan yang kondisinya bagus dan terawat. “Saya lihat angkot Tabanan waktu ke Ubung bagus warnanya merah ternyata dapat perhatian dari Pemkab di sana. Berbeda dengan Denpasar sebesar ini tidak punya dana,” gerutunya.
Anehnya, pemerintah Denpasar yakni Dinas Perhubungan (Dishub) juga membiarkan tidak perlu perpanjang izin untuk angkot hijau ini seperti izin trayek, uji kendaraan atau KIR. Meski itu memudahkan sopir, tapi ada ketakutan jika terjadi hal yang tidak diinginkan karena kendaraannya bodong . “Kalau kecelakaan bagaimana. Memang tidak ditilang tapi itu takutnya. Katanya ada peremajaan itu hanya omong-omong doang,” sesalnya.
Made Ada terpaksa memperpanjang samsat angkutanya dengan mengganti status kendaraan pribadi bukan kendaraan umum lagi. Walau pajak kendaraan pribadi biaya yang lebih tinggi dibandingkan saat masih plat kuning. Karena mobil pribadi, plat yang seharusnya hitam ia warnai jadi kuning karena penumpang tidak mau naik kalau platnya hitam makanya dia akali plat yang sebelumnya hitam diwarnai kuning. “Itu saya samsat biayanya Rp 640 ribu, berbeda jauh kalau masih izin trayek ini sekitar 100 ribuan,” katanya.
Hal itu dia lakukan karena tinggal di Jimbaran Bukit dan mangkal di Sanur. Sebelum Covid-19 ia juga berapa kali mendapat permintaan charter misalkan Ubung atau ke Pelabuhan Padang Bay. “Kalau dari Jimbaran di jalan ada nyetop minta anter. Rombongan gitu. Itu sebelum Covid-19,” terangnya.
Pajak angkutan umum per tahun Rp 183 ribu per tahun sementara kalau jadi kendaraan pribadi hampir Rp 700 ribu. Harga mobilnya juga tidak mahal kalau dijual laku Rp 7 juta. Namun, ia memilih masih mempertahankan karena masih bisa memberikan penghidupan. "Sayangnya kami tidak ada izin tertulis. Trayek kami Kreneng-Sanur. Seperti ini bebas tidak distop dapat kemudahaan. Tidak seperti dulu polisi sering nilang," jelasnya
Ia berharap pemerintah tegas mengenai keberadaan angkot. Jika masih dipertahankan tolong diremajakan sekalian. "Takutnya ada apa-apa. Walau benar tidak benar tetap salah saja kita karena kendaraan bodong. Saya sudah bertemu dan rapat dengan berbagai pihak bahkan DPRD bahas angkutan sama saja jawabannya katanya akan diremajakan. Terus jawabannya bawa sajalah(tidak perlu izin)," ucapnya.
Untuk biaya bensin sehari menghabiskan Rp 70 ribu, walau setoran tidak menentu. Bahkan, pernah suatu hari tidak mendapat penumpang. Namun, rata-rata pendapatan Rp 100 ribu per hari. "Pemerintah harusnya membantu. Peremajaan dan izin-izin dan lainnya. Biar kami jelas," harap sopir yang berusia 69 tahun. ***
Editor : M.Ridwan