Bunga teratai jadi salah satu barang yang paling dicari di Bali. Baik untuk kebutuhan upakara maupun hiasan. Sebuah kebun di Desa Patemon, Kecamatan Seririt, jadi sentra penghasil bunga teratai. Simak kisahnya!
WANITA paro baya itu tampak sibuk memilah bunga-bunga teratai . Tangannya sibuk membasuh bunga, sementara matanya mencermati kualitas bunga. Bunga yang dianggap prima, diletakkan dalam wadah kontainer. Pertanda bunga siap kirim ke pasar tradisional. Sementara yang berkualitas premium, diletakkan ke wadah pipa berisi air.
Wanita itu adalah Ni Nyoman Tri Padmi Laksmi, 53. Wanita asal Desa Suwug, Buleleng itu, sudah menggeluti perkebunan bunga teratai alias water lily sejak delapan tahun terakhir.
Laksmi merupakan pemain baru di bidang pertanian. Jauh sebelumnya dia merupakan karyawan di sebuah art shop. Berbekal pengalaman itu, dia kemudian berkecimpung di dunia pariwisata selama lebih dari dua dasawarsa. Sejak 2015, dia memilih banting haluan sebagai petani.
Baca Juga: ‘Ariel’ Suardana Didesak Tunjukkan Bukti Akta Jual Beli, Inti: Kami Menutup Tanah Sendiri
Perkenalannya dengan tanaman teratai dimulai secara tak sengaja. Pada 2015 silam, dia berkenalan dengan seorang wisatawan mancanegara (wisman) asal Australia. Wisman itu takjub dengan iklim di Bali. “Bunga bisa mekar sepanjang tahun. Beda di negaranya dia, musim dingin sudah pasti layu,” ungkap wanita yang akrab disapa Bu Tunjung itu.
Bersama wisman tersebut, dia berkeliling ke sejumlah lokasi. Hingga akhirnya tertuju pada sebuah lahan sawah di Banjar Dinas Jeroan, Desa Patemon. Lahan seluas 80 are kemudian disulap menjadi perkebunan teratai.
Mengawalinya bukan perkara mudah. Dia harus mencari bibit ke Thailand, Bosnia, maupun Australia. Perlahan namun pasti, dia akhirnya berhasil melakukan pembibitan secara mandiri.
Baca Juga: Polda Bali Segera Gelar Perkara Lift Maut Ayuterra Resort, Polda Bali Segera Umumkan Tersangka?
Memeliharanya juga harus telaten. Laksmi mengatakan, memelihara teratai harus dengan hati. “Kalau nggak begitu, bunganya ngambul,” katanya.
Suatu ketika di salah satu kebunnya terdapat bangkai anjing yang mengambang. Saat itu juga seluruh bunga kuncup, menolak kembang. “Setelah dibersihkan dan ada upacara prayascita, baru mau kembang lagi. Percaya nggak percaya, ada unsur niskala. Karena bunga ini kan untuk sarana upacara juga,” ceritanya.
Berbagai warna bunga teratai ditanam. Mulai dari merah, hitam, kuning, ungu, biru. Kualitasnya pun beragam. Ada yang disebut jenis sudamala, ada pula yang jenis saraswati. Sesuai namanya, jenis itu digunakan untuk keperluan upacara.
Baca Juga: Momentum Kebangkitan Bali United, Bantai Stallion Laguna FC, Teco Selamat dari Tekanan Publik
“Paling banyak dicari itu warna putih. Karena untuk manusa yadnya, meayu-ayu, ngotonin, wayang, itu pakai putih. Kalau yang lain itu biasanya permintaan khusus, misalnya saat mebayuh,” jelasnya.
Laksmi menuturkan, tatkala awal memulai bisnis bunga teratai, dia langsung berhasil tembus pasar ekspor. Saat menembus pasar ekspor, setangkai bunga teratai dijual seharga lima dolar Amerika, atau setara dengan Rp 70 ribu per batang. Dalam sepekan dia bisa melakukan dua kali pengiriman. Bahkan pasarnya sudah tembus ke Jepang, Singapura, Amerika, hingga Belanda.
Namun dia hanya melakoni bisnis ekspor selama dua tahun. Alasannya ada kendala dalam pengiriman. “Kalau kirim ke luar (negeri) itu harus dua kali transit. Penerbangan juga bisa delay (tertunda), bahkan bisa cancel (batal). Karena lama di perjalanan, akhirnya layu dan rugi,” katanya. Sejak 2016 ia akhirnya memilih fokus di pasar lokal dan regional.
Baca Juga: TikTok Shop Akan Tutup? Berikut Ulasan Lengkap dan Dampaknya Bagi UMKM
Untuk pasar lokal, ia mengaku sudah menyuplai bunga ke seantero Bali. Sementara untuk regional disuplai ke Pulau Jawa serta Nusa Tenggara Barat.
Khusus untuk pasar lokal saja, Laksmi mengaku sudah kewalahan memenuhi permintaan. Sebab hari-hari besar Hindu berlangsung sepanjang bulan. Sebut saja rahina purnama, tilem, kajeng kliwon, dan berbagai hari keagamaan lainnya.
Bila sudah menuju hari besar, maka dia harus menyiapkan pasokan bunga tiga hari sebelumnya. Itu pun tak selalu tersedia. Kini jelang rahina purnama kapat dia mulai was-was. Karena permintaan melonjak.
Baca Juga: Mengerikan, Wanita Pengendara Motor Tewas Dilindas Truk yang Gagal Menanjak
“Dari sekarang sudah ada yang indent. Kapan hari waktu ramai ngaben massal juga begitu, kami kelabakan,” ujarnya.
Kendati hanya memenuhi pasar lokal, omzet yang berputar cukup menjanjikan. Setangkai bunga teratai dia jual seharga Rp 5.000. Bila permintaan sedang ramai, omzetnya bisa menyentuh angka Rp 10 juta sebulan. Bahkan sebelum pandemi menimpa omzetnya tembus Rp 27 juta sebulan.
“Dulu juga bunga kami masuk sampai ke hotel dan spa. Belum lagi florist. Sekarang belum pulih betul, belum banyak masuk ke pariwisata,” katanya.
Meski begitu, dia tidak mau patah arang. Dia juga menyiapkan produk bunga teratai kering. Bunga ini biasanya diseduh menjadi teh dan diyakini mengandung anti oksidan yang tinggi. Produk bunga kering itu tembus ke Tiongkok, Amerika Serikat, Belanda, dan Maldives.***
Editor : M.Ridwan