Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah I Made Tawa, Kakek Usia 80 Tahun yang Jalani Ujian Skripsi di Usia Senja, Sempat Terserang Stroke

Eka Prasetya • Selasa, 26 September 2023 | 13:05 WIB
I Made Tawa saat menjalani ujian proposal skripsi di STAHN Mpu Kuturan.
I Made Tawa saat menjalani ujian proposal skripsi di STAHN Mpu Kuturan.

BULELENG-Usianya tidak lagi muda. Namun bukan berarti harus berputus asa. I Made Tawa, lansia berusia 80 tahun, masih berusaha meraih gelar sarjana. Seperti apa ceritanya? 

EKA PRASETYA, Singaraja.

SEORANG kakek tampak tertatih-tatih berjalan. Dia mengenakan jas almamater berwarna merah, dengan logo Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan di dada kiri. Pria itu bahkan harus dituntun oleh dua orang staf di kampus hindu tersebut.

Dia kemudian masuk dalam sebuah ruangan, melakukan sidang ujian proposal skripsi di hadapan dua dosen pembimbing lain yang usianya jauh lebih muda. Barangkali seusia dengan cucunya.

Momen itu merupakan penggalan perjalanan I Made Tawa, 80, mahasiswa di STAHN Mpu Kuturan. Dia usianya yang sudah senja, Tawa tetap berusaha menuntaskan ujian proposal skripsi. Momen itu direkam oleh I Nyoman Buda Asmara, salah seorang dosen di STAHN Mpu Kuturan dan diunggah ke media sosial Tiktok.

Tawa lahir pada tahun 1944 silam. Pria yang mukim di Kelurahan Penarukan, Kecamatan Buleleng itu telah memiliki sepuluh orang anak dan 40 orang cucu. Meski sudah lanjut usia, semangatnya meraih ilmu tidak bisa dipandang sebelah mata.

Pada tahun 2019, dia memutuskan kuliah di Prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan. Selama bertahun-tahun dia dengan tekun mengikuti perkuliahan.

Pada semester awal perkuliahan, dia harus menyesuaikan diri. Perkuliahan yang biasanya dilakukan tatap muka, beralih menjadi daring. Penyebabnya pandemi covid-19 melanda. Dia harus belajar menggunakan berbagai perangkat perkuliahan daring, seperti zoom meeting, google meet, maupun google classroom.

Setelah hampir empat tahun menempuh perkuliahan, Tawa yang merupakan pensiunan PT Telkom itu sebenarnya nyaris menyelesaikan perkuliahannya. Namun pada awal 2023 dia terserang stroke. Sehingga kuliahnya tertunda selama hampir satu semester.

“Bulan Februari saya kena stroke ringan. Karena sakit, terpaksa istirahat dulu. Setelah sembuh dan pulih, saya lanjut kuliah lagi, menggarap proposalnya. Karena memang jengah ingin sarjana,” ujar Tawa saat ditemui di rumahnya, pada Senin (25/9).

Dalam kondisi pemulihan, dia berusaha memasuki ruang ujian di Laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi di Lantai II Gedung Dharma Duta STAHN Mpu Kuturan pada Jumat (22/9) lalu. Dia dibantu beberapa pegawai di kampus untuk sampai ke ruang ujian.

Dalam ujian tersebut, dia mengajukan proposal penelitian berjudul “Analisis Dampak Pelatihan Customer Service dengan Pendekatan Jendela Johari terhadap Kualitas Komunikasi Interpersonal dan Kepuasan Pelanggan di PT Telkom”. Proposal itu dipresentasikan di hadapan dosen penguji Nyoman Widnyani, serta dosen pembimbing Komang Agus Widiantara dan I Nyoman Buda Asmara Putra.

Setelah melakukan presentasi selama 45 menit, nyaris tidak ada kendala berarti. Sehingga para dosen menyetujui proposal itu dilanjutkan pada tahap penelitian. Momen ia menuntaskan ujian proposal itu viral di media sosial.

“Anak-anak saya banyak yang nelpon. Bapak viral, semangat pak. Ya saya jawab, sudah pasti semangat. Malu. Anak-anak bapak kan sudah banyak sarjana. Ada yang sudah S2 malahan,” katanya.

Bahkan, suami dari Ni Ketut Winasih, 75, itu berencana segera menuntaskan pendidikan sarjananya. Ia berharap bisa melanjutkan pendidikan pada Prodi Magister Teologi Hindu pada tahun depan. “Suka saya belajar Agama. Biar ada bekal nanti,” harap Tawa.

Sementara itu, Ketua Program Studi (Kaprodi) Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan, Komang Agus Widiantara mengajak seluruh mahasiswa untuk meniru semangatnya Made Tawa. Menurutnya Made Tawa menjadi mahasiswa yang sangat aktif, meskipun di tengah kondisi sakit.

“Niat belajarnya tinggi. Beliau paling suka mata kuliah public speaking. Kebetulan saya pembimbingnya. Tentu ini momentum untuk memompa semangat yang belum menyelesaikan kewajibannya dalam menyelesaikan ujian skripsinya,” katanya. (*)

Editor : Donny Tabelak
#stroke #gelar sarjana #pt telkom #STAHN Mpu Kuturan #lansia