Pengempon di Pura Agung Pulaki, menggelar tradisi wanara laba. Monyet dan kera di sekitar pura pesta pora buah dan telur. Seperti apa?
EKA PRASETYA, Gerokgak
SEJUMLAH pria berpakaian adat tampak menggotong sebuah meja. Di atas meja itu terdapat bunga gemitir; berbagai jenis buah seperti pisang, apel dan jeruk; sayur mayur berupa jagung dan terong; serta telur mentah.
Meja itu kemudian diletakkan di pelataran Pura Agung Pulaki. Dalam sekejap, puluhan ekor monyet dan kera mendekat. Mereka langsung melompat ke meja tersebut dan berebut berbagai makanan yang di atasnya. Mayoritas memburu telur, makanan favorit monyet dan kera di pura setempat.
Kemarin (29/9) merupakan hari yang istimewa bagi monyet dan kera yang ada di Pura Agung Pulaki serta pura-pura sekitarnya. Pengempon pura menggelar tradisi wanara laba atau memberi makan monyet serta kera.
Tradisi itu digelar setahun sekali, tepatnya saat purnama kapat. Tahun ini, peringatan itu jatuh pada Jumat (29/9) yang bertepatan dengan rahina sukra pon tambir. Pada hari yang sama, pengempon juga menggelar piodalan di Pura Agung Pulaki lan Pesanakan Ida. Piodalan akan berlangsung hingga Jumat (6/10).
Kelian Pengempon Pura Agung Pulaki, Komang Bagiarta mengungkapkan, wanara laba sengaja digelar sebagai bentuk penghormatan kepada monyet serta kera suci yang ada di sekitar pura. Saat ini, populasi primata tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 3.000 ekor.
Dalam wanara laba pengempon akan urunan menyumbangkan hasil bumi berupa sayur mayur,ubi, buah-buahan, serta telur ayam. Bisa dibilang selama wanara laba, kera dan monyet pesta pora makanan. Buah dan sayur melimpah ruah. Selain itu telur ayam juga hanya diberikan setahun sekali. Tak heran bila telur jadi makanan favorit dan paling diserbu, kendati diberikan dalam kondisi mentah.
“Dari pemerintahan juga ikut menyumbang. Dari beberapa hari ini kami banyak sekali menerima sumbangan. Sudah kami simpan di tempat khusus. Nanti kami berikan bertahap selama piodalan ini,” kata Bagiarta.
Menurut Bagiarta pengempon sebenarnya telah mengalokasikan biaya khusus untuk memberi makanan kera serta monyet di pura setempat. Alokasi anggaran yang disiapkan mencapai Rp 25 juta sebulan yang diambil dari punia pemedek pura. Makanan yang diberikan biasanya berupa jagung, ketela, pisang, atau pepaya, yang diberikan tiga kali dalam sehari.
Upaya itu akhirnya membuat monyet di sana menjadi lebih jinak. Bagiarta sendiri memberi nama pada beberapa monyet di sana. Sebut saja Made, Jantuk, dan Gancung. Monyet-monyet itu selalu tahu saat Bagiarta datang dan langsung mendekat.
“Mereka sudah bisa diajak berpose. Turis yang mampir juga senang. Karena saat diberi makan itu tidak lagi berkerumun, tidak berebut. Jadi terasa lebih aman,” ungkap pria yang juga mantan Perbekel Kalisada itu.
Lebih lanjut Bagiarta menceritakan, dirinya sempat berencana melakukan pengendalian populasi pada monyet dan kera di sana. Sebab ia khawatir populasi yang terlalu banyak akan membuat pemedek menjadi tidak nyaman.
Sebelum melakukan upaya populasi, pihaknya memohon petunjuk secara niskala. “Dari petunjuk, Beliau tidak berkenan. Jadi kami biarkan saja populasi ini apa adanya. Sekarang yang kami pikirkan soal penyebaran rabies ini. Bagaimana cara vaksinasinya. Astungkara sih tidak ada monyet yang kena rabies, tapi ini kan harus diantisipasi,” ujarnya. (*)
Editor : Donny Tabelak