Perang Gandu merupakan salah satu tradisi di Desa Adat Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Badung yang masih dilestarikan hingga kini. Perayaannya digelar bertepatan dengan Tumpek Kandang. Seperti apa?
SECARA filosofis, Perang Gandu berdasarkan dari konsep Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi ketika akan menjabarkan alam semesta, serta menciptakan Sang Hyang Rwa Bhineda atau dua yang berbeda.
"Filosofinya itu juga di dalam memohon anugerah karunia Tuhan di dalam kehidupan kita di alam manusia, yang merupakan anugerah dari hasil penciptaan beliau. (Seperti, red) makanan, minuman, udara, dan semua energi alam yang menunjang pertumbuhan manusia," kata Bendesa Adat Tumbak Bayuh, Ida Bagus Gede Widnyana.
Dalam kehidupan manusia, Rwa Bhineda diciptakan sebagai pria dan wanita yang merupakan lambang dari feminim dan maskulin.
Secara histori, Perang Gandu juga bertepatan dengan odalan Balang Tamak karena ketika Ida Sang Hyang Siwa turun ke bumi pertama kali dengan menjelma sebagai manusia adalah sebagai bala utama atau manusia, yaitu rare angon.
"Ketika beliau menguji istri beliau, Ida Dewi Parwati, menjadi rare angon yang menggembala sapi putih. Jadi Tumpek Kandang dan bala utama, di situlah ada Sang Hyang Rare Angon," jelasnya.
Di Palingggih Balang Tamak inilah setiap makhluk hidup yang bisa menunjukkan kesiwaannya di masing-masing atman.
"Jadi dalam hal ini, Tumpek Kandang dan Perang Gandu ini tidak bisa lepas dari keberhasilan atau anugerah beliau dalam pertanian, peternakan, dan di berbagai bidang kehidupan manusia," sambungnya.
Perayaan ini juga menyimbolkan bahwa anugerah yang diberikan sudah berlimpah dengan diluapkan oleh warga Desa Adat Tumbak Bayuh melalui euforia dan kegembiraan.
Peserta Perang Gandu yakni anak-anak hingga remaja yang masih bujang atau masih sukla dan belum menek kelih. Jumlahnya pun tak menentu tiap perayaan.
Seperti halnya pada Tumpek Kandang yang jatuh pada tanggal (21/10), Perang Gandu diikuti oleh siswa kelas 4 SD sampai tingkat kuliah yang belum naik kelih.
"Kita ada tujuh banjar dan untuk kegiatan kali ini, satu sekaa teruna per banjar kita minta pesertanya 10 cowok dan 10 cewek. Yowananya saja sekitar 140 dan anak-anak SD lebih (banyak, red)," paparnya.
Sebelum perang dimulai, rangkaian diawali dengan pujawali odalan. Selanjutnya masyarakat desa pendak tangkil atau datang untuk bersembahyang dengan membawa prani banten dan nunas tirta. Selain ditunas untuk manusia, tirta akan diberikan atau diketisin ke hewan peliharaan.
Hal ini sebagai syukur kepada hewan yang sudah menunjang kehidupan sebagai makanan dan semua nutrisinya. Setelah odalan, pihaknya akan menyiapkan kegiatan Perang Gandu. Ketika sudah perang, Jro Pemangku akan ngastawa tempat berperang.
Sarana yang digunakan untuk perang yakni Gandu yang menyimbolkan windhu atau dua pertemuan yang berbeda ketika bersatu. Dahulu, warga Tumbak Bayuh menggunakan tipat taluh yang berisi nasi.
"Lama-kelamaan, penglingsir atau pendahuulu kita mengefisiensi biar makanan tidak terbuang-buang, karena nasinya itu dulu pernah melewati musim paceklik," kata Widnyana.
Lebih lanjut, Gandu yang digunakan saat ini disiapkan oleh yowana atau pihak desa adat, yang sekaligus menjadi edukasi bagi anak-anak muda. ***