Tragis. Mengenaskan. Hamparan padi di Banjar Pangkung Buluh, Desa Kaliakah, dibabat pemiliknya meskipun tidak terlihat bulir padi. Tanaman pengharapan itu mengering kehabisan air.
TRAGIS memang, Nasib tanaman itu. Hamparan tanaman padi yang sudah dibabat ini digunakan untuk pakan ternak. Cuma jadi pakan ternak saja. Tidak bisa dipanen. Tanaman itu belum membuahkan bulir padi.
Sekitar satu hektare tanaman padi tersebut, merupakan tanaman yang puso , mengering, gabuk, tak berbuah. Atau gagal panen, karena dampak kekeringan pada musim kemarau ini dan dampak dari El Nino, yang membuat cuaca panas menyengat tersebut.
Menurut petani, tanaman padi terpaksa dipotong. Iya, terpaksa. Sangat terpaksa. Meskipun tidak ada padi yang bisa diambil. Hanya bisa dibabat untuk pakan ternak daripada mengering di tempat dan jadi jerami yang sia-sia.
Padahal sebelum dipotong, sejatinya mereka sudah berjuang keras. Mereka sudah berusaha mengalirkan air dan membersihkan gulma pada padi. Tapi sia-sia. Karena panas ekstrem tanaman padi tetap tidak bisa tumbuh selayaknya. Tidak normal.
"Panen rugi, dipotong buat ternak saja,"ujar petani dari Desa Kaliakah ini seakan hanya bisa pasrah terhadap keadaan. Karena untuk mendapatkan air dalam jumlah besar dalam kondisi kemarau ekstrem seperti ini juga mustahil.
Berdasakan data Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana lahan pertanian padi yang kekeringan total 44,5 hektare. Total yang mengalami puso seluas 20,8 hektare, sisanya sudah dipanen oleh petani.
Karena kemarau yang terjadi ini, hasil pertanian menurun. Sehingga dinas terkait menggelar operasi pasar untuk menjaga stok pangan dan menstabilkan harga.
Seperti dilakukan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan Jembrana, di sejunlah desa agar mudah dijangkau warga. [*]
Editor : Hari Puspita