Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mengunjungi Pameran Lontar di Museum Sunda Kecil: Gedong Kirtya Hadirkan Sejumlah Prasi, Tergolong Benda Langka

Eka Prasetya • Rabu, 15 November 2023 | 13:05 WIB

IDE KREATIF:  Pameran prasi di Museum Sunda Kecil. Saat ini Gedong Kirtya hanya mengoleksi tujuh prasi otentik dan dua prasi kreasi.
IDE KREATIF: Pameran prasi di Museum Sunda Kecil. Saat ini Gedong Kirtya hanya mengoleksi tujuh prasi otentik dan dua prasi kreasi.

Museum lontar Gedong Kirtya memamerkan sejumlah prasi. Benda tersebut akan dipamerkan hingga beberapa hari mendatang.

 

LONTAR biasanya identik dengan lembaran daun yang berisi tulisan. Manuskrip itu ada yang ditulis menggunakan aksara Bali, aksara Bali Kuno, maupun aksara Jawa Kuno. Selain yang dituliskan dalam bentuk aksara, ada pula lontar yang digambar. Nah lontar yang bergambar itu yang disebut dengan prasi.

“Sebenarnya kalau saya kalau menjelaskan ke orang awam, apalagi ke yang masih muda-muda itu, saya bilang prasi itu kalau jaman sekarang ya semacam buku komik,” kata Kepala UPT Museum Lontar Gedong Kirtya, Dewa Ayu Putu Susilawati.

Prasi sendiri disebut sebagai barang langka. Dari 2.064 cakep lontar yang menjadi koleksi museum, hanya tujuh cakep lontar yang berbentuk prasi. Ada yang berkisah mengenai Sutasoma, Boma, Tantri Kamandaka, Bagus Umbara, Darma Lelangon, serta Mina.

Baca Juga: Pameran Songline Hadir di Bali, Kisah Penduduk Asli Australia hadir di Bali dalam Pameran Imersif

Selain itu Gedong Kirtya juga mengoleksi dua buah prasi kreasi. Masing-masing lontar Saraswati dan Kedasih. Keduanya dibuat staf di museum lontar.

Pihak museum kemudian memamerkan lontar-lontar tersebut kepada publik. Pameran itu berlangsung di Museum Sunda Kecil, kawasan Pelabuhan Tua Buleleng. Pameran akan berlangsung hingga Minggu (19/11) mendatang.

Susilawati mengatakan, pihaknya sengaja melakukan pameran prasi di Museum Sunda Kecil. “Tujuannya sederhana sih. Supaya orang lebih banyak lagi yang datang. Selain itu biar masyarakat juga tahu, bahwa selain lontar yang manuskrip, ada juga lontar berjenis prasi,” jelasnya.

Baca Juga: Kisah Pemuda dengan Berat Badan 215 Kg di Gianyar: Pasangan Unik, Menikah Usai Pacaran 10 Tahun

Lebih lanjut Susilawati mengatakan, prasi merupakan benda yang langka. Alhasil dalam pameran itu seluruh koleksi milik Gedong Kirtya dipamerkan. Ada pula prasi-prasi kreasi yang dihasilkan mahasiswa program studi Pendidikan Seni Rupa di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Selain itu ada juga dua buah prasi koleksi masyarakat yang berjudul Diah Tantri dan Arjuna Wiwaha.

Saking langkanya prasi, Susilawati menyebut Kirtya hanya mengoleksi tujuh buah cakep prasi. Prasi tertua dibuat pada tahun 1933 silam, yakni prasi Sutasoma.

“Kami di masyarakat juga nggak pernah ketemu prasi. Selama ini setiap kami datang melakukan perawatan lontar di masyarakat, yang ketemu hanya manuskrip. Belum pernah ketemu prasi,” ujarnya.

Baca Juga: Kisah I Made Tawa, Kakek Usia 80 Tahun yang Jalani Ujian Skripsi di Usia Senja, Sempat Terserang Stroke

Disamping itu seniman yang membuat prasi juga semakin langka. Membuat prasi dianggap tidak memberikan dampak ekonomi. Padahal, Susilawati memandang, seniman prasi merupakan profesi langka. Sehingga karya-karyanya pun bernilai.

“Tujuan kami dalam jangka panjang itu ada seniman-seniman prasi di Buleleng. Sebenarnya seniman prasi yang unggul itu ada, tapi belum tereksplorasi dan terekspose. Kami ingin agar seni ini berkesinambungan, tidak hilang,” tegas Susilawati.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, Nyoman Wisandika mengatakan, pada era saat ini hampir semua aspek menggunakan teknologi. Termasuk dalam karya seni juga kini lebih banyak dilakukan secara digital. Sementara kearifan lokal, apalagi prasi, kian ditinggalkan.

Baca Juga: Pertunjukan Tari Kontemporer Berjudul Terdampar, Kisah Romantika Bermuatan Kritik Pencemaran Laut

“Makanya kami memandang itu seni prasi sebagai salah satu media penyampaian pesan harus tetap dijaga dan dipertahankan keberadaannya. Bahkan terhadap banyaknya gempuran teknologi sekalipun,” tegasnya. ***

Editor : M.Ridwan
#lontar #prasi #gedong kertya #pameran #sunda kecil