Pantai Yeh Leh, Desa Pengeragoan, Kecamatan Pekutatan, menjadi rest area yang paling banyak disinggahi pengendara.Terutama yang datang dari arah Denpasar menuju Gilimanuk. Pedagang pun menjamur di pinggir jalan dengan untung rata-rata mencapai ratusan ribu sehari.
ANGIN sepoi Pantai Yeh Leh yang ada di Jalan Denpasar - Gilimanuk, setiap harinya tidak pernah sepi dari pengendara. Biasanya adalah mereka yang istirahat melepas lelah setelah perjalanan panjang.
Bonus pemandangan pantai Yeh Leh, pada siang harinya. Pada sore bisa menikmati senja dari pantai Yeh Leh.
Para pedagang lebih banyak memilih berhenti di pinggir jalan daripada rest area yang disediakan fasilitas parkir. Sebagian besar merupakan pengedar motor yang berhenti istirahat di Pantai Yeh Leh.
Ramainya pengendara yang istirahat, menjadi peluang bisnis bagi warga lokal. Saat ini berjejer pedagang penjual minuman, kopi dan makanan ringan. Pengunjung akan lebih ramai pada saat libur panjang, seperti arus mudik jelang Hari Raya Idul Fitri.
Ramainya pengendara yang istirahat di pinggir jalan, membuat pedagang juga meraup untung tidak sedikit. Salah satu pedagang mengungkapkan, pada hari biasa bisa mendapat keuntungan rata-rata Rp 200 ribu dari penjualan minuman dan makanan ringan dari berjualan pukul 16.00 Wita hingga pukul diatas pukul 01.00 Wita.
"Kalau musim liburan lebih banyak yang istirahat, banyak juga jualan," ujar Ni made Suarniti, 54, warga asal Desa Pengeragoan.
Pendapatan tertinggi pada musim mudik hari Raya Idul Fitri, pendapatan bisa mencapai tiga kali dari hari normal. Sehari berjualan bisa mendapat hasil Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu.
Keuntungan itu, hampir merata didapat oleh sekitar 10 pedagang yang berjualan di Pantai Yeh Leh. " Tapi kalau hujan, jarang yang istirahat. Karena tidak ada tempat berteduh," imbuhnya.
Karena lokasinya tepat di pinggir jalan, risiko yang dihadapi sangat besar. Tidak jarang kendaraan nyaris menabrak lapak dagangan yang hanya meja, payung dan tukar untuk pembeli yang datang. "Takut juga kalau ada yang tiba-tiba nabrak," ungkapnya. [*]
Editor : Hari Puspita