Ayunan tradisional dari kayu di Desa Adat Nusasari, Banjar Nusasakti, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, masih menjadi primadona. Berikut ini keunikan ayunan kayu yang mirip ayunan jantra di Taman Ayun, Mengwi, tersebut.
INI adalah ayunan dari kayu ini selalu ditunggu setiap Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tidak hanya warga sekitar tetapi juga warga dari desa lain datang hanya untuk menaiki ayunan yang sudah menjadi ikon Desa Adat Nusasari.
Ayunan tradisional dari kayu ini, hanya untuk anak-anak. Bisa menampung hingga 8 orang anak secara bergantian sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Sesuai dengan namanya, ayunan tradisional digerakkan tenaga manusia. Sudah ada petugas yang khusus menggerakkan ayunan.
Penanda waktunya, bukan dengan jam melainkan dengan batok kelapa yang disebut Ceng. Dua batok kepala salah satunya berisi air, ketika air habis maka waktunya habis.
Durasi untuk sekali menaiki ayunan 10 kali putaran atau sekitar 5 menit. Tarifnya tidak berubah dari Galungan tahun lalu, tarif Rp 5 ribu.
Ayunan kayu tradisional yang sudah aktif sejak tahun 1960-an ini, disebut juga ayunan bingin. Karena lokasinya lokasinya yang berada di sebelah pohon beringin besar.
Ayunan Bingin ini hanya buka saat hari besar Galungan dan Kuningan. Totalnya 4 hari beroperasi, yakni pada hari Raya Galungan, Manis Galungan dan Hari Raya Kuningan dan Manis Galungan.
Klian Adat Banjar Nusasakti I Komang Dentra mengatakan, ayunan ini dibuat dari kayu besar yang tersisa dari pembukaan lahan pemukiman oleh para pengelingsir desa. Sering waktu, banyak menarik kunjungan hingga banyak yang datang dari luar desa. Daya tarik ayunan ini, sebagai pusat keramaian saat Galungan dan Kuningan hingga saat ini.
Ayunan ini juga menjadi mainan nostalgia. Salah satu yang khas dari ayunan ini bunyi dari gesekan kayu akan membawa pengunjung ke masa lalu, bahkan warga yang dulu masih anak-anak saat ini membawa cucunya bermain ayunan. "Katanya kalau tidak ke sini, tidak afdol rasanya merayakan Galungan," ujarnya.
Ayunan tradisional ini, bukan sekadar mainan anak-anak. Tetapi juga simbol tradisi dan kebersamaan yang terus dilestarikan di tengah modernisasi.
Berawal dari ayunan ini, setiap hari Raya Galungan dan Kuningan, di sekitarnya menjadi pasar rakyat. Puluhan pedagang datang untuk berjualan di sekitar ayunan setiap harinya. [*]
Editor : Hari Puspita