Tak mau terjebak dalam hidangan mainstream Eropa, rumah makan yang satu ini menawarkan konsep baru :menjajakan menu khas Bali. Langsung berhasil? Tidak juga. Mereka bahkan harus merayu bule, mencegatnya di jalan raya untuk sekadar mencicipi. Perlahan kini cita rasa bumbu genap itu diakrabi pelancong mancanegara.
PETA para pelancong Eropa, Australia, itu perlahan namun pasti telah bergeser. Tak hanya melimpah di Kuta, Badung. Tetapi kini Canggu, Kuta Utara, Badung, dan sekitarnya, termasuk Tibubeneng juga sudah berjubel dengan bule yang berseliweran.
Menjamurnya tempat hiburan, restoran, di kawasan Canggu dan sekitarnya sebagai “New Kuta” yang dipadati wisatawan asal Eropa, Australia, Amerika, mau tidak mau menuntut usaha bisnis kuliner untuk lebih kreatif.
Di restoran Kori, yang berlokasi tak jauh dari Pantai Berawa, di Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Badung, inilah cita rasa ala Bali ditawarkan dalam kemasan dan sajian nan berkelas.
“Kalau hanya mengikuti tren, di tengah persaingan yang sangat ketat, kayaknya bakal sulit berkembang,” papar I Ketut Permana, assistant manager yang diminta untuk “memeras otak” membuat branding restoran yang bisa cocok.
Menu standar Bali, macam sate lilit ayam dan ikan, hingga ayam betutu dan makanan khas Bali lainnya ditawarkan. Juga dilengkapi dengan menu untuk vegetarian dan salad.
Tidak serta merta cocok, memang. Sebagian dari mereka hanya sekadar mencoba-coba saja. Tapi, ini hanya soal waktu saja. Berikutnya sebagian dari mereka sudah ada yang ketagihan dengan masakan Bali.
“Kami mencobanya. Dari masakan bumbu rempah hingga minuman arak yang berkadar sampai 50 %,” ungkap I Ketut Permana, eks chef Warung Tresni yang berperan sebagai konseptor.
Tak hanya makanan juga menyediakan minuman khas Bali. Dari minuman ringan hingga minuman beralkohol. Ternyata ini menjadikan sebagian dari mereka penasaran, ingin mencicipi : seperti apa minuman beralkohol tradisional asli Bali.
Nah, khusus soal minuman beralkohol khas Bali, arak bali, tentu punya karakteristik tersendiri. “Apalagi dengan kadar alkohol sampai 50 persen. Kan termasuk langka. Mereka penasaran mencobanya,” terang pria yang berperan sebagai assistant restaurant manager dan piawai meramu kopi luwak ini.
Tidak takut kalau mereka kebanyakan minum dan teler atau bikin kekacauan? “Sejauh ini mereka punya self control yang bagus. Tidak berlebihan saat menikmati di sini,” jelasnya. [*]
Editor : Hari Puspita