Setelah mengakrabi sejumlah menu, biasanya mereka akan menghafalnya. Dan, berikutnya mereka akan datang untuk memesannya lagi dan lagi.
MERAYU bule dan membelokkan lidahnya untuk menyukai masakan Bali bukan perkara mudah. Gampang-gampang susah. Harus gigih juga mempromosikannya.
Sejumlah hidangan yang mulai diakrabi antara lain giant hanging seafood grill atau kuliner seafood panggang. Ini antara lain menyuguhkan udang segar, ikan mahi-mahi, kakap dan lain-lain.
Juga ada ikan cumi yang dihidangkan dengan cara dipanggang terlebih dulu. Lantas dan ditusuk lalu disajikan dengan nasi putih dan sayur urap tradisional Bali.
Dasar konsep yang disajikan tentu bukan ngasal atau asal-asalan saja, tentunya.”Kami mengadakan semacam riset kecil-kecilan terhadap restoran yang ada di Canggu, Tibubeneng.
Kebanyakan yang disuguhkan kan hidangan mainstream ala Eropa, atau hidangan internasional yang mainstream-lah,” tutur pria penyuka music rock n roll ini.
Hal serupa juga ditimpali I Putu Eka Agusyasha, selaku general manager. Bahwa mereka memang punya orientasi branding yang khas : kuliner ala Bali. “Kami memutuskan untuk menguatkan branding kuliner khas Bali,” jelasnya.
“Sebagian mereka ini kan sebetulnya ingin mencoba masakan di daerah yang mereka kunjungi. Masak mereka datang ke Bali mau makan sandwich, spageti, misalnya. Jadi mereka ingin mencoba makanan, minuman Bali juga,” ungkap Ketut.
Bagi yang sudah terbiasa, mereka biasanya ada yang jadi repeaters. Yakni ingin mengukang untuk menikmatinya lagi. Meminta lagi, dan lagi. “Atau mengajak temannya,” jelasnya.
Sejauh ini bagaimana cara memperkenalkan sajian hidangan Bali itu bagi wisatawan asing? Menurut Ketut Permana yang akrab dipanggil Gogong ini, branding mereka diperkenalkan di antara tamu itu dari mulut ke mulut. “Biasanya mereka bercerita kepada temannya yang lainnya,” jelasnya.
Baca Juga: Ciamik! Makanan Bali Olahan Hasil Laut, Taste Tradisional Sajian Kelas Dunia
Biasanya dari mana saja mereka? Menurutnya bermacam-macam. Ada yang dari Rusia, Prancis, Australia, Amerika Serikat. Kebanyakan mereka yang dating berlibur sekeluarga ke Bali. Tapi juga ada juga pasangan muda-mudi.
Dari cerita mulut ke mulut itulah sajian khas mereka semakin dikenal dan diakrabi. Termasuk jus berbahan daun kelor alias Moringa oleifera yang dikenal multi khasiat itu. Dengan begitu, restoran dan bar di kawasan Pantai Berawa, di Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Badung, ini akhirnya diakrabi menu khas Bali-nya.
Tidak takut branding-nya ini akan ditiru atau dicontek tempat lain? “Ah, biasa saja. Rezeki sudah diatur Tuhan. Kami sudah memegang jurus bumbu dan cara memasaknya. Kami sangat paham untuk penyajian kuliner bumbu lengkap Bali,” ungkap pria yang kenyang pengalaman bekerja di kapal pesiar ini. [selesai]
Editor : Hari Puspita