Beda dengan tempat yang lain, Masjid Agung Jami Singaraja ini menyimpan keunikan tersendiri. Tempat ibadah bagi umat Islam yang berada di Jalan Imam Bonjol Nomor 65, Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, ini ada ukiran khas. Ukiran itu karya perajin utusan Puri Buleleng.
SUASANA lain akan terasa bila datang dan melihat langsung ke masjid yang selesai dibangun sekitar tahun 1868 silam itu, akan tampak sebuah ukiran mulai dari pintu gerbang hingga di bangunan masjid.
Itu adalah ukiran kayu yang memiliki cerita tersendiri, meski tak lepas dari sejarah tempat itu.
Humas Masjid Agung Jami’ Singaraja, Muhammad Agil menuturkan bila ukiran kayu yang terdapat pada bagian atas pintu masuk dan di pintu masuk masjid dibuat oleh pengrajin utusan dari Puri Buleleng.
Mengapa? Karena salah satu keluarga Kerajaan Buleleng bernama Anak Agung (A.A.) Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie memeluk agama Islam, dari sebelumnya beragama Hindu. Lebih dari itu, ukiran-ukiran di Masjid Agung Jami’ Singaraja sebagai tanda toleransi saat itu.
Tak hanya membantu dalam membuat ukiran, Raja Buleleng saat itu, A.A. Ngurah Ketut Jelantik Polong juga memerintahkan pemindahan pintu masuk Puri Buleleng untuk dipasang menjadi pintu masuk Masjid Agung Jami’ Singaraja. Sampai saat ini, pintu itu masih terpasang kokoh.
“Pintu gerbang kerajaan yang dipindahkan jadi simbol menyama braya di Buleleng. Sehingga menyatakan kami bagian dari keluarga Puri Buleleng. Ukiran lainnya juga dibuat pengrajin yang didatangkan Puri Buleleng, sedangkan bangunan dibangun oleh umat muslim,” jelas Agil.
Apakah ada keunikan ukiran itu? Agil langsung menunjukkan bila yang unik adalah tidak adanya simbol-simbol manusia maupun hewan dalam ukiran. Karena dalam Islam, kata Agil, tidak boleh menampilkan simbol-simbol itu.
Sehingga, para pengrajin utusan Puri Buleleng mengukir hasil bumi dan tumbuhan. Hal ini pun tidak menjadi masalah bagi umat muslim.
“Ukirannya khas kerajaan, tetapi pakai simbol hasil bumi dan tumbuhan, tidak ada simbol manusia atau binatang,” lanjut Humas Masjid Agung Jami’ Singaraja itu.
Ukiran-ukiran dan pintu dari Puri Buleleng sampai saat ini masih kokoh berdiri. Hanya saja warna catnya yang terkadang berganti. Agil menyebutkan bila pihaknya selalu memperhatikan dan melakukan pengecekan terhadap warisan dari pendahulu mereka itu.
Namun bila kerusakan yang terjadi ternyata sudah mencapai 50 persen atau lebih, maka akan dilakukan reparasi. Sehingga tetap menjaga peninggalan itu tetap aman.
Terakhir direparasi, kata Agil, dilakukan sekitar tahun 2006-2007 lalu.
“Lima tahun sekali harus dicek. Kalau dulu warna cat pintunya hijau sekarang putih, tapi ukirannya tetap. Amanah orang tua harus amankan peninggalan ini, karena jadi simbol persatuan,” katanya. [seri ke- 2-selesai]
Editor : Hari Puspita