Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah Pusaka Ki Barak Panji Sakti, Desa Adat dan Puri Gede Buleleng yang Terjaga Kesakralannya

Francelino Junior • Rabu, 20 Maret 2024 | 03:25 WIB
PENINGGALAN KUNO: Rombongan Desa Adat dan Puri Gede Buleleng saat mendatangi Puri Ageng Blahbatuh untuk melihat pusaka Ki Tunjung Tutur.(francelino junior)
PENINGGALAN KUNO: Rombongan Desa Adat dan Puri Gede Buleleng saat mendatangi Puri Ageng Blahbatuh untuk melihat pusaka Ki Tunjung Tutur.(francelino junior)

Ada yang istimewa saat Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Singaraja ke-420. Di momen ini pihak Desa Adat Buleleng bersama keluarga Puri Gede Buleleng untuk memantau pusaka kuno milik Raja Buleleng, Ki Barak Panji Sakti. Pusaka itu adalah Ki Tunjung Tutur.

INI pusaka bukan sembarang pusaka. Untuk diketahui, Ki Tunjung Tutur merupakan pusaka berbentuk tombak dengan panjang sekitar 1,5 meter dengan diameter 2,5 cm.

Selain itu, gagang kayunya terlihat bolong atau berlubang, sedangkan mata tombak merupakan bentuk kombinasi dari arit dan pisau lurus.

Pertemuan yang terjadi pada Minggu (18/3/2024) di Puri Ageng Blahbatuh Gianyar, merupakan yang pertama kalinya terjadi. Setelah ratusan tahun lamanya pusaka tersebut berada di luar wilayah Buleleng.

Sekilas cerita, pusaka Ki Tunjung Tutur ini merupakan satu dari dua pusaka milik I Gusti Anglurah Panji Sakti, kelak menjadi Ki Barak Panji Sakti, Raja Buleleng pertama. Sedangkan pusaka lainnya bernama Ki Bayu Semang, berupa sebuah keris.

Dua pusaka itu merupakan pemberian dari Raja Dalem Segening, ayah I Gusti Anglurah Panji Sakti, untuk mendampingi perjalanan anaknya itu bersama ibunya, Luh Pasek menuju ke Den Bukit. Selain 40 orang pengawal yang juga ditugaskan ayahnya.

Keris Ki Bayu Semang diketahui berada di Puri Gede Buleleng, sementara tombak Ki Tunjung Tutur berada di Puri Ageng Blahbatuh.

Penglingsir Puri Gede Buleleng, Anak Agung Ngurah Ugrasena mengatakan bila ia belum mengetahui pasti perihal terpisahnya dua pusaka milik pendahulunya itu.

Sehingga kedatangan mereka ke Puri Ageng Blahbatuh untuk mengetahui perihal pusaka Ki Tunjung Tutur.

Sebenarnya, lanjut Ugrasena, Ki Bayu Semang dan Ki Tunjung Tutur pernah ingin disatukan pada masa pemerintahan Raja Anak Agung Putu Jelantik, yang merupakan generasi ke-10 Ki Barak Panji Sakti.

Tetapi dalam perjalanan, rombongan malah diserang hujan dan angin kencang. 

“Saat ingin dipersatukan, ada goncangan besar disertai hujan lebat dan angin yang kencang. Sehingga waktu itu gagal untuk dipersatukan,” katanya pada Senin (18/3/2024).

Meski begitu, keluarga Puri Gede Buleleng dan Desa Adat Buleleng berencana mempertemukan kembali dua pusaka itu, saat puncak perayaan HUT Kota Singaraja ke-420 pada tanggal 30 Maret nanti.

Hal ini sebagai upaya memperkenalkan pusaka milik Raja Buleleng pertama kepada masyarakat Buleleng. Sehingga mereka bisa melihat secara langsung pusaka yang memiliki kesaktian itu.

"Terkait hal itu, kami masih menunggu izin dari Puri Ageng Blahbatuh,” singkat Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna pada Senin (18/3). [*]

 

Editor : Hari Puspita
#buleleng #Pusaka #cagar budaya