Desa Bukit, Kecamatan Karangasem merupakan satu dari sekian contoh kerukunan antara Hindu dan Muslim di Kabupaten Karangasem. Meski berbeda keyakinan, namun hidup berdampingan dengan rasa guyub.
MATAHARI mulai meninggi. Sekitar pukul 09.00 pagi Rabu (27/3) ratusan warga Desa Bukit berkumpul. Masyarakat setempat bersiap menggelar upacara nyegara gunung. Tak hanya masyarakat umat Hindu saja yang melaksanakan kegiatan upacara agama, namun masyarakat umat muslim yang terdiri dari lima banjar di Desa Bukit juga hendak melakukan ziarah makam.
Desa Bukit sendiri merupakan desa yang penduduknya terdiri dari agama Hindu dan Muslim. Kehidupan rukun mereka terjalin sejak beberapa ratus tahun. Dan selalu berdampingan. Baik hubungan dalam hal ekonomi, juga sosial. Semua berjalan baik.
Memiliki tujuan yang sama yakni ke Pantai Ujung, upacara nyegara gunung juga dilakukan bersamaan dengan acara ziarah makam. "Kami datang bersamaan dari Desa Bukit," kata Rakib yang merupakan seorang petugas Linmas.
Saat sampai di Pantai Ujung, saudara Hindu menggelar upacara di masing-masing tempat. Untuk umat Hindu, upacara nyegara gunung digelar di Pura Segara Ujung. Sedangkan warga Desa Bukit yang beragama muslim, menuju makam Datuk Mas Pakel atau Sunan Mumbul yang disakralkan. Letak antara pura dengan makam cukup berdekatan. Hanya sekitar 100 meter saja.
"Kegiatan ini sudah dari dulu. Kami diajarkan leluhur kami untuk selalu rukun dengan saudara hindu," ucapnya.
Masyarakat umat muslim melangsungkan ziarah dengan diiringi rebbana. Selain itu mereka juga membawa gebogan yang berisi aneka buah. Di sana, para tokoh agama muslim Desa Bukit melantunkan doa.
Sementara itu, Perbekel Desa Bukit, I Gusti Ngurah Widnyana yang juga menyempatkan hadir di tengah-tengah ziarah makam mengatakan, acara tersebut sudah berlangsung cukup lama dan digelar setiap tahun.
Biasanya, keduanya beriringan jalan kaki dari Desa Bukit menuju Pantai Ujung. "Tapi karena saudara-saudara kita yang muslim ini tengah puasa, jadi memakai kendaraan," kata Widnyana.
Melalui kegiatan ini, pihaknya ingin menunjukkan, meski berbeda keyakinan, kerukunan dan hubungan baik antar sesama terjalin sangat bagus di Desa Bukit.
"Kami sejak dulu hidup berdampingan, dipersaudarakan oleh leluhur kami. Kami berharap bahwa kegiatan ini bisa dipertahankan dan mempererat persaudaraan kami," tandasnya.
Dia menambahkan, upacara nyegara gunung sendiri untuk memuja Dewa Baruna atau penguasa laut sebagai manifestasi Tuhan.***
Editor : M.Ridwan