Sempat jadi tren sesaat, Platycerium atau simbar yang sempat booming di tahun 2023, kini meredup penjualannya belakangan ini. Analisis penyebabnya pun bermunculan.
DI Bali, anjloknya harga ditengarai ada sebab khusus. Diperkirakan penyebabnya lantaran pencinta simbar mulai banyak yang berangkat ke luar negeri untuk bekerja.
Dampaknya, pembeli simbar lebih dinominasi pencinta pemula dengan kemampuan beli tidak begitu besar.
Kadek Oka, seorang pengusaha tanaman, asal Desa Bumbungan, Kecamatan Banjarangkan, Kamis (28/3/2024) mengungkapkan omzet bisnis simbarnya mulai mengalami penurunan sejak Maret 2024 ini.
Itu karena pencinta simbar dengan daya beli cukup tinggi banyak yang berangkat keluar negeri untuk bekerja. Sehingga pembeli simbar belakangan ini didominasi oleh pecinta pemula dengan daya beli berkisar Rp150 ribu per simbar.
“Sekarang pembelian didominasi anak sekolahan. Biasanya membeli simbar yang harganya berkisar Rp150 ribu. Kalau sebelumnya ada saja yang membeli simbar harga jutaan bahkan puluhan juta rupiah,” katanya.
Kondisi itu membuat dia yang biasanya mendapat omzet berkisar Rp10 juta per hari, kini hanya berkisar Rp 6 juta per hari.
Bahkan sempat hanya mendapat jualan ratusan ribu rupiah. “Satu hari itu pernah tidak dapat jualan sama sekali,” terangnya.
Besar harapannya tren simbar kembali booming seiring kembali pulangnya pencinta simbar dari bekerja di luar negeri. “Sebenarnya ada ketakutan kalau tidak booming kembali seperti nasib bonsai,” jelasnya.
Diungkapkan bahwa simbar dibagi atas dua jenis, yakni simbar hybrid dan simbar SP. Simbar hybrid memiliki ratusan jenis lantaran merupakan persilangan.
Sementara simbar SP terdiri dari 18 jenis. “Simbar (yang disebut-sebut) asli Bali ada satu, yakni simbar menjangan. Tetapi itu masih rancu. Sebab (ternyata) di seluruh Indonesia ada. Biasanya banyak ditemukan di pohon-pohon di Bali. Harganya kisaran Rp35 ribu -Rp1,5 juta,” terangnya.
Simbar yang dia jual banyak di datangkan dari Papua, Gorontalo, Kalimantan, dan Bogor. Selain itu ada pula yang didatangkan dari luar negeri yang biasanya melalui pasar gelap.
Hampir semua jenis simbar dia jual dengan harga yang bervariasi, mulai Rp50 ribu-Rp24 juta pernah dia jual.
Menurutnya simbar merupakan tanaman yang mudah beradaptasi. Apalagi dengan kondisi Indonesia yang hanya memiliki dua cuaca, yakni hujan dan panas. Sehingga untuk merawat simbar tidaklah susah.
Simbar hanya perlu disiram di pagi hari sebab bila terlalu sering disiram akan membusuk. “Kemudian harus diberikan pupuk juga agar tidak tumbuh kerdil. Selain itu hindari terkena sinar matahari langsung,” ujarnya. [*]
Editor : Hari Puspita