Tragedi kebakaran kos-kosan di Gang Taman Sari, Jalan Raya Sesetan, Denpasar Selatan, membawa berita duka bagi keluarga Made Ari Sanjaya. Di rumahnya, sudah tampak warga yang berkumpul untuk membantu persiapan kepulangan jenazah Ari dan istrinya Komang Novi Mertasari serta anak laki-laki mereka.
NAHAS itu telah terjadi. Korban, Ari yang berusia 29 tahun itu diketahui berasal dari Banjar Dinas Kawanan, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Ia merupakan anak kedua pasangan Made Jiwa dan Made Sari.
Untuk menuju ke rumahnya, diperlukan tenaga ekstra karena harus melewati gang sepanjang kurang lebih 100 meter, dilanjutkan dengan melalui jalan setapak beton dengan medan menurun di tengah pematang sawah.
Perbekel Desa Bontihing, I Gede Pawata ditemui Radar Bali sebelum menuju rumah duka, mengaku mendapatkan firasat bahwa sebelum kejadian nahas itu terjadi, meskipun peristiwa itu berada jauh di Bali selatan.
Pawata yang mengaku sebagai teman sekelas Made Jiwa, orang tua korban, mendapatkan mimpi didatangi temannya itu. Padahal Made Jiwa masih hidup.
“Saya mimpi didatangi orang tua korban, saya tidak mengerti maksudnya. Kemudian saya bangun dan melihat ada sekelebat cahaya di kamar mandi,” ceritanya pada Selasa (7/5/2024) siang di Kantor Desa Bontihing.
Usai kejadian di kamar mandi itu, ia mendapatkan telepon dari anggota Polsek Kubutambahan sekitar pukul 01.33 Wita. Tetapi ia memilih tidak mengangkatnya, namun membalas dengan kalimat tanya melalui pesan singkat saja.
Kemudian pada pagi harinya ia diberitahu bila salah satu warganya menjadi korban peristiwa kebakaran di Denpasar.
“Mungkin karena kedekatan saya dengan orang tua korban, sehingga diberikan petunjuk keluarganya meninggal tiga orang, anak, menantu, dan cucunya. Saya sedih sekali, sampai terpaksa tinggalkan rapat untuk tenangkan diri dulu baru kembali lagi,” sambungnya menceritakan.
Pasca menerima informasi meninggalnya Ari bersama istri dan anaknya itu, Pawata bersama Kepala Dusun/Banjar Dinas Kawanan langsung menuju rumah duka. Tetapi ternyata, keluarga juga sudah mengetahui anggota keluarganya menjadi korban musibah.
Karena saat kejadian, orang tua korban sedang berada di Denpasar untuk, berobat. Saat itu, orang tua korban dijaga oleh kakak pertama Ari.
Pawata mengatakan, jenazah keluarga kecil itu diperkirakan tiba pada Selasa (7/5/2024) sore . Meski sebelumnya sempat terkendala biaya ambulans sampai Rp 5 juta, tetapi dengan hasil koordinasi antara perbekel dengan Dinas Sosial Kabupaten Buleleng, akhirnya pemulangan jenazah dapat dibantu oleh Sentra Mahatmiya Bali, Unit Pelaksana Teknis Kementerian Sosial RI.
Hal ini setidaknya membantu keluarga korban yang masuk dalam kategori miskin. Apalagi ayah korban, kata Pawata, penderita tuna rungu.
Katanya, jenazah akan diantar menggunakan dua unit mobil ambulans. Sementara jenazah tidak dijadikan satu, melainkan dipisah-pisah dalam peti berbeda.
“Kalau tidak ada bantuan, kami rencananya bantu lewat dana desa untuk pemulangannya,” tandasnya.
Sementara itu, suasana di rumah korban juga tampak haru. Bahkan keluarga korban tidak kuat menahan kesedihan ketika melihat foto pernikahan Ari dan Novi, serta foto anak laki-laki Ari yang akan berusia 2 tahun pada bulan Juni nanti.
Meski berusaha menyembunyikan kesedihan, tapi suara tangis keluarga tetap terdengar dibalik foto anak Ari.
Mereka tak menyangka keluarga kecil Ari harus meninggal dengan cara tragis pada Senin (6/5/2024) malam.
Adik korban Ari, Nyoman Yogi Mahendra menjelaskan sosok kakaknya itu sebagai tulang punggung keluarga. Meskipun jarang pulang kampung, Ari tetap akrab dengan keluarga maupun tetangganya.
Yogi mengaku sempat tinggal bersama dengan kakak keduanya itu di Denpasar, sebelum Ari menikah dengan Novi pada tahun 2022. Ia juga merasakan perjuangan kakaknya bekerja di kawasan pengalengan ikan di Benoa. Sehingga harus pindah kos-kosan beberapa kali di wilayah Sesetan. Apalagi kakaknya sudah bekerja di Denpasar sejak tamat SMP.
Ia menyebutkan bila kakak iparnya itu juga ikut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan alat-alat rumah tangga secara online.
“Terakhir komunikasi tiga hari lalu, sekadar tanya kabar. Jarang pulang, pulangnya saat hari raya, terakhir saat Lebaran. Waktu pulang tidak ada firasat,” kata Yogi dengan raut sedih.
Jenazah Ari dan istri bersama anaknya, rencananya akan dikubur pada hari Jumat (10/5) di setra desa. Mereka dikuburkan dalam liang terpisah. [*]
Editor : Hari Puspita