Kisah pilu tragedi meninggalnya I Putu Satria Ananta Rustika menyisakan kesedihan mendalam. Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) tersebut meninggal usai dianiaya senior kampusnya akhirnya menjalani prosesi pengabenan.
DUKA itu tak hanya dirasakan keluarga saja. Namun warga juga merasakan kedukaan.
Ribuan warga mengiringi jenazah I Putu Satria Ananta Rustika saat upacara pengabenan yang berlangsung Jumat (10/5/2024).
Prosesi berlangsung di Setra Desa Adat Gunaksa, prosesi tersebut berlangsung penuh haru.
Sebelum menjalani prosesi pengabenan, terlebih dulu dilakukan upacara kedinasan. Yakni serah terima jenazah. Selanjutnya, jenazah terbungkus peti tersebut dibawa menuju Setra.
Sejumlah warga yang mengenal taruna STIP itu merasakan kesedihan. Terutama dari kalangan keluarga, kerabat hingga teman.
Bahkan beberapa warga juga membawa baliho berukuran 4x6 meter bergambar wajah pelaku yakni Tegar Rafi Sanjaya yang merupakan senior dari korban.
Dalam baliho tersebut terselip pesan "Senioritas Bukan Pangkat Untuk Membunuh". "Kami sengaja munculkan wajah pelaku dalam baliho. Agar masyarakat tahu wajah pelaku yang membunuh saudara kami," kata I Kadek Kariasa yang merupakan warga asal Desa Gunaksa.
I Putu Satria sendiri merupakan warga Dusun Bandung, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan. Ia dianiaya seniornya sendiri di kampus STIP Jakarta hingga meninggal dunia, tepat seminggu lalu yakni Jumat (3/5/2024).
Warga berharap pelaku dihukum sesuai perbuatannya. "Kami sangat kehilangan. Kami berharap dihukum sesuai perbuatannya," harapnya.
Seperti diketahui, I Putu Satria Ananta Rustika menjadi korban penganiayaan yang dilakukan seniornya sendiri.
Ia dipukul dengan cara ditinju pada bagian dada sebanyak lima kali oleh pelaku Tegar Rafi Sanjaya. Akibat pemukulan itu, remaja 19 tahun tersebut terkapar hingga meninggal dunia. [*]