Di tangan perempuan asal Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, semuanya berubah yang kemudian mengantarkannya meraih Kalpataru 2024.
APA yang diraihnya memang membanggakan. Komang Anik Sugiani, 34, adalah sosok dosen dan aktivis lingkungan yang meraih penghargaan bergengsi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, yakni Kalpataru.
Ia bersama dengan sembilan orang lainnya berhasil meraih penghargaan tersebut, berdasarkan hasil sidang dewan pertimbangan penghargaan Kalpataru kedua, pada tanggal 15 Mei 2024.
Baca Juga: KN Prapat Agung Mengening Pata Sari Kuta Masuk Nominasi Kalpataru 2019
Keputusan Anik Sugiana mendapatkan penghargaan ini juga termuat dalam Keputusan Menteri LHK No. 574 Tahun 2024 Tentang Penerima Penghargaan Kalpataru Tahun 2024. Ia mendapatkan Kalpataru pada kategori perintis lingkungan.
Dia sebelumnya dianggap melakukan pekerjaan yang tak masuk akal.“Penghargaan ini saya terima, padahal banyak yang menganggap kegigihan saya mengelola sampah ini gila. Namun saya yakin, sampah bisa menjadi berharga," ungkapnya dalam Bincang Komunikasi Dinas Kominfosanti Buleleng pada Selasa (15/7/2024).
Sugiani menuturkan, bila kiprahnya terhadap lingkungan berawal dari tahun 2009. Saat itu, ia yakin bahwa perubahan harus dimulai dan dibawa dari diri sendiri dan keluarga, kemudian disebarkan ke lingkungan sekitar.
Lambat laun, di tahun 2016 ia kemudian membentuk sebuah komunitas untuk memperluas gerakan peduli lingkungannya itu. Ini dilakukan karena Sugiana sadar bahwa kepeduliannya itu tidak bisa dilakukan seorang diri.
Gerakannya ini pun tak padam dan terus berlanjut. Di tahun 2020, Sugiani mendirikan Yayasan Proyek YOTI Bali di Desa Mengening. Yayasan ini, katanya, berfokus pada pengelolaan sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis.
Menariknya, ia memberdayakan anak-anak serta ibu rumah tangga. Ini tentu saja bernilai positif, mengingat secara langsung menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Juga memberikan sumber pendapatan tambahan.
Bersama dengan yayasan yang didirikannya itu, Anik Sugiani dibantu masyarakat yang diberdayakannya itu, berhasil membuat produk seperti sofa dari ecobrick dan bantal dari cacahan plastik. Produk ini pun telah dipasarkan hingga ke luar Bali.
“Gerakan yang saya lakukan juga bekerjasama dengan berbagai komunitas dan pemerintah desa. Programnya grebeg sampah. Sampah yang terkumpul dari rumah dapat ditukarkan dengan sembako atau tanaman,” lanjutnya.
Ia mengatakan bila dalam setahun pihaknya mengelola sampah plastik sebanyak 24,6 ton. Sampah-sampah tersebut lantas dicacah menggunakan mesin.
Oleh karena itu, edukasi lingkungan sejak dini menjadi targetnya saat ini. Hal inilah yang kemudian membuat Anik Sugiani memilih memberdayakan anak-anak, karena mereka adalah generasi penerus.
“Dengan mendidik mereka sejak kecil, kepedulian terhadap lingkungan akan terbangun dan terus berkembang. Kalpataru adalah bonus, tapi yang terpenting adalah keberlanjutan dan konsistensi dalam berkegiatan,” sambungnya lagi. [*]
Editor : Hari Puspita