Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Liku-Liku Kopi Produksi Kelompok Tani Sari Mekar, Buleleng: Tembus Pasar Dunia Setelah Pengembangan 2004

Hari Puspita • Kamis, 18 Juli 2024 | 23:20 WIB
MENDUNIA: Wayan Inwan, Ketua Kelompok Tani Sari Mekar di antara pohon kopi yang dibudidayakan di Dusun Amerta Sari, Desa Pegayaman, Sukasada, Buleleng.( Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng
MENDUNIA: Wayan Inwan, Ketua Kelompok Tani Sari Mekar di antara pohon kopi yang dibudidayakan di Dusun Amerta Sari, Desa Pegayaman, Sukasada, Buleleng.( Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng

Cerita potensi di Bali utara memang tidak ada habisnya. Salah satunya yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sari Mekar, Dusun Amerta Sari, Desa Pegayaman,  Sukasada, Buleleng, dengan kopinya.

UPAYA kerja keras itu telah membuahkan hasil. Di wilayah tersebut, perkebunan kopi berada di lahan seluas 100 hektare. Per hektare-nya tertanam 1.800 pohon kopi yang tumbuh subur. 

Wayan Inwan, Ketua Kelompok Tani Sari Mekar menjelaskan bila pohon kopi tidak hanya sekedar tanaman yang menghasilkan kopi, melainkan memberikan penghidupan bagi para petani dan keluarganya. 

Di dalam kelompok tersebut, tercatat ada 50 KK yang membudidayakan tanaman kopi di wilayah perbukitan tersebut.

Sementara Inwan, mengelola pohon kopi yang tertanam di lahan seluas 7 hektare. 1,5 hektare emilik sendiri sedangkan 5 hektar lagi merupakan lahan garapan.

“Ini warisan nenek moyang kami, sudah sejak dulu menanam kopi lokal. Kami meneruskan,” ujarnya Inwan pada Rabu (17/7/2024).


Ia mengungkapkan bila budidaya kopi di wilayah Pegayaman sudah dilakukan sejak tahun 2004 silam. Dalam peremajaan kebun kopi itu, Inwan memperkenalkan berbagai varietas seperti sigararutang, S796, kopi kopyor, dan kopi yellow. Bahkan ada juga kopi Gayo yang dikembangkannya.


Inwan menuturkan, bila cuaca bagus maka dalam 1 hektar akan menghasilkan kurang lebih 8 kuintal kopi basah, jika kering akan menjadi 4 kuintal. Tetapi bila buruk, hasilnya tentu akan berkurang.
Apakah pernah hasilnya kurang? Ketua Kelompok Tani Sari Mekar itu menyebutkan bila di tahun 2020, kopi yang berhasil dipanen per hektarnya hanya 1 kwintal saja.

Meski begitu, ia tetap optimis mengingat bisnis kopi terbilang menjanjikan, apabila dilakukan dengan serius dan perawatan yang tepat pula. Apalagi saat ini, harga kopi semakin membaik yang berdampak pada peningkatan ekonomi petani.

"Harga kopi kering bisa mencapai Rp 85 ribu hingga Rp 120 ribu per kuintal. Ini tergantung pada perawatan organiknya," ungkap Inwan.

Karena budidaya yang menerapkan sistem organik, membuat Kelompok Tani Sari Mekar mendapatkan sertifikat organik dari Control Union di Belanda. 

Selain itu mereka juga mendapatkan sertifikat dari lembaga Rain Forest. Sertifikat internasional tersebut berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan lingkungan dan masyarakat, dengan praktek pertanian ramah lingkungan.

Dengan sertifikat itu juga, Kelompok Tani Sari Mekar wajib mengikuti aturan upah pekerja pemetik kopi, berdasarkan syarat Rain Forest. Kalau tidak, maka sertifikat tersebut akan dicabut.

Kata Inwan, upah para pekerja pemetik kopi sebesar Rp 2.500 per kilogramnya, untuk petik merah. Mereka biasanya bekerja mulai pukul 07.30-13.30 Wita, yang menghasilkan 30-50 kilogram kopi petik merah.

Dengan sertifikat internasional itu, pihaknya pun berhasil menembus pasar ekspor internasional. Kopi organik dari Kelompok Tani Sari Mekar pun berhasil menembus Amerika Serikat, Belanda, dan Perancis. Tentu mereka bekerja sama dengan perusahaan eksportir.

“Kami sering kewalahan menyiapkan kopi untuk diekspor, karena permintaannya yang tinggi. Tahun lalu permintaannya mencapai 30 kontainer, tetapi kami hanya bisa lima kontainer saja. Itu dari petani kami sendiri," jelasnya.

Saat ini Inwan bersama dengan Kelompok Tani Sari Mekar terus berupaya meningkatkan mutu kopi. Seperti memperluas lahan dan menggunakan pupuk organik yang diproduksi dari limbah kopi dan pupuk kandang.
Harapannya, kopi yang mereka hasilkan dapat memenuhi permintaan pasar dunia yang terus bertambah. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#kelompok tani #kopi #buleleng