Pemkab Badung melakukan penataan terhadap tebing Pura Uluwatu, Pecatu, Kuta Selatan. Namun proyek itu terdapat pengerukan tebing di kawasan Pura Uluwatu. Kontan hal ini pun ramai di media sosial (medsos) yang menuai pro dan kontra.
ALAT berat itu mengeruk tebing di kawasan Pura Uluwatu. Terlebih material juga terlihat ada yang jatuh ke laut. Proyek pengerukan tebing itu menjadi perhatian masyarakat dan bahkan menuai pro kontra di medsos. Sebab, proyek ini dinilai tak lazim, padahal untuk penanganan tebing di bawah Pura Uluwatu tetapi areal samping tebing Uluwatu juga ikut dikeruk.
Kepala Dinas PUPR Badung, IB Surya Suamba menegaskan bahwa penanganan tebing retak Pura Uluwatu dimulai beberapa tahap. Diawali pembangunan jalan akses menuju pantai atau jalan inspeksi. Menurutnya diperlukan pembangunan jalan akses menuju pantai di bawah tebing Pura Uluwatu sebagai sarana teknis dan religius. Sarana teknis untuk pemeliharaan tebing uluwatu dan perlindungan pantai. Karena pembuatan jalan inspeksi tersebut diperlukan untuk mobilisasi material proyek penanganan tebing uluwatu.
Sebab tidak ada jalan satupun yang dapat diakses untuk langsung turun melakukan penanganan kondisi bawah tebing yang cekung akibat terkikis abrasi. Apabila menggunakan opsi lain pengiriman material melalui jalur laut maupun udara, hal itu tidak memungkinkan karena akan memakan anggaran lebih banyak dari nilai Rp76 miliar yang sudah ditetapkan.
Jalan ini nantinya akan digunakan untuk membawa bahan ke dasar tebing. Kemudian dilakukan perbaikan dari cekungan yang berada di dasar tebing. Ini sangat diperlukan karena tidak ada akses menuju kesana selain kita harus membuat akses. ”Cara satu-satunya untuk mengamankan kaki tebing dengan membuat jalan yang dilengkapi dengan struktur pemecah gelombang terang,” terang Surya Suamba, Sabtu (7/9).
Kondisi cekungan dibawah tebing Pura Uluwatu memiliki ketinggian 6 meter ke atas dengan kedalaman 10 meter. Kondisi itu nantinya akan diperbaiki dengan metode pengecoran, sehingga kekuatan tebing dari dasar Pura Uluwatu itu bisa aman. Pembuatan akses jalan itu sudah melalui kajian akademik dari Unud maupun tenaga ahli lainnya, dan telah mendapatkan izin dari pengempon pura dan desa adat selaku pemilik lahan.
Metode penanganan keretakan tebing Pura Uluwatu menggunakan beauty kontes. Dari kajian yang dilakukan, diperlukan pembangunan akses jalan menuju ke dasar tebing yang nantinya juga dipergunakan untuk menahan abrasi di sepanjang tebing. Nantinya juga akan dilakukan pembangunan revetment jalan dengan ketinggian 6 meter, untuk melindungi dasar tebing dari deburan ombak sekitar 4 meter. Jalan inspeksi itu kembali disebutkan sangat diperlukan untuk upacara agama melasti ke pura beji yang ada dibawah.
Selama ini akses melasti itu dinilai sangat membahayakan, sehingga pihaknya akan menata jalan itu menjadi lebih bagus dan sangat natural. ” Saat proyek ini masih tahap pembentukkan jalan menuju bawah tebing Pura Uluwatu,” ungkap Surya Suamba yang juga selaku Pj Sekda Badung ini.
Semetara ia akan mengupayakan bekerja dengan melestarikan kondisi pantai setempat. Sebelumnya memang ada kelalaian operator excavator yang tidak bekerja sesuai SOP, dengan membuang material ke laut. Pihak terkait sudah diperingatkan dan diminta tidak mengulang, pihak penyedia juga sudah diberikan surat peringatan.
Selanjutnya diupayakan agar pekerja dapat lebih berhati-hati dan memasang pengaman agar kondisi kealamian pantai terjaga. Jika kembali ditemukan lagi, pihaknya akan langsung berhentikan petugas terkait. ” Soal ada material dibuang ke arah laut, kita sudah peringatkan dengan tegas ke operator alat berat untuk tidak mengulanginya lagi. Kita sudah ingatkan dengan tegas ke penyedia,” tegasnya.
Setelah proyek selesai, jalan inspeksi itu bukan untuk umum dan aktivitas komersial. Melainkan hanya untuk upacara keagamaan, dan juga inspeksi kaitan dengan pemeliharaan dan pengecekan tebing uluwatu.
Akses masuk nantinya akan dipasangi gerbang yang akan dikunci agar steril. Kunci gerbang nantinya akan dipegang oleh pengempon pura. Apabila jalan itu dipergunakan untuk spot prewedding atau foto shoot, hal itu dikembalikan kepada pengemong dan pengempon pura. Tentunya, itu harus ada kajian lingkungan dan rekomendasi Pemkab Badung. ”Ketika kita akan melakukan inspeksi, kita tentu akan minta izin kepada pengempon pura,” pungkasnya. ***
Editor : Made Dwija Putera