Desa Keliki, Gianyar salah satu desa yang mengolah dan mengurangi sampah dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Desa tersebut menjadi percontohan karena sudah dilakukan pemilahan, yang hasilnya menjadi pupuk dan non-organik dijual ke bank sampah. Tidak hanya sampah, energi hijau juga menjadi fokus mewujudkan energi bersih. Seperti apa?
HAMPARAN sawah dan udara sejuk menjadi kelebihan Desa Keliki , Gianyar ketimbang desa tetangganya Ubud yang sudah padat karena banyak didatangi wisatawan. Suasananya tidak berisik, tapi rapi cocok berwisata. Dikarenakan di sawah tersebut juga ada jogging track yang bisa dilewati pengunjung.
Desa bersih ini ternyata karena mengelola sampah yang hasilnya menjadi pupuk organik, diberikan kepada petani setempat. Kendati belum bisa secara keseluruhan mengolah sampah masyarakat setempat, namun TPS3R (TPS3R (Tempat Pengelolaan reuse, reduce dan recycle)) yang baru beroperasi tahun 2022 sudah memberikan dampak baik. Sampah yang dibuang ke TPA berkurang dan bisa memproduksi pupuk sendiri. Dengan memproduksi pupuk sendiri sehingga menghasilkan beras organik.
”Setiap dua minggu sekali kami panen kompos yang diberikan kepada petani,” ungkap Adnyana yang didampingi oleh Ketua Bumdes Desa Keliki Sumada Minggu (8/9) lalu.
Adapun sampah masyarakat yang diterima dari baru 90 kepala keluarga (KK) baru warga Desa Adat Sebali, Desa Dinas Keliki.
Nah, menariknya TPS3R ini mengoperasikan mesin tidak bergantung perusahaan listrik negara (PLN).
Mesin bantuan dari Pertamina program tanggung jawab sosial atau CSR memberikan panel surya.”Untuk pengoperasian mesin cacah. Ada cacah batok kelapa. Sekaligus juga diberikan baterai cadangan,”ungkap Adnyana.
Desa Keliki memiliki program padi organik merupakan program desa bekerjasama dengan balai latihan masyarakat, juga kelompok organik Dewi Sri Keliki, dan Pertamina.
Padi organik merupakan padi yang proses budidayanya terbebas dari pestisida kimia serta panen dan pasca-panennya pun terbebas dari zat kimia. ”Pupuk yang digunakan pupuk kandang, pupuk hijau dan sisa tanaman,” jelas Adnyana.
Baca Juga: Di Karangasem Calon DPRD yang Gagal Menang Beri Isyarat Dukungan ke GP
Lebih lanjut dijelaskan dalam pemilahan ini juga harus detail. Adnyana menyebutkan plastik saja ada 64 jenis. Jenis botol pun sama banyak jenisnya. Sebelumnya diserahkan ke bank sampah harus dipilah sesuai jenisnya.
Mengenai panel surya di TPS3R kekuatanya 10 KWP setara dengan listrik setiap perusahaan. Sementara itu, terpisah panel surya diberikan ke tujuh subak yang ada di Desa Keliki dengan luasnya 500 hektar.
Hasil pantauan koran ini salah satu subak di desa tersebut bernama Subak lauh Batu Desa Keliki, Kecamatan Tegalalang, Gianyar dengan luas 24 hektar. Subak termasuk dalam program Desa Energi Berdikari Pertamina.
Ketut Supartika Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Desa Keliki, panel surya membantu petani untuk menghidupkan pompa air. Sangat membantu pada masa kemarau panjang. Setiap surya panel menghasilkan 2.500 watt.
“Kekeringan biasanya Mei dan September biasanya. Semenjak panel surya ada Pemilihan jenis bisa menghemat,” pungkas Supartika.***
Editor : M.Ridwan