Berada dipuncak kejayaan tak semudah membalikan telapak tangan. Seperti yang dilakukan atlet layar I Wayan Wiranatha Meranggi. Ini kali keempatnya mengikuti PON dan kini berakhir dengan medali emas.
SEJAK berumur 10 tahun, pria asal Denpasar ini sudah belajar untuk menaklukan ombak. Mulai dari belajar surfing hingga kini menjadi atlet layar. Hampir separuh hidupnya, pria yang akrab dipanggil Yan Otot ini berlatih, berlatih dan berlatih di pantai Sanur.
Awal perdana Yan Otot mengikuti PON mewakili Bali pada tahun 2004 di Sumsel. Saat itu, ia meraih perunggu dari cabor layar. Empat tahun kemudian, Yan Otot kembali ikut PON yang digelar di Kaltim. Lagi-lagi ia meraih perunggu.
Baca Juga: Dewa Putu Yadi Raih Emas Cabor Menembak di PON Aceh-Sumut, Begini Perjuangannya
Sempat istirahat di PON Riau, tahun 2016 Yan Otot kembali ikut PON. Namun bedanya, saat itu ia mewakili Papua dan meraih perunggu juga. Kemudian di PON Papua, Yan Otot kembali istirahat dan di PON Aceh-Sumut 2024 ini, ia kembali turun membela Bali.
”Tiang (saya) mau ngetohin gumi Bali (mau berjuang habis-habisan untuk Bali). Tanah kelahiran saya,” ujarnya saat ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta kemarin.
Di cabor layar, kontingen Bali mengikuti tiga kategori. Yan Otot turun di kategori Formula Kite Putra, di mana kategori ini merupakan terbaru dan pertama kali dipertandingkan di PON.
Lawan yang dihadapi dalam laga yang berlangsung di pantai Gampong Jawa, Aceh ini cukup sulit. Di mana atlet Papua Barat berhasil meraih medali perak dan Sulawesi Selatan meraih medali perunggu. ”Mungkin dari skill dan fisik, Bali lebih mumpuni untuk di cabor ini,” ujarnya.
Hal yang juga menjadi motivasi untuk kembali berlaga di PON XXI 2024, ini tak lain karena melihat olahraga kite surfing ini lahir dari Bali. ”Target saya memang membawa olahraga ini ke nasional. Pantasnya saya nggak main, jadi main lagi. Dan cita-cita saya, awal formula kite ini masuk ke PON, biar di nominasi orang Bali,” sebutnya.
Usai meraih medali dalam final yang digelar 12 September 2024 itu, Yan Otot pun berharap olahraga ini bisa memiliki regenerasi di Bali. ”Mungkin nanti di PON NTT-NTB bukan saya lagi yang main atau mungkin anak didik saya yang lain agar tetap formula kite itu atlet dari Bali yang mendominasi,” harapnya. ***
Editor : Made Dwija Putera