Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Liku-Liku Hidup Angri Dianto Kofi, Mantan Buruh Bangunan Asal NTT yang Sempat Frustrasi Nyaris Bunuh Diri, Kini Sukses Bangun Perusahaan

Marsellus Pampur • Selasa, 8 Oktober 2024 | 02:50 WIB
PUNYA PULUHAN KARYAWAN : Angri Dianto Kofi kini mempekerjakan ouluha karyawan muda. (foto: Foto Marsellus Pampur)
PUNYA PULUHAN KARYAWAN : Angri Dianto Kofi kini mempekerjakan ouluha karyawan muda. (foto: Foto Marsellus Pampur)

Ini kisah yang menginspirasi. Seorang mantan buruh bangunan asal NTT, yakni Angri Dianto Kofi, ini memang  layak dijadikan teladan. Pemuda 33 tahun itu kini menjelma menjadi pengusaha sukses berkat kerja kerasnya di Bali.

SOSOK  suami dari Bertalina Samosir itu kini menjadi pemilik dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa seperti travel, interior, legal, kontraktor perizinan, developer hingga kontraktor.

Perusahan bernama PT Kofi Group yang berlokasi di Denpasar itu kini mempekerjakan lebih dari 30 orang karyawan asal NTT dan juga Bali.

Saat ditemui di kantornya, pria kelahiran 1991 asal Kecamatan Takari, NTT itu menceritakan bagaimana awal mula kisah suksesnya itu dimulai.

Sekitar tahun 2012 silam, dia datang dari kampung halamannya ke Denpasar tanpa modal uang yang banyak. Bahkan saat itu, dia tak punya tas hingga harus menaruh pakaiannya menggunakan kantong kresek.

Di Bali, dia melamar kerja di sebuah toko bangunan di bilangan Denpasar. Beberpaa bulan bekerja, dia keluar dan akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai kuli bangunan.

Saat itu kondisi keuangannya memprihatinkan. Gaji yang tak seberapa membuatnya hidup hemat. Dia tak pernah pilih-pilih jenis pekerjaaan.

Meski dasarnya dia merupakan tamatan sekolah menengah atas jurusan perhotelan. ”Sejak SMA di Kupang, saya memang mulai menghidupi diri sendiri. Saya mengerjakan proyek drainase sawah, ojek dan jualan ikan untuk membayar uang sekolah saya sendiri," katanya Minggu (6/10/2024).

Di Bali, selain pernah bekerja sebagai buruh proyek dan tukang panggul di toko bangunan. Kofi  juga pernah menjadi sales alat kesehatan keliling di Denpasar.

Banyak jenis pekerjaan yang dilakoninya, hingga harus tidur beralas kardus di bedeng proyek. Dengan pekerjaan dan pendapatan seadanya, sebelum akhirnya menikahi istrinya Bertalina Samosir.

Sekitar tahun 2013, dia kemudian bekerja di sebuah perusahaan media periklanan di Denpasar. Bekerja selama setahun di perusahaan media periklanan itu, dia mulai banyak membangun relasi.

”Di sana saya bertemu dengan berbagai orang properti. Saya menawarkan mereka berbagai hal. Intinya apa yang mereka butuhkan, pasti saya bilang kalau saya ada," ujarnya.

Di tahun 2014 hingga 2015, dia mulai bekerja sebagai marketing atau Salwa properti.

Di tahun pertama bekerja, dia Dianto berhasil menjual properti pertamanya bernilai di atas Rp1 miliar. Saat itu juga, anak pertamanya lahir.

Namun dia tak punya uang yang cukup untuk menebus biaya rumah sakit. Namun, akhirnya perusahaan memberinya imbalan dari penjualan properti yang dilakukannya.

Dari saat itu, omzet penjualan yang dilakukannya meningkat drastis. Dia bahkan sudah mulai menghasilkan cuan hingga ratusan juta per bulan.

 

Di tahun 2017, saat kesuksesannya mulai berkembang dia sempat berhadapan dengan hukum, dilaporkan ke polisi karena dituding membuat ijin palsu.

 

”Dari sana, saya  mulai belajar legal atau perijinan secara resmi. Ini titik balik syaa membuat perusahaan," ungkapnya. Ujian yang dihadapinya ternyata tak berhenti di situ. Saat sudah mmebuat perusahaan kecil-kecilan, dia malah terbelit utang sekitar Rp750 juta.

 

Akibat utang yang banyak tersebut, pemudua hitam manis ini bahkan dua kali sempat berniat melakukan bunuh diri. ”Karena saat itu, hampir tiap hari ada dept collector cari saya dan istri saya. Hampir mau bunuh diri dua kali pernah. Saya gadai-gadai mobil untuk bayar utang," sambungnya. 

 

Banyak belajar dari kegagalan yang pernah dialaminya, dia mulai bangkit. Di tahun 2020, kondisi finansial perusahaannya mulai stabil.

Berawal dari kantor awal yang hanya menggunakan kos-kosan, dia kemudian pindah ke gedung ruko. Di tahun yang sama, dia juga baru mulai menempuh pendidikan kuliahnya.

 

Hingga sekarang, perusahaan yang dibangunnya berkembang pesat hingga kini mempekerjakan lebih dari 32 orang pekerja. Perusahaan itu juga kini beromset hingga miliaran rupiah ”CSR perusahaan saya ini saya kembalikan ke NTT. Untuk bansos juga saya sebar di Bali," pungkas ayah tiga anak ini. [marsellus pampur/radar bali]

Editor : Hari Puspita
#properti #pengusaha #kisah sukses